35 Koleksi Multikreasi Lintas Generasi, Wastra Indonesia Tampil dari Kidswear hingga Glamour

Rabu, 23 September 2026 | 16:28 WIB
35 Koleksi Multikreasi Lintas Generasi, Wastra Indonesia Tampil dari Kidswear hingga Glamour (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Kolaborasi DW Exclusive, WOU Batik, dan KelasModelling.ID menampilkan 35 busana bertema Sabagya di Senayan City.
  • Peragaan busana tersebut diselenggarakan pada Minggu malam, 20 September 2026, dalam ajang Fashion Nation.
  • Acara menampilkan wastra untuk berbagai usia dan kebutuhan, mulai dari busana anak hingga pesta.

Suara.com - Panggung Fashion Nation Senayan City 2026 terasa berbeda pada Minggu malam (20/9/2026). Bukan hanya parade busana yang menjadi perhatian, tetapi juga bagaimana wastra Indonesia diterjemahkan menjadi koleksi yang dapat menjangkau berbagai usia dan karakter pemakainya.

Sebanyak 35 koleksi busana multikreasi bertema Sabagya hadir melalui kolaborasi DW Exclusive, WOU Batik, dan KelasModelling.ID. Peragaan tersebut menjadi bagian dari perayaan 20 tahun Fashion Nation Senayan City yang tahun ini mengusung tema The Icon Edit.

Di atas panggung, koleksi bergerak dari busana anak, gaya profesional, modestwear, hingga busana mewah untuk pesta. Para model lintas generasi asuhan KelasModelling.ID turut membuat perjalanan koleksi terasa semakin dinamis, didukung tata cahaya, musik, dan koreografi yang dirancang mengikuti karakter masing-masing sekuens.

Leny Rafael, desainer senior sekaligus konsultan kreatif di balik koleksi tersebut, menjelaskan bahwa Sabagya dipilih sebagai gambaran doa dan harapan agar kolaborasi yang terjalin membawa keberhasilan serta keberkahan.

“Tema Sabagya mengartikan usaha yang membawa kesuksesan dan keberkahan seperti doa maupun harapan kami bersama untuk kolaborasi serta koleksi dari setiap brand,” ujar Leny Rafael.

Menariknya, koleksi ini tidak berhenti pada satu gaya. Palet warna seperti broken white, biru muda, navy, cokelat, hitam, burgundy, hingga hijau safir diterapkan pada berbagai siluet dan kebutuhan busana. Material katun, lace, semi wol, brokat, beludru, hingga batik berpadu dengan garis-garis, polkadot, bordir, renda, dan payet.

Perjalanan dimulai dari Saskara, koleksi WOU Batik Kids yang dikenakan enam model cilik. Dress H-line, rok tutu dengan aplikasi bunga, atasan tanpa lengan berhias renda, hingga setelan blus dan celana menjadi contoh bagaimana batik dibuat lebih playful untuk anak-anak tanpa kehilangan sentuhan stylish.

Bagi Leny, kehadiran WOU Batik Kids memiliki arti tersendiri karena busana berbasis wastra Indonesia untuk anak masih belum banyak dieksplorasi.

“Sepertinya tidak akan habis ide untuk mengembangkan koleksi busana dari wastra Indonesia. Saya ingin wastra Indonesia bisa dipakai di segala suasana dan tentunya diterima oleh semua kalangan,” ungkapnya.

Dari dunia anak, koleksi kemudian bergeser menuju Sekar, yang menawarkan officewear dengan perpaduan batik dan motif stripes. Cropped top berlengan puff, rok batik lipit, blazer, jaket boxy, hingga blus berkerah besar menciptakan tampilan profesional yang lebih modern.

Sementara Kirana membawa batik ke ranah modestwear. Dress panjang, gamis bordir, blus loose, dan celana palazzo hadir dalam warna lembut seperti broken white dan biru muda.

Nuansa kemudian berubah semakin elegan lewat Ananta . Palet hitam dan cokelat digunakan pada celana palazzo maxi-midi, rok A-line bervolume, oversized jacket, serta vest dengan aksen beskap. Sentuhan aksesori etnik kontemporer dari Arnie Mutiara memperkuat karakter luxury koleksi ini.

Sebagai penutup, Prameswari membawa empat pilihan busana cocktail dan pesta. Batik berhias payet, bordir, dress A-line, luaran pas pinggang, hingga modifikasi kebaya untuk hijabers menunjukkan bagaimana wastra dapat tampil glamor tanpa kehilangan identitasnya.

Bagi Leny, eksplorasi tersebut merupakan bagian dari perjalanan 25 tahunnya berkarya di industri mode Indonesia. Berawal dari kebaya dan busana pengantin, ia terus mengembangkan wastra menjadi pakaian siap pakai hingga couture.

“Saya pun ingin wastra Indonesia bisa dipakai di segala suasana dan tentunya diterima oleh semua kalangan,” tuturnya.

Dari anak-anak hingga dewasa, dari pakaian sehari-hari hingga busana pesta, Sabagya akhirnya menjadi gambaran bahwa satu kekayaan budaya dapat terus berkembang mengikuti generasi dan kebutuhan zaman.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com