Kelelahan Kerja Bisa Ganggu Konsentrasi, Apa Risikonya?

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:48 WIB
Ilustrasi kelelahan kerja (Freepik)
BACA 10 DETIK
  • Kelelahan kerja menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko bahaya pada pekerjaan berisiko tinggi seperti sektor pertambangan.
  • Perusahaan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mengolah informasi kondisi operator sebagai dukungan pemantauan keselamatan kerja.
  • Pengelolaan kelelahan diatur dalam regulasi nasional dan standar internasional ISO 45001:2018 untuk mencegah kecelakaan.

Suara.com - Pernah merasa sulit berkonsentrasi saat bekerja, mudah kehilangan fokus, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas? Kondisi seperti ini bisa dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya kelelahan kerja.

Kelelahan bukan sekadar rasa mengantuk setelah menjalani aktivitas seharian. Dalam situasi tertentu, kondisi fisik dan mental yang menurun juga dapat memengaruhi kewaspadaan, kemampuan mengambil keputusan, hingga respons seseorang terhadap situasi di sekitarnya.

Dampaknya bisa berbeda-beda, bergantung pada kondisi individu dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Namun, ketika pekerjaan membutuhkan konsentrasi tinggi, kelelahan menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Risikonya bahkan bisa lebih besar pada pekerjaan yang melibatkan kendaraan operasional, mesin, atau aktivitas di lingkungan berbahaya. Hilangnya fokus sesaat dapat membuat seseorang terlambat menyadari potensi bahaya atau kurang sigap merespons situasi yang tidak terduga.

Mengapa Kelelahan Kerja Perlu Diwaspadai?

Dalam pekerjaan sehari-hari, kelelahan mungkin terasa seperti persoalan produktivitas. Seseorang bisa lebih lambat menyelesaikan tugas, sulit mempertahankan perhatian, atau lebih mudah melakukan kesalahan.

Namun, dalam industri berisiko tinggi seperti pertambangan, konsekuensinya tidak hanya berkaitan dengan hasil pekerjaan. Konsentrasi dan kewaspadaan juga berperan penting dalam menjaga keselamatan pekerja.

Karena itu, pengelolaan fatigue atau kelelahan menjadi salah satu aspek dalam sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Upayanya bukan sekadar meminta pekerja tetap fokus, tetapi juga mengenali faktor yang memicu kelelahan dan mengelola risiko tersebut secara sistematis.

Perusahaan perlu memastikan prosedur keselamatan diterapkan secara konsisten, termasuk memperhatikan kondisi pekerja sebelum menjalankan tugas yang berisiko.

Bagaimana Teknologi Membantu Mengelola Risiko Kelelahan?

Pengelolaan kelelahan tidak selalu mudah jika hanya mengandalkan pengamatan manual. Perkembangan teknologi pun membuka peluang bagi perusahaan untuk mengolah informasi yang dapat mendukung pemantauan kondisi operator.

Salah satunya melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengelolaan fatigue. Teknologi ini dapat membantu mengolah informasi terkait kondisi operator sebagai bahan pendukung dalam proses pemantauan dan pengambilan keputusan.

Meski demikian, AI bukan pengganti penilaian manusia maupun prosedur keselamatan. Teknologi perlu diterapkan sebagai bagian dari sistem manajemen K3 yang jelas, disertai tindak lanjut yang sesuai ketika risiko teridentifikasi.

Sistem K3 yang Terstruktur Jadi Bagian Penting Pencegahan

Di Indonesia, keselamatan kerja memiliki landasan hukum melalui UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Khusus sektor pertambangan, Permen ESDM No. 26 Tahun 2018 mengatur penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP).

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com