Sesaji Rewanda di Goa Kreo: Ritual Warga yang Ikut Menjaga Hutan dan Kera Ekor Panjang

Kamis, 24 September 2026 | 16:26 WIB
Tradisi Sesaji Rewanda Goa Kreo di Desa Wisata Kandri, Gunung Pati, Semarang Jawa Tengah, Sabtu (28/3/2025). Sumber: ANTARA FOTO/Makna Zaezar/tom.

Suara.com - Setiap tahun, ratusan kera ekor panjang di Goa Kreo, Kelurahan Kandri, Semarang, mendapatkan "jatah" istimewa berupa gunungan buah-buahan dan hasil bumi yang diarak warga hingga ke mulut gua.

Bukan sekadar tontonan wisata, ritual bermama Sesaji Rewanda ini ternyata menyimpan fungsi tersembunyi sebagai penjaga huta dan satwa liar di kawasan Waduk Jatibarang. 

Riset yang dilakukan oleh Chessa Agni dan Annisa Pia Sekar Ayu, pelajar SMA Negeri 3 Semarang, mengungkap bahwa tradisi ini berakan dari pesan Sunan Kalijaga kepada warga Talun Kacang, Kandri, agar menjaga kera dan kawasan Goa Kreo.

Wujud syukur itu kini diperingati setiap tahun lewat persembahan kepada kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang mendiami gua di tengah waduk tersebut. 

Ritual yang Mengunci Deforestasi

Sesaji Rewanda yang diberikan kepada kera. Sumber: Phinemo.com

Studi literatur yang dilakukan sepanjang Desember 2023 hingga April 2024 itu menemukan, tradisi Sesaji Rewanda secara langsung melarang warga menebang pohon di kawasan gua. Larangan berbasis kepercayaan ini menjadi rem alami terhadap deforestasi, sekaligus menjaga habitat flora dan fauna endemik di sekitar Goa Kreo. 

Bahan-bahan sesaji pun dipilih secara sadar lingkungan. Buah, bunga, dan dedaunan yang digunakan mudah terurai secara alami sehingga tidak mencemari area gua maupun perairan waduk. Ritual ini pun kerap dibarengi kegiatan gotong royong membersihkan kawasan sekitar gua, yang menurut peneliti mempererat solidaritas warga sekaligus menjaga kebersihan lingkungan. 

Fenomena ini sejalan dengan konsep ekologi budaya yang pernah dikemukakan antropolog Roy A. Rappaport pada 1968. Ia menyebut tradisi sebagai cara masyarakat mengatur interaksi dengan lingkungan secara berkelanjutan.

Pandangan senada disampaikan Victor M. Toledo (2001), yang menyebut interaksi antara praktik budaya dan alam sebagai ini dari ekologi budaya, di mana tradisi membantu menjaga keseimbangan ekosistem. 

Meski begitu, penelitian ini juga membeberkan sisi lain yang tak bisa diabaikan. Popularitas Goa Kreo sebagai destinasi wisata sejak diresmikan kawasan waduk pada 2014 justru memunculkan dampak negatif.

Air Waduk Jatibarang tercatat mendapat cemaran dari limbah cair dan sampah plastik yang dibawa pengunjung. Pembangunan fasilitas wisata juga berisiko merusak vegetasi di sekitar gua.

Popularitas kera turut terdampak. Peneliti mencatat adanya perburuan kera untuk cinderamata eksploitasi untuk hiburan, hingga gangguan reproduksi akibat interaksi berlebihan dengan wisatawan. Pada musim kemarau, kera bahkan kerap menjadi lebih agresif karena kekurangan pakan alami, sehingga menjarah dagangan dan permukiman warga sekitar. 

Kendati demikian, para peneliti menilai persoalan ini bukan alasan untuk meninggalkan tradisi, melainkan justru momentum memperkuatnya sebagai instrumen edukasi lingkungan. Sesaji Rewanda dinilai efektif menumbuhkan kesadaran ekologis warga karena berpijak pada nilai spiritual yang mengakar kuat, bukan sekadar imbauan formal dari luar.

Temuan ini memperkuat argumen sejumlah ahli konservasi bahwa pendekatan berbasis budaya lebih tahan lama dibanding kebijakan top-down semata. Fikret Berkes dan koleganya (2000) pernah menegaskan bahwa pengetahuan ekologi tradisional yang dimiliki komunitas kerap menjadi dasar dari praktik pelestarian yang efektif.

Bagi warga Kandri, Sesaji Rewanda mungkin sekadar ritual tahunan yang diwariskan leluhur. Namun di balik gunungan buah dan doa yang dipanjatkan di depan mulut gua, tersimpan strategi konservasi yang telah teruji bertahan lintas generasi — sesuatu yang kini coba dipelajari ulang oleh dunia akademik sebagai jalan keluar krisis lingkungan yang lebih membumi.

Penulis: Inesia Dian

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com