- OORA Skinlabs mencatat masalah pigmentasi sebesar 24 persen berdasarkan konsultasi kepada konsumen sejak Mei 2026.
- Dokter Arlha Aporia Debinta menyatakan bahwa kulit tipe III–V rentan mengalami hiperpigmentasi pasca inflamasi akibat melanin tinggi.
- OORA Skinlabs menerapkan konsultasi Glow Profile untuk mempersonalisasi perawatan estetika sesuai kondisi kulit pasien di Indonesia.
Suara.com - Pigmentasi menjadi salah satu masalah kulit yang cukup sering dikeluhkan, terutama ketika warna kulit terlihat tidak merata, muncul noda gelap, atau bekas jerawat yang sulit memudar.
Berdasarkan konsultasi Glow Profile yang dilakukan OORA Skinlabs terhadap lebih dari 1.000 konsumen sejak beroperasi pada Mei 2026, pigmentasi menjadi salah satu concern terbanyak dengan porsi 24 persen, berada di bawah lingkar mata gelap yang mencapai 25 persen.
Namun, mengatasi pigmentasi tidak selalu berarti semakin tinggi intensitas treatment, semakin cepat pula hasil yang didapat. Kondisi kulit setiap orang berbeda, termasuk responsnya terhadap paparan sinar matahari, energi laser maupun prosedur estetika lainnya.
Hal ini menjadi perhatian terutama pada kulit dengan Fitzpatrick Skin Types III–V yang banyak ditemukan pada pasien di Indonesia. Fitzpatrick Skin Type merupakan sistem yang digunakan untuk menggambarkan respons kulit terhadap paparan sinar ultraviolet.
Pada tipe III–V, kulit cenderung memiliki kadar melanin lebih tinggi dan lebih mudah menggelap setelah terpapar matahari. Melanin memang memiliki fungsi melindungi kulit dari sinar ultraviolet.
Namun, dalam prosedur berbasis laser atau energi, kadar melanin juga perlu diperhitungkan karena kulit dapat lebih rentan mengalami post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), yaitu kondisi ketika kulit menjadi lebih gelap setelah mengalami inflamasi, iritasi, luka, atau tindakan tertentu.
“Fitzpatrick Skin Type bukan klasifikasi mengenai warna kulit yang lebih baik atau lebih buruk. Sistem ini membantu dokter memperkirakan respons kulit dan menentukan pendekatan treatment yang lebih aman,” ujar dr. Arlha Aporia Debinta, Sp.DVE, Dermatologist OORA Skinlabs.
Menurut Arlha, dua orang dengan masalah pigmentasi yang sama belum tentu membutuhkan treatment dengan parameter yang sama. Pengaturan laser, jumlah sesi, kombinasi treatment, hingga aftercare dapat disesuaikan berdasarkan kondisi kulit masing-masing.
“Pada kulit yang lebih rentan mengalami PIH, dokter perlu menggunakan pendekatan yang lebih konservatif,” jelasnya.
Baca Juga: Bye Kulit Kering! 4 Hydrogel Mask Korea Panthenol Kunci Skin Barrier Kuat
Pendekatan konservatif bukan berarti hasil treatment menjadi kurang optimal. Justru, tahapan yang lebih terukur dapat membantu mendapatkan hasil secara bertahap sekaligus mengurangi risiko iritasi, pigmentasi, dan masa pemulihan yang tidak diperlukan.
Konsep personalisasi inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam penerapan perawatan berstandar Korea di Indonesia. OORA Skinlabs mengembangkan konsultasi Glow Profile yang menilai 13 faktor kulit, mulai dari pigmentasi, kelembapan, kerutan, skin barrier, jerawat, pori-pori, sebum, kemerahan hingga suhu kulit.
Hasilnya kemudian dipadukan dengan analisis bentuk wajah, riwayat treatment, serta tujuan personal pasien. Menariknya, hasil konsultasi juga dapat mengubah treatment yang sebelumnya diinginkan konsumen.
Tidak sedikit orang datang dengan membawa nama treatment yang sedang populer di media sosial, tetapi setelah diperiksa, prosedur tersebut belum tentu menjadi pilihan yang paling sesuai.
“Banyak konsumen sudah mengetahui nama treatment yang mereka inginkan, tetapi belum tentu mengetahui apakah kulitnya siap menerima treatment tersebut,” kata Tina Yura Hsu, Founder dan CEO OORA Skinlabs.
Bagi Tina, standar Korea bukan sekadar membawa teknologi atau treatment dari Korea lalu menerapkannya dengan cara yang sama kepada semua orang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil
-
Ingin Setia: Debut Aziz Padurasta yang Meleburkan Reggae, Rock, dan Punk
-
Tren Botox Meningkat, Ini Pentingnya Memastikan Perawatan Dilakukan Sesuai Standar Medis
-
Sadar Kebijakan Tak Bisa Bahagiakan Semua Pihak, Rudy Susmanto Janji Terus Pembenahan di Bogor
-
Judi Online Kamboja Pakai Pulsa Buat Transaksi Rp890 M, 8 Markasnya Digerebek Bareskrim
-
Dasco Bicara Soal Rencana Dwikewarganegaraan Terbatas, Fasilitasi Diaspora Potensial
-
1.584 Personel Pasukan Gabungan Gelar Apel Kebangsaan di Bogor, Ada Apa?
-
Luruskan Pidato Prabowo, Mendikdasmen Jelaskan Soal Bahasa Asing Wajib Sejak SD
-
Fantastis! Tijjani Reijnders Bakal Kantongi Lebih dari Rp1,5 Triliun di Arab Saudi