Pengelolaan dan pemanfaatan cagar budaya di Kota Metro tengah menuju babak baru menuju cagar budaya sebagai ruang publik yang edukatif, rekreatif dan berdampak ekonomis. Era baru ditandai dengan perluasan keterlibatan publik tidak lagi hanya mengandalkan pemerintah tapi partisipasi warga baik individu, organisasi profesi, sektor perbankan, BUMN dan sektor swasta.
Hal ini menandakan peningkatan kesadaran publik akan pentingnya pelestarian cagar budaya sekaligus upaya menghadirkan ruang publik yang terbuka bagi semjua kalangan. Sejumlah fasilitas yang berbasis partisipasi terus bertambah di Rumah Informasi Sejarah Metro. Fasilitas olahraga, ruang belajar dan berbagai layanan dihadirkan untuk menghadirkan amanat undang-undang yakni cagar budaya yang berdampak untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.
Kini Warga Metro tidak hanya dapat menikmati sajian sejarah kota ansih di Rumah Informasi Sejarah. Berbagai layanan mulai dari pembuatan perizinan NIB,pembukaan rekening bank, berolahraga hingga bersantai dapat dilakukan bersamaan di satu tempat. Rasanya di Lampung inilah kali pertama cagar budaya tidak hanya berwajah sebagai cagar budaya ansih tapi memiliki banyak fungsi didalamnya sebagai ruang belajar, ruang ekspresi, ruang olahraga dan ruang bertemunya berbagai kalangan masyarakat. Kegiatan-kegiatan rutin seperti diskusi, makan bersama warga terus berjalan dengan partisipasi berbagai kalangan.
Fenomena pengelolaan cagar budaya sebagai ruang publik kreatif kini hadir di berbagai kota besar di Indonesia. Di Jakarta kita bisa temjukan di Pos Blok, M Blok dan Sarinah. Di Padang kita bisa temukan di Fabriec Block di Semarang kita temukan di Kota Lama. Yang terbaru di jambi dan berbagai daerah lainnya. Cagar Budaya hadir dengan wajah baru yang tak hanya menawarkan sejarah dan kenangan masa lalu. Cagar Budaya kini terlahir kembali sebagai ruang publik yang membawa manfaat bagi berbagai kalangan.
Satu mimpi baru kini ditanamkan yakni hadirnya sebuah ruang multi fungsi yang representatif serta dapat digunakan untuk kegiatan pameran seni , pemutaran film, diskusi indoor, ruang rapat sekaligus ruang interaksi. Kedepan rakyat tak perlu lagi menyewa ruangan untuk menggelar kegiatan dalam skala yang tidak terlalu besar dan para pelaku UMKM dapat menggelar pameran secara rutin.
Andakah 25 Orang Pionir Kota Metro?
Perjumpaan dengan berbagai kalangan seringkali menghadirkan berbagai ide dan jalan mewujdukan mimpi. Pertemuan kami dengan sebuah bank BUMN melahirkan satu kesepahaman bersama tentang bagaimana mewujudkan mimpi hadirnya creative lounge di pusat kota.
Bank tersebut memiliki program pembentukan komunitas nasabah prioritas yakni nasabah yang menabung di bank tersebut dengan jumlah minimal tabungan yang ditetapkan. Bila hal tersebut berhasil dilakukan maka pihak bank bersedia membangunkan sebuah lounge yang representatif. Kami sendiri memiliki mimpi sebuah ruang yang representatif yang dapat digunakan berbagai kalangan menggelar beragam kegiatan.
Mimpi baik bertemu niat baik kira-kira begitulah kami menggambarkan perjumpaan ini. Dua mimpi ini bertemu dan perlahan menemukan jalannya, tidak ada yang dirugikan satu sama lainnya, semua diuntungkan. Bank mendapatkan nasabah prioritas, cagar budaya mendapatkan ruang yang dapat digunakan seluruh kalangan, Pemerintah tak perlu mengeluarkan anggaran khusus dan juga akan dikenang dalam sejarah sebagai pemerintah yang melahirkan wajah baru pengelolaan cagar budaya. Singkatnya, everybody happy.
Baca Juga: Pramuka Metro Dikenalkan Sejarah Kota dan Melukis di Rumah Informasi Sejarah
Mencari 25 orang dari sekitar 160.000 penduduk Metro itu bukan perkara yang mudah tapi juga bukan perkara yang mustahil. 25 orang dengan kriteria tertentu ini adalah mereka yang bersedia menjadi bagian dari perubahan besar di Kota Metro. Menjadikan Metro sebagai kota pertama yang menghadirkan cagar budaya sebagai ruang publik yang edukatif, rekreatif dan juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
Hanya dengan menabung, sekali lagi hanya dengan menabung “dalam jumlah tertentu” Anda sudah berkontribusi bagi pemanfaatan cagar budaya di Kota Metro sekaligus menghadirkan ruang publik yang aktif dan kreatif.
Lewat artikel ini kami mengundang setidaknya 25 orang pertama yang akan menjadi motor perubahan wajah cagar budaya yang ada di Metro. Andakah 25 orang yang tabunganya tidak hanya untuk bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga bermanfaat untuk orang banyak?.
Akhirnya apakah terdapat 25 orang dari 160.000 penduduk Metro yang akan ikut mencatatkan diri dalam sejarah?Layak kita tunggu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
-
Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
-
9 Fakta Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Wanita Jadi Titik Terparah
-
Cerita Pasutri Selamat dari Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi: Terpental hingga Pingsan
-
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur: 3 Penumpang KRL Tewas dan 38 Korban Luka-luka Dilarikan ke 4 RS
Terkini
-
Tren Investasi Emas Digital Semakin Diminati di Indonesia
-
Presiden Soroti Jalur Kereta Tanpa Palang, Menhub Janji Segera Pasang Pintu Perlintasan Baru
-
Perbedaan RDPU dan RDPT, Mana yang Lebih Cuan untuk Investor Pemula?
-
Daycare Little Aresha Dicoret-coret, Dua Motor Disiram Cat Hitam, Satpol PP Disiagakan Jaga Lokasi
-
KA Pandalungan dan Blambangan Ekspres Beroperasi Sesuai Jadwal Usai Tragedi Tabrakan di Bekasi
-
Body Butter atau Body Lotion Dulu? Ini 4 Rekomendasi untuk Kunci Kelembapan
-
Aroma Menyengat yang Menyergap
-
5 Film Terbaru di Minggu Ini, Ada Para Perasuk hingga The Drama
-
Sosok Nurlela, Guru SD Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Wagub Banten Sentil Pusat: Otonomi Daerah Jangan Jalan Setengah Hati