Suka Simpan Barang Tak Terpakai? Awas, Ini Bedanya Kolektor dan Penderita Hoarding Disorder

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:29 WIB
Ilustrasi Hoarding Disorder. [magnific]
BACA 10 DETIK
  • Hoarding disorder membuat penderita sulit membuang barang tak terpakai.
  • Pengalaman trauma masa kecil bisa memicu munculnya hoarding disorder.
  • Penderita hoarding disorder memerlukan bantuan profesional psikiater maupun psikolog.

Suara.com - Hoarding Disorder merupakan salah satu gangguan psikologis yang diakui secara medis dan sering kali disalahartikan sebagai sekadar hobi mengoleksi barang.

Penderita gangguan ini mengalami kesulitan kronis untuk membuang atau berpisah dengan benda-benda miliknya, bahkan yang sudah tidak memiliki nilai guna.

Anggapan bahwa suatu benda mungkin masih bisa terpakai di masa depan sering kali menjadi pemicu utama perilaku ini.

Keterikatan emosional yang berlebihan terhadap barang-barang dapat mengganggu kenyamanan hidup dan kesehatan mental seseorang.

Gejala Hoarding Disorder

Dikutip dari NHS, gejala ini dapat berbeda-beda di tiap orang. Gejala utamanya dapat dikenali ketika seseorang terus-menerus mengumpulkan benda hingga ruangan rasanya penuh, sesak dan mengganggu kenyamanan orang-orang di sekitarnya.

Penderita biasanya merasa terikat secara emosional pada setiap benda yang dimilikinya, sehingga merasa sangat sulit untuk membuang barang tersebut meski tidak lagi tahu cara mengelolanya.

Hasrat ini sering kali disertai dorongan kuat untuk terus menambah koleksi baru yang memberikan sensasi kepuasan tersendiri saat berhasil mendapatkannya.

Barang-barang yang mungkin dikumpulkan penderita bisa sangat beragam, hal ini dapat mengakibatkan penderita kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari disebabkan oleh tumpukan barang yang memenuhi ruangan.

Masalah lain juga dapat muncul seperti perselisihan dengan orang terdekat yang merasa risih dan tidak nyaman dengan kehadiran barang-barang yang menumpuk.

Penyebab Hoarding Disorder

Penyebab pasti dari gangguan psikis ini belum diketahui secara pasti, karena belum banyak penelitian yang dilakukan untuk meneliti kondisi ini.

Gangguan ini sempat dianggap sebagai salah satu bentuk Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), tetapi saat ini peneliti mulai menganggap Hoarding Disorder adalah kondisi yang berbeda dengan OCD.

Terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap hoarding disorder.

Pengalaman traumatik di masa kecil, seperti tumbuh dalam kemiskinan, pernah kehilangan benda berharga, hingga mengalami pelecehan sering kali menjadi akar pemicunya.

Selain itu, kecenderungan perfeksionis, isolasi sosial, serta riwayat keluarga dengan perilaku serupa turut memperbesar peluang munculnya gangguan ini.

Dalam banyak kasus, dorongan menimbun barang juga dipicu oleh peristiwa traumatik dalam hidup, seperti rasa duka mendalam akibat kehilangan orang tercinta atau perubahan hidup signifikan yang menimbulkan stres berat.

Pengobatan Untuk Gangguan Hoarding Disorder

Jika kamu atau kerabat terdekatmu mulai menunjukkan tanda-tanda hoarding disorder, ketahuilah bahwa kondisi ini bisa ditangani dan bantuan profesional sangat terbuka lebar.

Pintu pertama yang bisa dituju adalah psikolog klinis atau psikiater di fasilitas kesehatan terdekat. Kamu tidak perlu malu untuk konsultasi di Puskesmas atau rumah sakit umum yang menyediakan layanan kesehatan jiwa.

Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com