Bukan Sekadar Thrifting, Ini Alasan Berburu Barang Vintage Lebih Digemari Gen Z

Selasa, 06 Oktober 2026 | 11:47 WIB
Ilustrasi thrifting (Freepik/marinaghanis98)
BACA 10 DETIK
  • Thrifting barang vintage menjadi solusi gaya hidup hemat dan ramah lingkungan.
  • Aktivitas thrifting barang vintage efektif mengurangi limbah pakaian dan polusi.
  • Gen Z memilih thrifting barang vintage untuk mendapatkan pakaian unik berkualitas.

Suara.com - Pernahkah kamu mendengar istilah nge-thrift? Saat ini kegiatan thrifting menjadi kegiatan yang banyak diminati oleh anak muda, terlebih Gen Z. Terkhusus untuk yang suka berburu barang-barang vintage rasanya berkeliling menyusuri lorong waktu.

Aktivitas ini tidak lagi dipandang sekadar membeli barang bekas dengan harga miring.

Lebih dari itu, para penggemarnya mengejar kualitas dari barang yang diproduksi di masa lalu yang dikenal lebih tahan lama, sekaligus menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

Sebagian kalangan memiliki penafsiran masing-masing terhadap kegiatan ini. Bagi sebagian kalangan, thrifting merupakan trend budaya yang mengesampingkan faktor higienitas.

Namun, kini perilaku thrifting ini justru memiliki penggemarnya tersendiri.

Apa Itu Thrifting?

Thrifting adalah kegiatan membeli barang bekas pakai, dengan catatan bukan berarti kualitas barang yang dijual tidak begitu bagus.

Sebaliknya, barang yang dijual di toko thrift biasanya masih dalam keadaan baik dan berkualitas.

Pakaian merupakan barang thrift paling diminati. Aktivitas thrifting membuktikan bahwa tampil modis tidak harus mahal.

Selain menghasilkan OOTD atau perpaduan gaya yang unik, pembeli berpotensi mendapatkan produk dari merek ternama dengan harga yang jauh lebih murah dari harga asli brand tersebut.

Alasan Thrifting Lebih Diminati Oleh Gen Z

Berikut adalah beberapa dari banyak alasan mengapa thrift lebih baik daripada membeli barang baru seperti dilansir CU Boulder.

1. Lebih Worth It Daripada Membeli Baru

Thrifting dikenal lebih worth it dibandingkan ketika harus membeli pakaian dengan label baru. Di tengah trend fast fashion yang sangat cepat saat ini kegiatan thrifting dianggap lebih hemat di kantong.

Pembeli juga dapat menemukan barang-barang langka yang jarang dijumpai. Bahkan pembeli mungkin saja mendapatkan barang limited edition yang sudah tidak diproduksi.

2. Mengurangi Limbah Pakaian Bekas

Ada berton-ton limbah pakaian yang diproduksi setiap tahunnya. Trend fast fashion berlebihan menimbulkan penumpukan limbah di tempat pembuangan akhir.

Sebagian besar pakaian terbuat dari bahan sintetis, yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai di tempat pembuangan sampah.

Dengan adanya thrift shop, dengan thrifting dapat membantu memperpanjang umur pakaian, dan dapat mengurangi volume pakaian yang dibuang ke tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.

3. Mengurangi Polusi dan Pemborosan Sumberdaya

Kesadaran isu lingkungan yang tinggi di kalangan Generasi Z mendorong lahirnya pergeseran tren berbusana, dari fast fashion menuju sustainable fashion.

Tanpa banyak yang menyadari, proses di balik pembuatan sehelai pakaian sebenarnya menguras sumber daya alam dalam jumlah yang luar biasa besar, terutama air.

For Your Information, produksi satu celana jeans saja diperkirakan membutuhkan hingga 1.800 galon air, mulai dari tahap penyiraman tanaman kapas hingga proses pengolahan tekstil di pabrik.

Di tengah krisis lingkungan saat ini , kita secara langsung memperpanjang siklus hidup sebuah pakaian agar tidak berakhir begitu saja di tempat pembuangan.

Langkah sederhana ini membantu menekan angka permintaan terhadap pakaian baru, yang secara bertahap dapat mengurangi eksploitasi sumber daya alam berlebihan oleh industri fast fashion.

Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com