MBA Bukan Cuma Soal Gelar, Ini yang Makin Dicari Dunia Kerja

Rabu, 07 Oktober 2026 | 13:58 WIB
Dekan BINUS Business School Master Program, Dr. Asnan Furinto. (dok. ist)
BACA 10 DETIK
  • Program MM BINUS Business School meraih peringkat 191-200 dunia dalam QS Global MBA Rankings 2027.
  • BINUS Business School membentuk Industry Advisory Board untuk menghubungkan materi akademik dengan kebutuhan dunia usaha nyata.
  • Pihak institusi memperluas jejaring internasional melalui riset bersama serta kolaborasi dengan berbagai perusahaan dan institusi global.

Suara.com - Memilih program Master of Business Administration (MBA) kini bukan lagi sekadar soal mengejar gelar setelah bertahun-tahun bekerja. Di tengah perubahan teknologi dan model bisnis yang cepat, calon mahasiswa juga perlu melihat seberapa dekat pendidikan yang ditawarkan dengan kebutuhan dunia kerja.

Koneksi dengan industri, kesempatan membangun jejaring, hingga pengalaman menghadapi persoalan bisnis nyata menjadi bagian yang semakin penting dalam pendidikan bisnis.

Hal tersebut menjadi perhatian BINUS Business School (BBS), yang selama enam tahun berturut-turut tercatat sebagai program MBA dengan peringkat tertinggi di Indonesia dalam QS Global MBA Rankings.

Dalam QS Global MBA Rankings 2027, program Magister Manajemen (MM) BINUS Business School berada di peringkat 191-200 dunia dan peringkat 27= di Asia. BBS juga masuk kelompok Top 200 Global dan Top 30 Asia berdasarkan overall score dari lima indikator, yakni Employability, Return on Investment, Thought Leadership, Entrepreneurship & Alumni Outcome, serta Diversity.

Namun, bagi BBS, capaian tersebut bukan sekadar soal posisi di tabel peringkat.

Executive Dean BINUS Business School, Prof. Dezie L. Warganegara, Ph.D., mengatakan pendidikan bisnis perlu terus mengikuti perubahan yang terjadi di dunia usaha agar lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga mampu menghadapi persoalan yang muncul di lapangan.

“Bagi kami, pencapaian ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kualitas pendidikan yang kami bangun dapat terus menjawab perubahan dunia bisnis, memperkuat keterhubungan antara akademik dan industri, serta menghasilkan pemimpin yang mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian dan masyarakat,” ujar Dezie.

Salah satu cara yang dilakukan BBS adalah memperbesar keterlibatan pelaku industri dalam proses pembelajaran. BBS membentuk Industry Advisory Board yang melibatkan delapan pimpinan perusahaan dari berbagai sektor.

Kehadiran mereka diharapkan dapat mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan perusahaan. Dari sini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori bisnis, tetapi juga gambaran mengenai persoalan dan perubahan yang sedang dihadapi dunia usaha.

Dekan BINUS Business School Master Program, Dr. Asnan Furinto, mengatakan peringkat yang diberikan QS memang dapat menjadi salah satu gambaran untuk melihat kualitas sebuah program. Namun, ia menilai ada hal yang lebih penting untuk terus dijaga.

“Ranking memberikan salah satu gambaran mengenai bagaimana sebuah program pendidikan dinilai dari berbagai dimensi. Karena itu, bagi kami yang paling penting adalah terus memastikan kualitas pembelajaran memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia bisnis, lulusan mempunyai daya saing, dan aktivitas akademik yang kami bangun dapat memberikan kontribusi nyata,” kata Asnan.

Menurut dia, relevansi tersebut dibangun melalui sejumlah cara, mulai dari memperkuat hubungan dengan industri, mengembangkan riset, hingga mendorong inovasi dalam proses pembelajaran.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika dunia kerja terus berubah. Perkembangan teknologi, munculnya model bisnis baru, serta perubahan kebutuhan kompetensi membuat pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah perlu terus diperbarui.

Karena itu, pengalaman belajar dalam program MBA juga semakin luas. Selain materi akademik, mahasiswa membutuhkan kesempatan untuk berdiskusi dengan praktisi, membangun jejaring, memahami persoalan bisnis, serta melihat bagaimana perusahaan mengambil keputusan.

BBS juga memperluas jejaring internasional melalui kolaborasi akademik, riset bersama, program pertukaran mahasiswa dan dosen, serta kemitraan dengan institusi dan perusahaan global.

Jejaring tersebut diharapkan memberi mahasiswa pengalaman menghadapi lingkungan bisnis yang tidak lagi terbatas pada pasar domestik.

Pada akhirnya, bagi calon mahasiswa yang mempertimbangkan MBA, peringkat universitas bisa menjadi salah satu pertimbangan. Namun, relevansi kurikulum, koneksi dengan industri, kualitas jejaring alumni, peluang internasional, hingga seberapa jauh program tersebut membantu menghadapi persoalan nyata di dunia kerja juga layak diperhatikan.

Bagi BBS, capaian enam tahun berturut-turut di QS Global MBA Rankings menjadi momentum untuk terus menjaga hal tersebut, sekaligus memperkuat peran pendidikan bisnis dalam menyiapkan talenta yang dibutuhkan dunia usaha.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com