- Guru SMP Nation Star Academy Surabaya, Muhammad Izhar, menerapkan proyek pembuatan bioplastik guna mengatasi pencemaran lingkungan.
- Desi Susanti di SMAN 1 Sendawar menggunakan teknologi AI untuk pembelajaran fisika dengan ketuntasan mencapai seratus persen.
- Mentari Group menganugerahi penghargaan kepada 20 pendidik berprestasi melalui ajang Mentari National Awards for Educators 2026.
Suara.com - Pembelajaran di sekolah tidak selalu harus berlangsung lewat buku teks dan hafalan. Sejumlah pendidik mengembangkan cara belajar yang mengajak siswa bereksperimen, memanfaatkan teknologi, hingga menghasilkan karya yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya dilakukan Muhammad Izhar Mahendra Surya Nugraha, guru SMP Nation Star Academy Surabaya. Dalam pembelajaran IPA, ia mengajak siswa mempelajari persoalan lingkungan melalui proyek pembuatan bioplastik dari material biodegradable.
Melalui pendekatan project-based learning (PjBL), siswa tidak hanya mempelajari konsep pencemaran plastik. Mereka diajak mengenali persoalan, menganalisis dampaknya terhadap lingkungan, mempelajari material biodegradable, kemudian merancang dan membuat prototipe bioplastik.
Siswa juga mengevaluasi hasil karya mereka berdasarkan sejumlah karakteristik, seperti tekstur, fleksibilitas, daya tahan, hingga potensi terurai. Proses tersebut kemudian ditutup dengan refleksi untuk memperkuat pemahaman mengenai keberlanjutan dan perilaku ramah lingkungan.
“Sebagai guru IPA, saya percaya bahwa pembelajaran sains seharusnya tidak hanya berfokus pada menghafal konsep. Siswa perlu mengalami pembelajaran sains secara bermakna dan menerapkan pengetahuan ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata,” ujar Mahendra.
Belajar Fisika dengan Bantuan AI
Inovasi pembelajaran juga dikembangkan Desi Susanti, guru SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Ia mengembangkan model pembelajaran bernama “Detektif Sains” yang mengajak siswa mempelajari fisika melalui aktivitas penyelidikan.
Model tersebut pertama kali dikembangkan pada 2024 dan kemudian diperbarui menjadi “Detektif Sains 2.0” pada 2025. Dalam pengembangannya, Desi memanfaatkan Soundcard Oscilloscope dan chatbot berbasis artificial intelligence (AI).
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses menemukan dan memahami konsep fisika. Penerapannya dilaporkan menghasilkan tingkat ketuntasan materi hingga 100%, sekaligus mendorong keterlibatan siswa, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis.
Inovasi tersebut juga tidak berhenti di ruang kelas. Desi membagikan praktik pembelajarannya melalui lebih dari 76 video di kanal YouTube @ibudesifisika, serta melalui berbagai kegiatan pelatihan dan komunitas guru.
“Praktik baik seharusnya tidak berhenti di satu ruang kelas. Karena itu, saya mencoba membagikan pengalaman tersebut melalui platform digital, pelatihan, dan komunitas guru agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh pendidik lain,” kata Desi.
Dari Menulis Buku hingga Menanam Bambu
Sementara itu, inovasi di bidang pendidikan tidak selalu berkaitan dengan teknologi. Di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Meildy Louisa Kese mengembangkan program literasi yang mendorong siswa menghasilkan karya sekaligus menghubungkannya dengan kegiatan nyata.
Program tersebut berawal dari tantangan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara siswa setelah pandemi. Melalui Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB), kegiatan literasi kemudian berkembang menjadi program tahunan.
Di tingkat SMA Lentera Harapan Labuan Bajo, siswa telah menghasilkan lima buku. Sementara di tingkat SMP, telah terbit empat buku yang berisi puisi, cerpen, esai, dan opini.