- Penggunaan jangka panjang krim pencerah ilegal yang mengandung hidrokuinon atau merkuri memicu komplikasi okronosis eksogen.
- Paparan sinar ultraviolet matahari secara berkelanjutan merangsang produksi melanin dan memperparah perubahan warna flek menjadi kebiruan.
- Kerusakan kulit permanen tersebut dapat diatasi melalui penghentian produk pemicu dan perawatan medis oleh dokter spesialis kulit.
Suara.com - Flek hitam biasa hanya berupa bercak cokelat atau kehitaman yang tampak ringan, namun seiring waktu bisa semakin gelap dan bahkan berubah warna menjadi kebiruan atau abu-abu kebiruan. Kondisi ini bisa mengganggu penampilan, sekaligus menandakan masalah kulit yang lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Banyak yang mengira flek hitam hanya disebabkan oleh paparan sinar matahari. Padahal, ada faktor lain yang membuat flek justru semakin memburuk, termasuk penggunaan produk perawatan kulit yang tidak sesuai.
Salah satu komplikasi yang paling ditakuti adalah okronosis, khususnya okronosis eksogen, di mana kulit mengalami pigmentasi biru-kehitaman yang sulit dihilangkan.
Okronosis eksogen terjadi ketika pigmen abnormal menumpuk di lapisan dermis kulit. Berbeda dengan flek hitam biasa yang biasanya berada di epidermis, pigmentasi ini lebih dalam dan cenderung permanen.
Kondisi tersebut sering muncul setelah penggunaan jangka panjang krim pencerah yang mengandung hidrokuinon atau bahan berbahaya lainnya.
Memahami penyebab flek hitam semakin menghitam hingga berubah menjadi kebiruan akibat okronosis sangat penting. Dengan mengetahui pemicunya, kita bisa mencegah kerusakan lebih lanjut dan memilih perawatan yang aman. Berikut penyebab utamanya.
1. Penggunaan Hidrokuinon Jangka Panjang dan Tidak Terkontrol
Hidrokuinon adalah bahan aktif yang sering digunakan untuk mengatasi flek hitam karena mampu menghambat produksi melanin. Namun, pemakaian terus-menerus dalam konsentrasi tinggi (terutama di atas 2–4 persen) atau tanpa pengawasan dokter bisa memicu okronosis eksogen.
Mekanismenya diperkirakan melibatkan penghambatan enzim yang memecah asam homogentisat, sehingga senyawa ini menumpuk dan membentuk pigmen kuning-cokelat yang tampak biru-kehitaman di kulit. Penggunaan lebih dari beberapa bulan hingga bertahun-tahun meningkatkan risiko secara signifikan.
2. Paparan Sinar Matahari yang Berkelanjutan
Sinar ultraviolet (UV) merupakan pemicu utama flek hitam semakin gelap. UV merangsang melanosit memproduksi lebih banyak melanin sebagai perlindungan. Pada orang yang sudah memiliki flek atau sedang menggunakan hidrokuinon, paparan sinar matahari tanpa tabir surya yang memadai dapat memperburuk pigmentasi.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Sunscreen Khusus Kulit Berflek Hitam No Whitecast, Cegah Noda Makin Gelap
Sinar UV juga berperan dalam proses polimerisasi pigmen okronotik, membuat warna menjadi lebih kebiruan dan menyebar di area yang sering terpapar, seperti pipi, dahi, dan hidung.
3. Kandungan Bahan Berbahaya Lain dalam Krim Pemutih
Selain hidrokuinon, bahan seperti merkuri, resorsinol, fenol, dan asam pikrat dalam produk pemutih ilegal atau tidak terdaftar juga bisa memicu okronosis. Merkuri, misalnya, dapat mengganggu enzim tirosinase dan menyebabkan penumpukan pigmen di dermis.
Banyak produk abal-abal di pasaran mengandung campuran bahan-bahan ini dalam dosis tinggi, yang justru membuat flek semakin menghitam dan bertekstur kasar.
4. Faktor Predisposisi Kulit dan Penggunaan Berlebihan
Kulit dengan tipe Fitzpatrick IV–VI (kulit sawo matang hingga gelap) lebih rentan mengalami okronosis. Penerapan krim dalam jumlah besar, di area luas, atau tanpa istirahat juga meningkatkan risiko.
Iritasi kulit, gesekan, atau penggunaan bersamaan dengan steroid topikal yang menipiskan kulit bisa mempercepat proses penggelapan. Riwayat penggunaan krim pemutih berulang tanpa evaluasi dokter menjadi faktor penting.
5. Perubahan Hormon dan Hiperpigmentasi Pascainflamasi
Fluktuasi hormon (kehamilan, kontrasepsi, menopause) dapat memicu atau memperburuk melasma dan flek hitam. Jika digabungkan dengan perawatan yang salah, flek bisa semakin gelap.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Lulus Sekolah Rakyat, Putri Dapat Beasiswa di Universitas Ary Ginanjar
-
Indonesia-AS Perkuat Kerja Sama AI, Meutya Hafid: Kedaulatan Digital Tetap Prioritas
-
Udara Buruk Akibat Karhutla, Sekolah di Kuansing Kembali Belajar dari Rumah
-
Dilirik Aja Dulu, Harga Emas Antam Lagi Meroket Jadi Rp2.625.000/Gram
-
IHSG Berhasil Tembus 6.700 Pagi Ini, Cek Saham ANTM
-
Harga Cabai Rawit Merah Nasional Tembus Rp91.000 per Kg, Naik Hampir Rp8.000
-
Rumus Volume dan Luas Permukaan Limas Segi Empat, Lengkap dengan Contoh Soalnya
-
Blusukan ke Pelosok Sumut, Kepala Unit BRI Ini Temukan Sisi Lain Perjuangan UMKM
-
Kenapa Syahrini Sangat Kaya? OOTD Nonton Konser Tembus Rp37 M Bikin Heboh
-
Kemenhut Tangkap DPO Pemodal Illegal Logging di Kalteng Setelah 3 Bulan Buron