Suara.com - Sebuah kebun kecil di pekarangan Sekolah Perempuan Suku Anak Dalam (SAD) kini menjadi jawaban atas persoalan yang lama membayangi komunitas Suku Anak Dalam di Dusun Dwi Karya Bakti yakni hutan sebagai sumber obat kian jauh dari rumah.
Dari sekitar lima belas jenis tanaman obat rimba yang dicoba ditanam, tujuh berhasil tumbuh dan dirawat bersama oleh para kader perempuan.
Menurut Ulvi dilansir dalam Estungkara, “hutan selama ini bukan hanya tempat hidup, tetapi juga sumber pengetahuan tentang kesehatan” bagi komunitas SAD.
Pengetahuan itu diwariskan turun-temurun dan tidak tertulis. Perempuan memegang peran kunci, mulai dari merawat anggota keluarga yang sakit, mencari tanaman obat di hutan, hingga meracik ramuan. Mereka belajar dari pengalaman dan cerita para orang tua.
Namun hutan yang berkurang mengubah banyak hal. Bagi sebagian perempuan SAD di dusun tersebut, mencari tanaman obat kini berarti berjalan kaki sekitar tiga kilometer menuju sisa rimba, terutama saat anggota keluarga mengalami sakit ringan seperti sakit perut, sakit kepala, mual, atau demam. Generasi muda pun lebih sering beralih ke obat modern dari puskesmas atau klinik.
Ramuan tradisional bertahan di kalangan orang tua dan anak-anak. Sebagian perempuan masih memilih herbal untuk anak karena menilainya lebih aman dibanding obat kimia yang dosisnya belum sepenuhnya mereka pahami.
Gagasan menanam di pekarangan berawal dari lomba TOGA (Tanaman Obat Keluarga) yang digelar pemerintah dusun lewat kegiatan Posyandu. Para kader perempuan semula hanya ingin berpartisipasi. Dari sana muncul ide yang lebih besar: mencoba menanam tanaman obat rimba di dekat permukiman.
Sebelum memulai, mereka berdiskusi dengan tetua adat dan orang-orang tua yang masih menguasai pengetahuan tanaman obat. Dari pertemuan itu, para kader memetakan jenis tanaman yang lazim dipakai. Para tetua juga menitipkan satu pesan penting: bibit sebaiknya diambil dari hutan bersama tanah yang menempel di akarnya, karena tanah itu diyakini membantu tanaman beradaptasi di tempat baru.
Prosesnya tidak mulus. Tanah permukiman berbeda dengan tanah hutan yang lembap dan kaya bahan organik. Lingkungan yang kini dikelilingi kebun sawit juga membuat tanaman terpapar sinar matahari lebih terbuka, padahal habitat aslinya teduh di bawah rindangnya pepohonan. Para kader menyiasatinya lewat percobaan, misalnya memilih lokasi yang lebih teduh dan menambahkan bahan organik ke tanah.
Hasilnya, tujuh jenis tanaman bertahan di pekarangan Sekolah Perempuan SAD. Di antaranya polai untuk sakit gigi dan penawar gigitan tawon, pelengko pamunson untuk diare, pengendo urat untuk terkilir, tebupungguk untuk sakit telinga, cecerek untuk sakit perut, rusuk untuk pegal-pegal, serta lelendingon yang dipakai dalam ramuan pendukung persalinan. Khasiat tersebut berasal dari pengetahuan tradisional komunitas dan belum diverifikasi secara klinis.
Perubahannya terasa dalam keseharian. Ketika ada anggota keluarga yang sakit ringan, para perempuan tak perlu lagi berjalan jauh ke rimba. Kebun ini juga membantu menekan pengeluaran rumah tangga untuk pengobatan sederhana, karena tanaman bisa langsung diracik saat dibutuhkan.
Kebun tersebut sekaligus menjadi ruang belajar lintas generasi. Di sekitarnya, para perempuan saling berbagi cerita tentang cara meracik obat, waktu pemakaian tiap tanaman, dan pengalaman merawat keluarga yang sakit. Anak-anak serta perempuan muda mulai mengenal kembali nama dan kegunaan tanaman-tanaman itu.
Bagi komunitas, kebun ini lebih dari sekadar deretan tanaman. Ia menjadi cara merawat hubungan antara pengetahuan leluhur dan kehidupan sehari-hari yang terus berubah.
Ketika rimba semakin jauh dan perubahan lingkungan tak selalu bisa dihindari, para perempuan SAD memilih menanam, agar pengetahuan itu tidak ikut hilang. Sebelum memulai, mereka berdiskusi dengan tetua adat dan orang-orang tua yang masih menguasai pengetahuan tanaman obat. Dari pertemuan itu, para kader memetakan jenis tanaman yang lazim dipakai.
Para tetua juga menitipkan satu pesan penting: bibit sebaiknya diambil dari hutan bersama tanah yang menempel di akarnya, karena tanah itu diyakini membantu tanaman beradaptasi di tempat baru.
Penulis: Inesia Dian