- Karhutla dan kabut asap kembali menjadi perhatian di Kalimantan Tengah, termasuk terkait kegiatan belajar di sekolah saat kualitas udara buruk.
- Asap karhutla mengandung polutan yang dapat masuk jauh ke paru-paru.
- Anak-anak lebih rentan terhadap dampak kesehatan akibat paparan kabut asap, terutama jika tetap beraktivitas di luar rumah saat udara tercemar.
Bagi anak yang harus berangkat dan pulang sekolah di tengah kondisi udara tercemar, durasi paparan juga perlu diperhatikan.
3. Menyebabkan Sesak Napas
Paparan kabut asap dapat menyebabkan sesak napas dan membuat seseorang merasa kesulitan bernapas. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian lebih bagi anak karena mereka termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang buruk.
Jika anak mulai mengalami kesulitan bernapas setelah terpapar asap, orang tua sebaiknya tidak menganggapnya sebagai keluhan biasa.
4. Memicu Napas Berbunyi
Selain batuk dan sesak, paparan kabut asap juga dapat menyebabkan napas berbunyi atau mengi. Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pada saluran pernapasan dan perlu diperhatikan, terutama jika keluhan muncul berulang atau semakin berat.
5. Meningkatkan Risiko ISPA
Kabut asap dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur juga menyebut paparan kabut asap dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia dan bronkitis.
Karena sistem pertahanan tubuh anak masih berkembang, paparan polutan dalam kondisi udara buruk perlu diminimalkan.
6. Memperburuk Gejala Asma
Anak yang memiliki asma perlu mendapatkan perhatian lebih ketika terjadi kabut asap. Paparan polutan dapat memicu kekambuhan atau memperburuk kondisi asma yang sudah dimiliki sebelumnya.
Karena itu, orang tua sebaiknya memantau kondisi anak dan mengikuti anjuran dokter terkait obat jika anak memiliki penyakit pernapasan.
7. Menurunkan Fungsi Paru untuk Sementara
Menurut dokter spesialis paru RS Premier Jatinegara, dr. Anggie Indari, Sp.P, paparan kabut asap dapat menyebabkan penurunan fungsi paru untuk sementara.
Risiko tersebut dipengaruhi antara lain oleh konsentrasi polutan, lama paparan, aktivitas yang dilakukan, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.
Anak yang melakukan aktivitas fisik di luar ruangan ketika udara tercemar juga perlu mendapat perhatian karena aktivitas tersebut dapat meningkatkan paparan terhadap polutan.
8. Membuat Anak Lebih Mudah Mengalami Gangguan Kesehatan
Anak termasuk salah satu kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kabut asap. Selain anak-anak, kelompok rentan lainnya mencakup lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta orang dengan penyakit jantung atau kondisi kronis tertentu.
Oleh sebab itu, ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, aktivitas anak di luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi udara.
9. Paparan PM2.5 Dapat Masuk Jauh ke Paru-Paru
Salah satu komponen yang perlu diwaspadai dalam kabut asap adalah PM2.5, yaitu partikel dengan diameter maksimal 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut terhirup dan masuk jauh ke dalam paru-paru.
Semakin tinggi konsentrasi PM2.5 dan semakin lama seseorang terpapar, semakin besar pula risiko gangguan kesehatan yang dapat ditimbulkan.
Risiko Meningkat jika Paparan Berlangsung Lama
Dampak kabut asap tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa buruk kualitas udara, tetapi juga berapa lama seseorang terpapar.
Dokter spesialis paru menyebut konsentrasi polutan, durasi paparan, aktivitas saat terpapar, dan kondisi kesehatan sebagai faktor yang memengaruhi tingkat keparahan keluhan.
Artinya, jika anak tetap harus pergi ke sekolah saat kabut asap pekat, durasi berada di luar ruangan dan aktivitas fisik di luar kelas perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, kabut asap karhutla bukan hanya persoalan jarak pandang, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Anak-anak termasuk kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih sehingga kondisi kualitas udara perlu menjadi pertimbangan ketika menentukan aktivitas belajar di luar rumah.
Jika anak terpaksa beraktivitas di luar ketika kualitas udara buruk, dokter menyarankan untuk memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan menggunakan masker atau respirator yang mampu menyaring partikel halus seperti N95 jika memang harus keluar.
Ketika muncul sesak napas, nyeri atau rasa berat di dada, batuk yang semakin parah, mengi, atau gejala serius lainnya, anak perlu segera mendapatkan pertolongan medis.