Lifestyle / Female
Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:55 WIB
Sumber: Magnific.com

Suara.com - Tren pakaian kini dapat berganti dalam waktu singkat. Model baru terus bermunculan, sementara harga yang relatif murah membuat konsumen semakin mudah membeli pakaian dalam jumlah banyak.

Pola tersebut menjadi bagian dari fast fashion, industri yang mengandalkan produksi pakaian dalam jumlah besar dan pergantian tren yang cepat. Di tengah pola konsumsi itu, sebagian anak muda mulai memilih pakaian bekas atau thrifting.

Goodwill Industries International melalui artikel “Thrift vs. Fast Fashion: Why Gen Z Is Choosing Secondhand” menyebut ketertarikan generasi Z terhadap pakaian secondhand tidak hanya didorong faktor harga.

Pakaian bekas juga memberikan kesempatan bagi konsumen menemukan barang yang lebih unik dan berbeda dari produk yang diproduksi secara massal.

Media sosial turut mendorong popularitas thrifting. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Pinterest digunakan untuk membagikan hasil berburu pakaian bekas, memadukan busana vintage, hingga menunjukkan cara mengubah pakaian lama menjadi gaya baru.

Fast fashion dan limbah tekstil

Pilihan terhadap pakaian bekas juga berkaitan dengan dampak lingkungan dari industri fashion.

Produksi pakaian membutuhkan bahan baku, air, energi, dan berbagai proses manufaktur yang menghasilkan emisi. Ketika pakaian kemudian cepat dibuang karena perubahan tren, siklus tersebut ikut meningkatkan jumlah limbah tekstil.

United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat produksi pakaian meningkat dua kali lipat pada 2000-2015. Dalam periode yang sama, waktu penggunaan pakaian menurun 36%.

Baca Juga: Tak Sekadar Limbah, Pelepah Pisang Ternyata Bisa Diolah Jadi Bioplastik Bikin Daging Lebih Awet

Secara global, sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun.

Dampak industri fashion tidak hanya berupa limbah. UNEP memperkirakan sektor tekstil dan fashion menyumbang sekitar 2%-8% emisi gas rumah kaca global.

Industri tersebut juga membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar sepanjang proses produksi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi produk.

Memperpanjang usia pakaian

Dalam konteks tersebut, pakaian secondhand menjadi salah satu pilihan untuk memperpanjang masa penggunaan produk.

Pakaian yang tidak lagi digunakan pemilik pertama dapat berpindah tangan dan digunakan oleh orang lain, sehingga tidak langsung berakhir sebagai limbah.

UNEP memasukkan pembelian pakaian bekas, memperbaiki pakaian, bertukar pakaian, dan menggunakan kembali pakaian sebagai bagian dari pendekatan ekonomi sirkular.

Bagi generasi Z, thrifting pun berkembang menjadi lebih dari sekadar cara mendapatkan pakaian dengan harga terjangkau. Keunikan barang, gaya personal, serta kesempatan menggunakan kembali produk menjadi bagian dari daya tariknya.

Di tengah cepatnya pergantian tren, membeli pakaian bekas menunjukkan bahwa mengikuti perkembangan fashion tidak selalu harus dilakukan dengan membeli pakaian baru.

Load More