Suara.com - Bagi masyarakat Kalaodi di Tidore, Maluku Utara, hutan tidak hanya dipandang sebagai tempat tumbuhnya pepohonan. Alam turut menjadi sumber penghidupan yang keberlangsungannya perlu dijaga bersama-sama.
Pandangan tersebut tecermin dalam Paca Goya. Tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun itu ternyata mengandung pesan leluhur mengenai hubungan manusia dalam memperlakukan alam.
Tradisi ini tak hanya berkaitan dengan rasa syukur atas hasil kebun. Paca Goya juga memuat nilai-nilai yang mengingatkan masyarakat untuk menjaga lingkungan, terutama hutan dan sumber air.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Iksan Hasim dan Puri Nurdiana Jailan berjudul "Tradition Paca Goya as a Symbol of Nature Conservation for the Tidore Community", Paca Goya dijabarkan sebagai tradisi masyarakat Kalaodi untuk membersihkan tempat-tempat yang diyakini sacral.
Salah satu tempat tersebut adalah Goya, yakni sebuah kawasan hutan di perbukitan yang dianggap mengandung nilai sacral bagi masyarakat setempat.
Paca Goya sebagai Wujud Syukur atas Alam
Jika dilihat secara harfiah, Paca Goya berasal dari bahasa Tidore, yaitu Paca yang berarti membersihkan, sementara Goya yang berarti tempat sakral.
Tradisi ini melibatkan masyarakat dari berbagai generasi. Mereka nantinya bergotong-rooyng membersihkan kawasan yang telah ditentukan sebelum menjalankan rangkaian ritual adat.
Untuk pelaksanaannya biasanya berlangsung pada saat musim panen tahunan, terutama hasil kebun seperti pala dan cengkih. Kedua komoditas tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kalaodi.
Melalui ritual ini, masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari alam.
Mereka bahkan juga menyimpan harapan agar lingkungan tetap subur dan mampu memenuhi kebutuhan hidup generasi berikutnya.
Harapan itu meliputi hasil kebun yang melimpah ruah hingga ketersediaan air bersih. Dengan begitu, kelestarian alam bukan persoalan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kita tahu bahwa kondisi hutan dan lingkungan di sekitarnya turut berkaitan dengan keberlangsungan sumber penghidupan mereka.
Bobeto, Sumpah Adat untuk Menjaga Hutan Tetap Lestari
Salah satu bagian penting dalam ritual Paca Goya adalah Bobeto, yakni sumpah adat yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Kaaodi.
Disebutkan bahwa Bobeto ini dipandang sebagai pedoman yang memengaruhi cara masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk bertani dan mengelola hutan.
Sumpah tersebut berbunyi, "Nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha so jira se ngon".
Ungkapan itu tersirat pesan bahwa siapapun yang merusak alam pada akhirnya akan menerima dampak dari kerusakan tersebut.
Pesan ini juga memposisikan manusia bukan sebagai pihak yang dengan bebas mengeksploitasi lingkungan. Sebaliknya, setiap tindakan terhadap alam memiliki konsekuensi bagi kehidupan bersama.
Nilai Bobeto tecermin dalam larangan memperlakukan hutan secara semena-mena. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak serakah dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Selain itu, kepercayaan terhadap keberadaan penjaga kawasan hutan turut membentuk sikap hati-hati masyarakat dalam memperlakukan lingkungan.
Dalam hal ini, Bobeto tidak berhenti sebagai bagian dari ritual adat saja. Sumpah tersebut juga menjadi pengingat moral mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam.
Kearifan Lokal sebagai Pengingat Lingkungan
Hadirnya Paca Goya ini memperlihatkan bagaiman nilai budaya dapat membentuk cara masyarakat memandang bentang alam.
Pesan pelestarian tidak sekadar disampaikan melalui aturan formal, melainkan juga diwariskan lewat tradisi dan kepercayaan leluhur.
Bagi masyarakat Kalaodi, menjaga lingkungan berkaitan erat dengan keberlanjutan kehidupan mereka sendiri. Mulai dari hutan, kebun, dan sumer air masing-masing memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Demikian, kerusakan lingkungan bukansekadar perubahan pada bentang alam. Dampaknya bahkan berpotensi menganggu sumber penghidupan masyarakat dan ketersediaan sumber daya bagi generasi mendatang.
Perlu ditekankan bahwa keberadaan tradisi adat ini tidak secara otomatis menjamin seluruh risiko kerusakan lingkungan dapat dihindari.
Nilai-nilai yang diwariskan tetap perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan pengelolaan alam yang bertanggung jawab.
Melalui Paca Goya dan Bobeto, masyarakat Kalaodi mewarisi sebuah pengingat bahwa alam bukan hanya untuk dimanfaatkan, melainkan juga perlu dirawat agar tetap lestari.
Sebab, ketika hutan dan sumber air tetap terjaga, kehidupan yang bergantung padanya pun mempunyai kesempatan untuk terus berlangsung.
Penulis: Chairunisa