/
Selasa, 23 Agustus 2022 | 11:53 WIB
Ilustrasi sampah makanan yang dapat memicu pemanasan global. (pexels.com) ((pexels.com))

Metro, Suara.com- Guna menekan angka food waste dan food loss (sampah makananKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggandeng Surplus Indonesia yang didukung sejumlah industri perhotelan meluncurkan program Sustainable Food Tourism.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan (food loss and waste) terbesar di dunia.  Berdasarkan data  kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sampah makanan yang terbuang di Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun (setara 115-184 kilogram per kapita per tahun). 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno saat “The Weekly Brief With Sandi Uno” di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (22/8/2022) menjelaskan bahwa asalah sampah makanan yang besar di Indonesia di sisi lain menjadi sebuah ironi.

"Berdasarkan data dari Global Hunger Index 2021, tingkat kelaparan di Indonesia berada di peringkat ketiga di Asia Tenggara. Kondisi ini merupakan masalah kita bersama, terutama pada sektor industri pariwisata pada hotel dan restoran yang memiliki fasilitas food and beverage” ujar Menparekraf Sandiaga Uno.

Kemenparekraf bekerja sama dengan Surplus Indonesia dan jaringan hotel di tanah air membuat program untuk menekan laju permasalahan food waste and food loss.

“Melalui kolaborasi Kemenparekraf bersama Surplus Indonesia dan jaringan hotel diharapkan upaya bersama ini dapat menekan laju food waste dan food loss pada industri perhotelan dan berkomitmen bersama dalam menyelesaikan permasalahan food waste dan food loss,” ujarnya.

Load More