Metro, Suara.com-Festival Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2022 tidak hanya diikuit oleh siswa muslim. Dari 7.826 siswa lolos seleksi administratif pada tahap pendaftaran peserta ada sekitar 50 siswa yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Kasubdit PAI pada SMA/SMLB, Abdullah Faqih menjelaskan dari hasil identifikasi, festival PAI 2022 tidak hanya diikuti siswa muslim, tapi ada juga dari siswa beragama lainnya, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan juga Konghucu.
“Mereka saat ini bersama ribuan peserta yang lain, tengah mengikuti coaching dan mentoring penguatan moderasi beragama,” ujarnya Minggu (18/9/2022).
Menurut Faqih yang juga penanggung jawab Festival PAI 2022, pihaknya sedari awal memang memberi kesempatan kepada semua siswa SMA/SMK dari berbagai latar belakang agama untuk ikut serta dalam festival ini. Dia berharap ajang ini sekaligus bisa menjadi media komunikasi dan saling memahami perbedaan antar siswa.
Festival PAI SMA dan SMK Tahun 2022 menggelar tiga jenis kompetisi yang dapat diikuti secara perorangan maupun grup, yaitu Debat Isu Islam Kontemporer (Islamic Trending Issue Debate Competition), Cipta Konten Islami di Media Sosial (Islamic Content Creator Challange on Social Media), dan Proyek Inovasi Moderasi Beragama (Moderasi Beragama Innovation Project).
"Kami sangat mangapresiasi kesediaan dan langkah siswa non muslim yang mengikuti pendaftaran Festival PAI Tahun 2022 ini. Secara konseptual, Festival PAI ini memang tidak hanya dapat diikuti siswa beragama Islam saja, teman-teman yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, bisa ambil bagian pada tema yang mereka anggap relevan," pungkasnya." katanya.
"Keikutsertaan mereka diharapkan dapat persahabatan, walaupun terdapat perbedaan keyakinan di antara mereka. Jadi perbedaan bukan menjadi penghalang untuk saling bersahabat dan berkolaborasi," lanjutnya.
Di Festival PAI ini, Faqih melanjutkan, para pelajar diberikan ruang untuk berinteraksi secara positif melalui kompetisi dengan tema moderasi beragama.
"Kami buka kesempatan seluasnya untuk siswa dengan latar belakang agama yang berbeda agar ajang ini menjadi panggung dan momentum bersama untuk lebih saling menghargai perbedaan dan bertoleransi," pungkas Faqih.
Baca Juga: Film Dokumenter Perang Jepang di Indonesia Karya Shinichi Ise Diputar di Tokyo
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
5 Sepatu Lari Lokal Terbaik untuk Long Run, Tak Kalah Keren dari Nike
-
Sekjen PBB: Sudah Saatnya Israel dan Lebanon Bekerja Sama
-
Siapa Keona Ezra Pangestu? Terduga Pelaku Pelecehan Seksual FH UI yang Paling Disorot
-
Harga Lengkap Tiket Indonesia Open 2026, Paling Murah Rp40 Ribu
-
Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
-
Karhutla Riau Meluas Jadi 3.456 Hektare, Status Siaga Darurat Masih Berlaku
-
Sunscreen Apa yang Bagus? Ini 6 Rekomendasi yang Mencerahkan Wajah dan Anti Whitecast
-
Investor Masa Bodoh dengan Perang, Wall Street Terus Meluncur Naik
-
Dari Paris, Prabowo Kirim Ucapan Ulang Tahun ke Titiek Soeharto
-
Jonatan Christie: Indonesia Open Ini Salah Satu Wishlist Saya