Di Bawah Tol Desari, Kolong Boys Mengajak Anak Muda Berkawan dengan Sampah

Senin, 28 September 2026 | 12:13 WIB
Aktivitas peternakan entok hasil inisiatif komunitas Kolong Boys BSF yang memanfaatkan lahan di bawah Jalan Tol Desari, Krukut, Depok. Sumber: Dok Pribadi/Inesia Dian

Suara.com - Di bawah jalan Tol Depok-Antasari (Desari), lahan kosong yang tersisa dari pembangunan infrastruktur sempat menjadi tempat pembuangan sampah. Sampah rumah tangga menumpuk di antara tanah urukan, membuat ruang di bawah jalan tol itu semakin tidak terurus.

Kini, pemandangan tersebut mulai berubah. Sejumlah anak muda yang menamakan diri Kolong Boys memanfaatkan ruang itu untuk mengolah sampah organik menggunakan larva lalat black soldier fly (BSF), atau yang lebih dikenal sebagai maggot.

Sampah makanan dari rumah tangga dikumpulkan, dipilah, lalu diberikan kepada maggot. Dalam prosesnya, limbah yang sebelumnya berakhir di tumpukan sampah itu berubah menjadi pakan ternak dan sisa organik yang dapat dimanfaatkan kembali.

Bermula dari Nongkrong, Berujung Jadi Gerakan

Firdaus, salah seorang pengelola dari komunitas Kolong Boys BSF, sedang memisahkan jenis-jenis maggot dalam proses budidaya di kawasan kolong Jalan Tol Desari, Krukut, Depok. Sumber: Dok Pribadi/Inesia Dian

Semua bermula dari Firdaus dan lima orang temannya. Seperti kebanyakan anak muda, mereka awalnya hanya mencari tempat untuk nongkrong. Kolong Tol Desari menjadi salah satu pilihan.

Namun, semakin sering berkumpul di sana, mereka mulai melihat persoalan yang tak bisa diabaikan. Lahan kosong di bawah tol dipenuhi sampah dan tanah urukan sisa pembangunan.

Dari situ muncul keinginan untuk membuat sesuatu yang bisa mengubah kondisi tersebut.

"Awal mula kolong sih, kita ya dari teman-teman nongkrong aja, terus sampai akhirnya kita dari kegiatan yang menarik," ujar Firdaus, salah satu pengurus Kolong Boys.

Ketertarikan mereka kemudian mengarah pada pengolahan sampah organik menggunakan maggot. Mereka belajar secara otodidak, salah satunya melalui berbagai video di media sosial.

Tak satu pun dari mereka memiliki latar belakang pendidikan peternakan. Pengetahuan itu dibangun sedikit demi sedikit melalui percobaan, mulai dari membudidayakan maggot hingga memahami cara memanfaatkannya untuk mengolah sampah organik.

Sejak akhir 2024, kegiatan tersebut terus mereka kembangkan. Hampir dua tahun berjalan, kolong tol yang sebelumnya dipenuhi sampah perlahan berubah menjadi ruang untuk belajar, bereksperimen, sekaligus mengolah limbah.

Sampah Makanan Menjadi Pakan

Maggot dipilih karena memiliki siklus hidup yang relatif cepat. Dari telur, larva membutuhkan sekitar tiga sampai lima hari untuk menjadi baby maggot. Setelah itu, larva memasuki fase pembesaran selama sekitar 14 hari sebelum berkembang menjadi prapupa dan kemudian pupa.

Sebagian maggot dibiarkan tumbuh menjadi lalat dewasa untuk menjaga keberlanjutan siklus budidaya. Sebagian lainnya dipanen untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Dalam satu pekan, Kolong Boys mengaku dapat mengolah sekitar 40-50 kilogram sampah organik. Sampah tersebut terutama berasal dari rumah tangga di sekitar lokasi. Bagi mereka, sampah dapur warga relatif lebih mudah dikumpulkan karena pasokannya lebih konsisten dibandingkan limbah dari restoran yang lokasinya lebih jauh.

"Kita per minggu tuh bisa 40-50 kilo sih kalau sampah yang kita kelola," kata Firdaus.

Sampah yang datang kemudian dipilah dan diproses sebelum diberikan kepada maggot. Dengan cara itu, sebagian limbah makanan yang sebelumnya berakhir sebagai sampah dapat dialihkan menjadi bagian dari siklus baru.

Namun, maggot belum sepenuhnya menggantikan pakan ternak yang biasa digunakan. Kolong Boys mencampurkannya dengan pakan pabrikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

"Kenapa disebut makanan alternatif, kita juga nggak bisa buat sepenuhnya kasih ini... taruh 60 persen pakan pabrikan, 40 persen magot, lumayan buat mengurangi kos pakan itu," jelas Firdaus.

Tak Selalu Mudah Mengurus Sampah

Bagi Kolong Boys, mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai tidak muda. Pada awal perjalanan, mereka juga harus berhadapan dengan pandangan orang-orang di sekitar.

Aktivitas mereka dianggap tidak lazim, terutama karena yang mereka kerjakan berkaitan langsung dengan sampah.

"Masa malu di awal sih mbak, kayak mainin sampah, anak muda, terus di kampung sendiri gitu," kenang Firdaus.

Keraguan juga muncul ketika mereka mencoba mengajak anak muda lain terlibat. Ada kekhawatiran mengenai keberlanjutan usaha, harga jual, hingga risiko penyakit pada ternak yang dapat meningkat ketika cuaca tidak menentu.

Meski begitu, mereka memilih terus menjalankan kegiatan tersebut. Bagi Kolong Boys, persoalannya bukan hanya bagaimana membuat maggot berkembang, tetapi bagaimana membangun sistem kecil yang bisa terus berjalan dari sampah yang tersedia di sekitar mereka.

Mengubah Fungsi Ruang Sisa

Perjalanan Kolong Boys memperlihatkan kemungkinan lain dari ruang kota yang selama ini kurang diperhatikan. Di Krukut, Depok, kolong tol yang sempat menjadi tempat pembuangan sampah kini dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik.

Kolong Boys berharap kegiatan ini bisa diterapkan di ruang kosong perkotaan lainnya dan mendapat dukungan pemerintah.

"Semoga pemerintahan bisa tergerak ya mas. Karena kalau udah kolaborasi, pemerintahan kayaknya udah enak," ujar Firdaus.

Bagi mereka, kolong tol bukan lagi sekadar ruang sisa, melainkan tempat untuk membuktikan bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari hal sederhana: mengubah sesuatu yang dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Penulis: Inesia Dian

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com