Suara.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Senin, mengatakan kepada anak-anak sekolah bahwa ia tidak akan ragu membunuh guna melindungi mereka dari bencana obat terlarang dan mendorong mereka mendaftar sebagai tentara untuk membela negara dari musuh.
Saat berbicara dalam acara Pramuka di istana presiden, Duterte tidak berbasa-basi, dengan mengatakan ia akan membunuh pengedar "jika Anda menyentuh anak-anak kami".
Duterte berulang kali menolak kecaman internasional tentang perang berdarah terhadap obat-obatan terlarang, saat lebih dari 8.000 orang tewas sejak dia berkuasa pada 30 Juni tahun lalu.
Polisi mengambil tanggung jawab untuk sepertiga dari kematian itu, dengan mengutip membela diri selama gerakan anti-narkotika.
Duterte juga mengatakan ia berencana untuk mengembalikan pelatihan militer dasar n di perguruan tinggi untuk menanamkan disiplin, meningkatkan tindakan keras pemerintah terhadap narkotika.
"Saya perlu tentara, saya perlu Pramuka. Siapa yang ingin menjadi tentara? "tanyanya." Saya bergantung pada kalian, apakah kalian siap? Jawab saya, anak-anak. Selalu mencintai negara." Duterte mengatakan negara telah menjadi terlalu libertarian saat anak muda menolak Pramuka dan program pelatihan militer dan mengonsumsi alkohol, melakukan perkelahian jalanan dan obat-obatan terlarang.
Pada Maret, seorang pensiunan polisi Filipina, dalam dengar pendapat dengan Senat mengaku membunuh hampir 200 orang saat menjadi anggota "pasukan jagal" di bawah Presiden Rodrigo Duterte saat masih menjabat wali kota Davao.
Arturo Lascanas mengaku berbohong pada sidang sama --untuk menyelidiki pembunuhan di luar hukum di bawah Duterte-- pada Oktober.
Dia terpaksa berbohong karena khawatir akan keselamatan keluarganya dan mendapat perintah dari kepolisian untuk "membantah semua hal".
Lascanas mengatakan membunuh 300 orang, sekitar 200 di antaranya saat menjadi anggota "pasukan jagal Davao". Dia terakhir kali menewaskan orang pada 2015.
Selain itu, Lascanas juga mengungkap dua pembunuhan yang dia lakukan terhadap pengkritik Duterte setelah mendapat instruksi dari seorang pengawal Duterte--yang saat itu masih menjadi wali kota.
Lascanas, yang sempat menangis di depan media saat pertama kalinya mengungkap cerita rahasianya dua pekan lalu, adalah orang kedua yang bersaksi di hadapan Senat terkait dugaan keterlibatan Duterte terhadap pasukan jagal anti-narkoba.
Pembela Duterte menolak tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa untuk merongrong sang pemimpin dan kebijakan anti-narkotikanya.
Duterte sendiri telah berulangkali membantah telah terlibat dalam pembunuhan ekstra judisial, baik sebagai presiden maupun selama 22 tahun menjabat sebagai wali kota Davao. Kepala kepolisian nasional Ronald dela Rosa, mantan kepala polisi kota Davao di bawah Duterte, menyebut keberadaan pasukan jagal tersebut sebagai mitos yang diciptakan oleh media.
Sementara itu, sejumlah kelompok pembela hak asasi manusia mencatat sekitar 1.400 pembunuhan mencurigakan di Davao saat Duterte menjadi wali kotanya. Mereka juga mengkritik kebijakan perang narkotika itu, yang menimbulkan dampak sama. [Antara]
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis
-
Kisah Yunita Bangun Dear June Official, Dari Satu Penjahit Hingga Tembus Pasar Singapura
-
Rantai Hingga Alat Bor Jadi Bukti, Ini Sederet Alat Siksa Penyekapan di Percetakan Senen
-
Kasus Lagu 'Di Antara Kata' Memanas, Syahravi Balik Laporkan Fariz RM ke Polisi
-
Syahravi Bantah Langgar Hak Cipta Lagu Fariz RM, Tunjukkan Video Dipuji Sang Musisi
-
Balita Tewas Terperosok Lubang Proyek di Manggarai, Pramono: Jika Ingin Menuntut, Kami Persilakan