- Media Iran menyatakan ledakan hari Sabtu di selatan berkaitan dengan aktivitas militer domestik, bukan serangan Amerika Serikat.
- Tiga kapal mengalami kerusakan dan kebakaran di Selat Hormuz akibat menabrak ranjau di jalur pelayaran tersebut.
- Qatar berperan sebagai mediator dan menyatakan komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berjalan.
Suara.com - Media resmi Iran mengindikasikan bahwa serangkaian ledakan yang terdengar di wilayah selatan negara tersebut pada Sabtu malam berkaitan dengan aktivitas militer domestik, bukan akibat serangan udara Amerika Serikat (AS). Di saat yang sama, pihak Teheran maupun Washington mengonfirmasi terjadinya insiden penyerangan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan strategis Selat Hormuz.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa otoritas setempat belum mengonfirmasi adanya serangan rudal asing ke wilayah teritorialnya menyusul suara ledakan di beberapa area, termasuk di sekitar Pulau Qeshm.
Meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan potensi peningkatan intensitas operasi militer pasca-pemilu sela di AS, hingga kini belum ada tanda-tanda pergerakan militer skala besar dari pihak Washington. Iran sendiri sebelumnya telah mengancam akan membalas setiap aksi militer AS dengan menyerang basis kekuatan AS dan Israel di kawasan tersebut.
Kendati demikian, konfrontasi terbatas yang menyasar kapal-kapal komersial di Selat Hormuz terus berlanjut. Kondisi ini memperketat jalur distribusi komoditas energi dan logistik vital bagi perekonomian global.
Aksi Saling Klaim Penyerangan di Jalur Perairan
Otoritas Iran mengindikasikan bahwa ledakan yang terjadi pada Sabtu malam kemungkinan besar bersumber dari latihan atau pergerakan teknis militer Iran di wilayah perairan tersebut, di mana dilaporkan dua kapal mengalami kerusakan akibat menabrak ranjau dan satu kapal lainnya terbakar.
Di pihak lain, pihak militer AS menyatakan bahwa kekuatan udara mereka telah menonaktifkan bagian buritan sebuah kapal komersial di Teluk Oman di luar Selat Hormuz. Langkah tersebut diklaim dilakukan untuk menindak kapal yang dinilai berusaha menerobos blokade perairan yang diterapkan AS sejak April lalu.
Sementara itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker minyak mengalami kebakaran usai menghantam ranjau saat melintas di jalur yang dianggap "tidak berizin" di Selat Hormuz. Kantor berita setengah resmi Fars menambahkan bahwa kapal tanker ketiga juga mengalami ledakan dan terbakar di lokasi berdekatan.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) turut memantau adanya insiden yang melibatkan kapal curah (bulk carrier) serta kekuatan militer di Teluk Oman, sekitar 18 mil laut di timur kota Khor Fakkan, Uni Emirat Arab.
Eskalasi di perairan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya intensitas konflik di wilayah daratan. Pada Minggu, Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa fasilitas administrasi milik Saudi Aramco di Riyadh mengalami kerusakan ringan akibat kejatuhan serpihan material dari rudal Houthi yang dicegat oleh koalisi Arab.
Di tengah memanasnya situasi, Qatar terus berupaya menjalankan peran mediator guna mendorong penyelesaian konflik. Pemerintah Qatar membantah rumor yang menyebutkan bahwa negosiasi antara AS dan Iran telah menemui jalan buntu. Perdana Menteri Qatar menegaskan bahwa kedua belah pihak masih terus berkomunikasi untuk mencapai kesepakatan penanganan konflik.
Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa Teheran telah menyampaikan proposal nuklir terbaru kepada Washington melalui perantara Qatar. Namun, pelaksanaan diskusi lanjutan sangat bergantung pada pemenuhan tujuh poin tuntutan Iran oleh AS, yang mencakup pencabutan sanksi ekonomi, pembukaan akses terhadap aset yang dibekukan, serta ganti rugi perang. Di sisi lain, pemerintah AS tetap bersikeras bahwa isu penghentian program nuklir harus menjadi pembahasan utama dalam dialog awal.
Sebagai bagian dari langkah penekanan ekonomi, militer AS mengumumkan pembentukan satuan tugas (task force) baru untuk memperketat pengawasan jalur perbatasan darat dan Laut Kaspia guna mencegah pengiriman senjata ke Iran. Pihak Garda Revolusi Iran menanggapi skema pengetatan tersebut sebagai langkah diplomasi yang tidak akan efektif membatasi ruang gerak Teheran.