92 Persen Sampah Laut Berakhir di Pantai Indonesia, BRIN Dorong Pencegahan dari Daratan

Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:32 WIB
Kondisi sungai yang dipenuhi oleh sampah. (dok.Pexels/Collab Media)

Suara.com - Sampah yang ada di daratan tanpa disadari lambat laun masuk ke aliran sungai. Bahkan sebagian sampah tersebut bisa mencapai laut dan kemudian menumpuk di kawasan pesisir.

Temuan tersebut diungkapkan melalui penelitian dari seorang Peneliti PR Oseanografi (PRO) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budhi Gunadharma Gautama.

Ia mengaplikasikan pemodelan untuk mengamati pergerakan sampah laut dari daratan hingga wilayah pesisir.

Dari hasil simulasi itu, sebanyak 92 persen aliran sampah berakhir di pantai Indonesia. Akumulasi sampah juga dijumpai dalam skala besar di sejumlah kawasan, terutama di Pulau Jawa dan Bali.

"Jawa ini ternyata terakumulasi di beberapa titik yang tinggi. Di Jakarta ya. Ini titik-titik yang di pantai Indonesia yang banyak sampah-sampah ini terdampar. Bali juga salah satu daerah yang terdampak," kata Budhi dalam forum Oceanology Talks Series IX, Senin (5/10).

Menurutnya, sampah Indonesia justru tetap terkumpul di kandangnya sendiri.

Begitu sampah yang tidak teratasi dengan baik akan masuk ke badan air dan terbawa mengikuti aliran sungai menuju laut.

Hal ini berarti sampah yang terlihat menumpuk di pantai tidak selalu bersumber dari aktivitas yang terjadi di kawasan pesisir. Material tersebut bahkan bisa menempuh perjalanan lebih jauh sebelum akhirnya terdampar di pantai.

Pencegahan Dimulai dari Daratan

Akumulasi sampah yang sangat besar di sejumlah kawasan pesisir turut memperlihatkan betapa pentingnya tindakan preventif dilakukan sebelum sampah itu memasuki perairan.

Meski upaya membersihkan pantai tetap diperlukan, langkah tersebut tidak serta-merta langsung menyelesaikan akar masalahnya.

Menurut Budhi, pengendalian sampah perlu dilakukan sejak dari hulu, yakni di daratan. Pengelolaan sampah yang lebih baik disinyalir dapat membantu menekan jumlah material yang masuk ke sungia dan kemudian terbawa hingga ke laut.

"Pencegahan masalah sampah itu harus memang dimulai dari darat, dan jangan sampai dirilis ke laut," tekannya.

Pendekatan yang dilakukan ini membuat penanganan sampah laut tidak lagi hanya berpusat pada kegiatan bersih-bersih di kawasan pesisir. Pengurangan sampah dari sumbernya juga menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya akumulasi di hilir.

Bahkan pemodelan BRIN dapat membantu memberikan gambarang yang komprehensif mengenai pola pergerakan sampah dan lokasi yang berpotensi mengalami penumpukan sampah.

Informasi-informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk memantau wilayah mana saja yang sekiranya memerlukan perhatian lebih dalam pengelolaan sampah.

Pada dasarnya, perjalanan sampah dari daratan menuju laut memperlihatkan bahwa permasalahan pesisir tidak dapat berdiri sendiri.

Sampah yang menumpuk di pantai merupakan bagian dari persoalan pengelolaan sampah yang terjadi sejak dari daratan dan mengalir sepanjang sungai.

Itulah mengapa menjaga laut dari sampah tidak cukup hanya dengan mengatasinya begitu material sudah tiba di kawasan pesisir.  

Lebih jauh dari itu, upaya pencegahan seharusnya bisa dilakukan lebih awal agar sampah tidak memiliki celah untuk terbawa dari daratan hingga berakhir di pantai.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com