Penemuan patung kepala raksasa di tengah Hutan Maribaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat beberapa waktu lalu sempat membuat geger warga.
Patung kepala raksasa itu awalnya diduga merupakan peninggalan peradaban Hindu di Bandung Utara karena bentuknya yang mirip Dwarapala atau patung penjaga gerbang candi.
Namun kekinian diketahui patung itu baru dibuat di tahun 1970-an. Pembuatnya diduga adalah merupakan karya dua orang seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra, bernama Tubagus Chutbani BA dan Unu Pandi.
Lekra merupakan lembaga bentukan sejumlah pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI), pada 17 Agustus 1950. Perkumpulan ini dibentuk sebagai wadah bagi para seniman di masa itu. Namun pada perjalanannya, lembaga ini kerap dituding sebagai media propaganda politik PKI, hingga akhirnya dibubarkan tahun 1966.
Hasil penelusuran, kedua seniman Lekra tersebut sengaja membuat patung dan relief untuk hiasan di destinasi wisata Maribaya, pada tahun 1970-an. Kala itu, pemandian air panas Maribaya, Air Terjun Maribaya, dan Air Terjun Omas merupakan kawasan wisata yag masih dikelola oleh pemerintah Kabupaten Bandung.
"Chutbani dan Unu ini dikenal Tapol golongan C, meski telah bebas, mereka tetap dikenakan wajib lapor," tutur saksi hidup yang jadi rekan kerja Chutbani dan Unu di Maribaya, Entun Suryana Alamsyah, 74 tahun, saat ditemui di kediamannya, Senin (16/1/2023) dikutip dari Ayobandung.com--jejaring Suara.com.
Sebelumnya, beberapa patung dan relief karya Chutbani dan Unu masih ditemukan utuh di tengah Hutan Maribaya. Patung itu diantaranya berbentuk kepala manusia lengkap dengan mulut, hidung, dan telinga. Ukuran patung kepala itu lebih besar dibanding kepala manusia pada umumnya, lantaran memiliki diameter lingkaran sekitar 3 meter.
Sedangkan, relief yang masih tersisa berbentuk sosok manusia berkuncir mengenakan selendang dan menaiki binatang serupa kuda. Kini, keberadaan dua karya seni itu telah tertutup semak dan ditumbuhi lumut.
Tak cuma dua, Entun menerangkan, hasil karya Chutbani dan Unu mencapai puluhan. Lokasinya tersebar di beberapa titik Hutan Maribaya. Mulai dari sungai, di depan pintu masuk menuju Maribaya, dan lokasi lainnya. Sebagai masih ada, sebagai lagi rusak tertutup semak-semak dan lumut, atau terbawa arus sungai Cikapundung.
Baca Juga: Jumlah Rakaat Shalat Istikharah dan Doa yang Perlu Dibaca
"Bayak sekali ada patung raksasa kepala manusia, patung kuda lumping, singa, katak, kera, rusa, buaya, dan relief tradisi adu domba," paparnya.
Entun bercerita selain Chutbani dan Unu, ada sekitar 30 Tapol 65 yang bekerja di Maribaya pada kurun waktu 1970-1975. Konon mereka bisa bekerja dan bebas dari tahanan karena ada jaminan langsung dar Bupati Lily Sumantri. Namun, pasca bebas dari tahanan, mereka tetap mendapat stigma negatif dan berbagai diskriminasi.
"Bupati Lily sudah menjamin mereka bebas karena yakin gak bersalah. Tapi tetap dalam kehidupan mereka sering dituduh PKI. Selain itu eks Tapol seperti pak Unu dan Chutbani ini tetap gak bisa diangkat PNS seperti warga lainnya," jelasnya.
Entun menerangkan semasa kerja bersama Chutbani dan Unu, keduanya tak pernah bercerita detail terkait keterlibatannya di Lekra. Kepadanya, mereka hanya mengaku sempat belajar melukis dan cara membuat patung kepada seorang pentolan Lekra di Bandung dan Jawa Barat yakni Hendra Gunawan.
Kedua seniman ini memastikan tak pernah merencanakan atau terlibat dalam penggulingan kekuasaan dengan cara mengeksekusi 6 jenderal dalam peristiwa G30S.
"Saat kerja bersama saya, mereka membantah terlibat G30S. Hanya sempat belajar saja ke Hendra Gunawan. Tapi tiba-tiba mereka dituduh PKI dan ditahan militer," jelasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Wanti-wanti OJK Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI Hari Ini
-
Kumpulan Prompt AI Edit Foto Crayon Style yang Lagi Viral, Hasilnya Lucu dan Estetik
-
Pakai Masker! Udara Jakarta Pagi Ini Masuk Kategori Tidak Sehat, Terburuk Keempat di Dunia
-
Ketan Naik Kelas Jadi Dessert Fancy, Kreasi Unik Ketan Mansour Ramai Diburu di Bogor
-
Dari Cari Barang hingga Bayar, AI Kini Mulai Bisa 'Belanja' Sendiri
-
Harga Minyak Sulit Turun dan Tembus US$ 104 per Barel, Pemerintah AS Terguncang
-
Internet Indonesia Terancam Mahal? Operator Keluhkan Lonjakan Biaya Relokasi Jaringan
-
Ekonomi Indonesia Diprediksi Melambat di Kuartal II 2026, Ini Penyebab Utamanya
-
Top 20 Kekuatan Militer Dunia Berdasarkan Personel Aktif: Indonesia Nomor Berapa?
-
Chef Arnold Sentil Henny Maria soal Gelar Executive Chef: Pengalaman 22 Tahun Saya Kalah