News / Nasional
Jum'at, 16 Juli 2021 | 15:53 WIB
Ilustrasi--Ambulans pengangkut pasien Covid-19. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

“Kondisi jalanan lagi macet banget. Terus di samping ada ambulans dan sirenenya nyala. Saya kira kosong kan, tahunya pas lihat ada dua mayat,” paparnya. 

Nabila harus menyaksikan dua mayat itu sekitar setengah jam, mengingat jalanan yang sedang macet. 

Sulis Sudaryanto, relawan sopir ambulans saat mengantar jenazah Covid-19 ke pemakaman. (Dokumen pribadi Sulis Sudaryanto)

“Terus juga mereka gerak-gerak, karena mesin ambulansnya kan nyala,”  tambahnya.

Semenjak saat itulah, Nadia memiliki ketakutan dengan suara sirene ambulans.

Nabila bukan tak berniat menghilangkan ketakutannya ini. Pernah suatu ketika, dia ingin mendatangi psikolog, namun berdasarkan informasi yang diterimanya dari seorang teman yang senasib dengannya, wanita itu lantas mengurungkan niat itu. 

“Jadi teman saya juga ada yang takut dengan suara ambulans, dia pernah ke psikolog, saat diterapi ternyata yang didengarkan itu suara sirene ambulans juga. Jadi dapat info itu saya sudah takut duluan,” ujarnya.

Melihat situasi saat ini, Nabila mengungkapkan  merasa sangat tidak nyaman. Kendati demikian dia perlahan melawan rasa takutnya itu. 

“Sudah merasa ada perubahan, dari dulu sampai sekarang,” tandasnya. 

Trauma Bertemu di Jalan

Baca Juga: Rakyat Lagi Hancur-hancuran Digempur Covid, Pak Mahfud Masih Nikmat Nonton Sinetron?

Keresahan yang sama juga dialami Khalda (25). Dia mengaku juga memiliki ketakutan dengan suara sirene ambulans. 

Terlebih saat ini, dia harus berjuang melawan rasa takutnya. Tak jarang ketika berkendara, dia harus menepi untuk menenangkan dirinya saat ada ambulans yang melintas. 

“Jadi kalau ada ambulans ketemu di jalan, ya pilihan saya cuma ada dua, saya ngebut atau menepi. Tergantung ambulansnya ada di mana,” ujarnya. 

Sementara jika berada di rumah Khalda mengaku jauh lebih aman, karena bisa bersembunyi dan menenangkan dirinya dengan lebih baik. 

Khalda mengaku ketakutannya terhadap suara sirene juga karena pengalaman buruknya saat masih kecil. Saat itu neneknya sedang dirawat di rumah sakit. Dia pun datang untuk menjenguknya. 

Pemprov Riau dan Pemkot Pekanbaru mengerahkan 60 unit ambulans untuk menjemput pasien solasi mandiri. [Foto Riauonline]

Namun karena dia masih kecil, dia tidak diizinkan untuk masuk ke ruangan neneknya.

Khalda akhirnya hanya menunggu di luar rumah sakit. Saat menunggu dia melihat sebuah ambulans terparkir, karena penasaran dia mendatanginya. 

“Terus sama sopirnya di buka, isinya jenazah. Dan itu kondisinya sudah dikafankan, dan tidak ditutup sama sekali dengan kain apapun. Itu saya lihat sudah kayak pocong,” paparnya. 

Sehabis menyaksikan pemandangan itu, Khalda langsung menangis sejadi-jadinya, hingga harus ditenangkan orang tuanya.

Anehnya, berselang itu, dia mendapatkan kabar nenek meninggal dunia.

“Setelah itu saya jenguk nenek. Padahal sudah lepas infus dan lain-lain. Tapi enggak tahu kenapa malah meninggal,” ujarnya.

Semenjak saat itu suara sirene ambulans menjadi mimpi buruk baginya. 

“Saya enggak tahu sih ada hubungannya atau tidak, tapi kayanya sampai sekarang takut banget saya lihat ambulans,  apalagi ketemu di jalan,” tandasnya. 

Load More