Suara.com - Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid menilai penegakan hukum di Papua belum maksimal. Sehingga, kerusuhan di tanah Papua sangat rentan terjadi dan seringkali berujung pada kematian sipil yang tak jarang melibatkan aparat polisi.
"Salahsatu penyebabnya, absennya penegakkan hukum di Papua," kata Usman di kantornya, Gedung HDI Hive, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/8/2017).
Pernyataan Usman tersebut adalah respon atas terjadinya kerusuhan di Kampung Oneibo, Kabupaten Deiyai, Papua, yang menyebabkan seorang sipil bernama Yulianus Pigai tewas akibat terkena tembakan polisi pada 1 Agustus 2017 yang lalu.
Dalam peristiwa tersebut, sekitar sepuluh orang juga mengalami luka berat dan luka ringan, yang masing-masing juga akibat peluru aparat.
Menurut Usman, kerusuhan di Papua yang direspon dengan penggunaan kekuatan oleh Polisi, bukan pertama kalinya terjadi. Sudah ada beberapa kasus serupa namun tak berujung pada meja hijau. Selain penegakan hukum yang tidak maksimal, lanjut Usman, penyebab kerusuhan di Papua juga seringkali dipicu persoalan politik dan ekonomi di tanah Papua.
"Ada urusan pemekaran wilayah, invetasi perluasan perkebunan yang menimbullan konflik di masyarakat di tengah hukumnya yang masih belum beres. Absennya penegakkan hukum selama ini lah yang membuat peristiwa ini terus berulang," tutur Usman.
Di samping itu, lanjut dia, aparatnya juga terlalu mudah menggunakan kekuatan dalam merespon situasi sosial di Papua. Ia menduga, hal itu dilakukan lantaran tidak ada rasa khawatir dari aparat untuk dimintai tanggungjawab di pengadilan.
Selain itu, ia juga menduga, aparat kepolisian yang ditugaskan tidak dipersiapkan terlebih dahulu untuk mengenal karakteristik masyarakat Papua.
"Jadi setiap ada perselisihan mereka ambil jalan pintas dengan menggunakan tindakan tembakan. Padahal seharusnya ada dialog, ada pendekatan persuasif," ujar Usman.
Baca Juga: Warga Papua Tewas Ditembak Brimob, Polisi Klaim Itu Peluru Karet
Diberitakan sebelumnya, peristiwa yang menewaskan Yulianus di Deiyai berawal saat kerusuhan terjadi di kompleks perusahaan di kampung Oneibo, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua. Kerusuhan itu dipicu oleh kematian seorang pemuda Papua dalam perjalanan ke rumah sakit akibat tenggelam di sungai.
Untuk menyelematkan nyawa pemuda tersebut, sejumlah temannya meminta karyawan perusahaan agar meminjamkan mobil mereka dipakai membawa korban tersebut ke rumah sakit. Namun permintaan itu ditolak para karyawan.
"Keluarga korban dan teman-temannya menilai bahwa pemuda tersebut dapat diselamatkan jika para karyawan setuju meminjamkan mobilnya," ujar Usman.
Hal ini yang mengakibatkan puluhan warga Papua meradang dan menuju komplek perusahaan. Massa yang marah menghancurkan beberapa properti perusahaan.
Saat kerusuhan itu berlangsung, sejumlah personel kepolisian datang termasuk pasukan Brigade Mobil (Brimob) ke lokasi kerusuhan tersebut. Bukannya berhenti, masaa malah aparat dengan batu.
"Sebagai respon, personil kepolisian secara semena-mena melepaskan tembakan ke arah kerumunan massa. Mengenai Yulianus Pigai di paha dan perutnya, serta paling sedikit 10 lainnya mengalami luka-luka karena tembakan," tutur Usman.
Korban kemudian segera dibawa ke rumah sakit Waghete. Tapi, Yulianus meninggal dalam perjalanan.
Kata Usmana, juru bicara Kepolisian Daerah (Polda) Papua mengeluarkan pernyataan bahwa penggunaan kekuatan telah sesuai prosedur dalam merespon kerusuhan massal.
"Menurut dia, senjata polisi hanya menggunakan peluru karet. Namun hingga saat ini belum ada upaya otopsi untuk menentukan secara jelas penyebab kematian," kata Usman.
Berita Terkait
-
LSM HAM Desak Pemerintah Investigasi Penembakan di Deiyai
-
Warga Papua Tewas Ditembak Brimob, Polisi Klaim Itu Peluru Karet
-
Korban Tewas Penembakan Brimob Papua Bernama Yulius Pigai
-
Sipil Ditembak Polisi, Dewan Adat Papua: Tarik Brimob dari Deiyai
-
Polda Papua Selidiki Penembakan Brimob ke Warga Sipil di Tigi
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Di Mana Beli Bendera Merah Putih Ukuran Besar? Ini Rekomendasi Tempat dan Kisaran Harganya
-
4 Shio Beruntung Hari Ini 6 Agustus 2026, Terhindar dari Kesepian dan Kesulitan
-
12 Ramalan Zodiak Hari Ini 6 Agustus 2026: Leo dan Libra Beruntung, Capricorn Waspada Konflik
-
Karhutla Memanas, Kabut Asap Selimuti Kota Palembang
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan