Lifestyle / Komunitas
Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:28 WIB
NIK masuk Desil 10 di DTSEN. [bidikan layar/Suar.com]
Baca 10 detik
  • Banyak orang terkejut karena tercatat dalam Desil 10 berdasarkan data resmi pemerintah, padahal penghasilan minim.
  • Desil 10 menunjukkan peringkat kesejahteraan rumah tangga tertinggi secara relatif, bukan sekadar label kekayaan individu.
  • Pemerintah menentukan kelompok desil menggunakan banyak indikator sosial ekonomi keluarga, bukan hanya nominal pendapatan.

Karena itu, seseorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau bahkan sedang menganggur tetap bisa berada dalam Desil 10 apabila kondisi sosial ekonomi rumah tangganya secara keseluruhan menempatkannya pada posisi tersebut.

Artinya, kondisi anggota keluarga lain juga dapat memengaruhi posisi rumah tangga dalam pemeringkatan desil.

Desil Sesuai Pendapatan?

Di media sosial, sering beredar tabel yang mengklaim nominal penghasilan tertentu otomatis masuk Desil 1, Desil 5, atau Desil 10. Informasi semacam ini perlu disikapi dengan hati-hati.

Penentuan peringkat kesejahteraan tidak hanya melihat pendapatan. Berbagai indikator sosial ekonomi dapat diperhitungkan, antara lain kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset dan barang, karakteristik demografi, pendidikan, ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, serta akses terhadap layanan kesehatan.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seseorang pasti masuk Desil 10 hanya karena memiliki penghasilan di atas angka tertentu.

"Terus kok bisa sih berseliweran tabel pendapatan sekian masuk desil sekian. Tidak benar ya, karena penentuan rankingnya itu dari puluhan variabel dengan bobot yang berbeda-beda," imbuhnya.

Kenapa Bisa Satu Desil dengan Konglomerat?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah mengapa masyarakat dengan kondisi ekonomi yang terlihat biasa saja bisa berada dalam desil yang sama dengan orang superkaya.

"Di desil yang sama, ada konglomerat dan ultra-rich dengan penghasilan miliaran hingga triliunan rupiah per bulan. Tapi, ada juga keluarga dgn penghasilan jutaan per bulan," tulisnya.

Kenapa bisa terjadi? jawabannya berkaitan dengan sifat desil sebagai sistem pemeringkatan relatif.

Baca Juga: Geledah Rumah Pemeriksa Pajak, KPK Temukan Emas 1,3 Kg dan Duit Rp100 Juta

Desil tidak dirancang untuk membuat 10 kelompok dengan tingkat pendapatan yang sama rata, melainkan mengurutkan rumah tangga berdasarkan hasil penilaian berbagai indikator kesejahteraan.

Akibatnya, kondisi ekonomi dalam satu desil bisa sangat beragam. Terlebih, jumlah individu dengan kekayaan ekstrem relatif kecil dibandingkan keseluruhan populasi.

Jadi, jika hasil pengecekan menunjukkan desil 10, masyarakat tidak perlu langsung panik atau menganggap dirinya tergolong konglomerat.

Status tersebut menunjukkan posisi relatif rumah tangga dalam pemeringkatan kesejahteraan berdasarkan data terpadu yang digunakan pemerintah.

Load More