- Hatten Wines di Bali Utara meluncurkan koleksi wine premium bernama Avara dari kebun anggur Sanggalangit.
- Ida Bagus Rai Budarsa mendirikan Hatten Wines pada tahun 1994 untuk membuktikan potensi iklim tropis Bali.
- Berbagai varian Avara berhasil meraih penghargaan internasional di kompetisi seperti China Wine & Spirits Awards.
Suara.com - Bali selama ini dikenal sebagai destinasi dengan pantai, kuliner, dan budaya yang kuat. Namun, ada satu pengalaman rasa yang mungkin belum banyak diketahui wisatawan: menikmati wine yang anggurnya ditanam dan diolah di Pulau Dewata.
Di Bali Utara, tepatnya kawasan Sanggalangit, Hatten Wines mengembangkan kebun anggur yang menjadi bagian dari perjalanan panjang memperkenalkan wine bercita rasa Indonesia.
Dari kebun inilah lahir Avara, koleksi wine premium yang menjadi hasil eksplorasi lebih dari tiga dekade terhadap karakter tanah, iklim, varietas anggur, hingga teknik pembuatan wine di wilayah tropis.
Kisah tersebut bermula pada 1994 ketika Ida Bagus Rai Budarsa mendirikan Hatten Wines. Saat itu, anggapan bahwa iklim tropis tidak cocok untuk menghasilkan wine berkualitas masih begitu kuat. Namun, Hatten justru melihat kondisi Bali sebagai tantangan untuk menemukan cara baru.
“Saat kami memulai Hatten Wines pada 1994, kami ingin membuktikan bahwa Bali bisa membuat wine sendiri. Tiga puluh dua tahun kemudian, ambisi kami melampaui Bali. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu menghasilkan wine dengan identitas, karakter, dan cita rasa daerah asalnya sendiri,” ujar Ida Bagus Rai Budarsa, Pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Hatten Bali Tbk.
Bukan Meniru Wine Eropa, tapi Mengangkat Karakter Bali
Salah satu hal menarik dari wine Bali adalah bagaimana kondisi tropis justru dijadikan bagian dari identitasnya. Hatten tidak berusaha meniru karakter kawasan penghasil wine di Eropa, melainkan mencari varietas dan metode yang paling sesuai dengan lingkungan Bali.
Selama proses riset, sebanyak 34 varietas anggur diuji untuk melihat mana yang mampu beradaptasi dengan kondisi tropis. Dari proses panjang tersebut, dua varietas baru dan dua varietas warisan akhirnya dipilih untuk menjadi bagian dari Avara.
Kebun juga menjadi perhatian utama. Hatten menyisihkan delapan hektare lahan terbaik di Sanggalangit untuk produksi wine premium. Jika kebun anggur umumnya dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun, lahan khusus ini hanya dipanen sekali setahun.
Tujuannya, produksi dapat lebih fokus dan pemilihan buah dilakukan secara lebih selektif. Karakter Bali kemudian diterjemahkan melalui proses pembuatan yang berbeda untuk setiap wine.
Mulai dari panen manual, pengepresan selektif, fermentasi dalam barel, hingga proses pematangan yang membutuhkan waktu panjang.
Untuk Avara Prestige Cuvée, misalnya, wine diendapkan bersama ampas ragi atau lees selama minimal dua tahun, dilanjutkan dengan riddling dan disgorgement secara manual.
Avara Syrah dimatangkan selama 18 bulan sebelum disimpan lebih lama di dalam botol. Sementara Avara Grand Solera dan XO menjalani proses pematangan hingga 10 tahun.
“Avara dibangun di atas semua yang kami pelajari dari kebun-kebun anggur Bali selama bertahun-tahun. Lewat Avara, kami bisa menggali lebih dalam beberapa varietas, lokasi kebun, dan teknik pembuatan wine, tanpa meninggalkan karakter lingkungan tropis ini,” kata James Kalleske, Head Winemaker Hatten Winery.
Menariknya, karakter tersebut juga telah mendapat pengakuan di berbagai kompetisi internasional. Pada China Wine & Spirits Awards 2025, kelima varian Avara meraih medali. Avara Grand Solera mendapat Double Gold, sementara Avara Chenin Blanc 2023 dan Avara Syrah 2023 meraih Gold. Prestige Cuvée dan XO masing-masing mendapat Silver.