Suara.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan dirinya sependapat bahwa Pancasila adalah soal perjuangan yang tak bisa diwarisi dari nenek moyang. Pancasila merupakan keyakinan dan pendirian asasi.
"Saya sependapat dengan pernyataan Nicolaus Driyarkara sebagaimana dikutip Yudi Latif, bahwa Pancasila adalah soal perjuangan. Pancasila tidak kita warisi dari nenek moyang kita menurut hukum Mendel. Pancasila adalah soal keyakinan dan pendirian asasi," ujar Bambang dalam Kongres Kebangsaan yang disiarkan dari Youtube MPR, Kamis (28/10/2021).
Karena itu, Pancasila tidak akan bisa tertanam dalam jiwa, jika masing-masing tidak berjuang. Baik untuk masyarakat dan negara, maupun untuk setiap individu, usaha penanaman Pancasila harus berjalan terus-menerus, tak ada hentinya.
"Tak seorang pun akan menjadi Pancasilais, kalau dia tidak membuat dirinya Pancasilais. Negara kita tidak akan menjadi negara Pancasila, jika kita tidak memperjuangkannya dalam setiap lini masa periodisasi zaman," papar Bambang.
Bambang menuturkan, dalam perspektif Pancasila, peradaban Indonesia sebagai puncak perkembangan kebudayaan nasional merupakan kerangka operasional dalam pembangunan tiga ranah kehidupan bangsa.
Yaitu pertama, ranah mental spiritual (tata nilai), yang menegaskan pentingnya penguatan visi spiritual peradaban, dan menjaga terpeliharanya etos, etika, dan mindset sebagai "jiwa" budaya peradaban. Kedua, yakni ranah institusional-politikal (tata kelola), yang mengamanatkan pentingnya pengelolaan manajerial pemerintahan dan ketepatan desain kelembagaan institusi negara, agar tidak terjadi "salah urus" dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Dan ketiga yaitu, ranah material-teknologikal (tata sejahtera), yang menempatkan keadilan material dan kesejahteraan umum sebagai landasan fundamental dalam membangun ketahanan dan kebajikan sosial," ujarnya.
Politisi Partai Golkar itu mengatakan, penting disadari bahwa membangun peradaban harus dilandasi oleh kesadaran. Pasalnya, tidak ada satu pun peradaban di dunia ini, sekuat dan sehebat apapun kelihatannya, akan kebal terhadap potensi ke-rentanan yang dapat dipicu oleh beragam faktor.
Antara lain yakni satu, ketidaksetaraan dan oligarki politik, yang melemahkan kohesi sosial dan mendorong terjadinya dis-integrasi bangsa.
Baca Juga: Contoh Pengamalan Pancasila yang Harus Kamu Ketahui Sebagai Warga Negara Indonesia
Faktor kedua, degradasi ekologi, di mana kemampuan sumberdaya lingkungan semakin rapuh dalam menopang kebutuhan masyarakat yang tumbuh dalam lompatan deret ukur. Faktor ketiga kompleksitas tantangan dan persoalan dalam kehidupan kebangsaan.
"Serta keempat faktor eksternal yang tidak ter-prediksi, seperti perang, bencana
alam, wabah, dan lain-lain," kata Bambang.
Tak hanya itu, Bambang menuturkan dalam pandangan global, hingga abad ke-20, banyak pakar sejarah terkemuka, di antaranya Johann Gustav Droysen, George Frederick Hegel, Karl Marx, Oswald Spaengler, dan Goldwin Smith, yang meyakini, bahwa sejarah adalah proses linear menuju kemajuan.
Namun jika kita cermati lebih dalam, rujukan fakta sejarah justru mengindikasikan bahwa sejarah peradaban bersifat dinamis.
Ia mengatakan, pasca Perang Dunia II, Uni Soviet adalah representasi negara dengan peradaban terkuat di dunia, namun akhirnya runtuh pada periode 1980-an hingga 1990-an.
Inggris kata dia, yang sempat berjaya memimpin peradaban Barat, tergeser oleh
Amerika Serikat yang menguasai hegemoni global dalam waktu yang relatif lama.
Berita Terkait
-
Contoh Pengamalan Pancasila yang Harus Kamu Ketahui Sebagai Warga Negara Indonesia
-
Cegah Konflik Rumah Tangga dan Perceraian, Toleransi Dalam Keluarga Perlu Ditingkatkan
-
Mengenal Pengertian Dasar Negara dan Fungsi Pancasila
-
Bamsoet: Industri Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia Menjanjikan
-
9 Kuliner Malam Surabaya Terpopuler, Wajib Coba Rawon
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Nadiem Makarim: Jadi Menteri Umur 35 Tanpa Pengalaman, Banyak yang Tersinggung
-
Balita Meninggal Usai Tindakan Sedasi di RSUD Prambanan, Keluarga Laporkan Dugaan Malapraktik
-
Viral 'Pulau Sampah' di Muara Angke: Bagaimana Berakhir di Sana dan Apa Bahaya Tersembunyinya?
-
Pledoi Nadiem Makarim: Di Swasta Jujur Dihargai, di Pemerintah Kelugasan Dianggap Sombong
-
Detak Jantung Matahari Tak Lagi Normal, Ilmuwan Khawatir Efeknya Membahayakan Bumi
-
Sorot Transparansi Biaya Lawatan Prabowo, CELIOS Ingatkan Risiko Penggunaan Kocek Pribadi
-
Florida Gugat Sam Altman dan OpenAI, ChatGPT Dituding Membahayakan Anak-anak
-
Hasto Kristiyanto: Pancasila Merupakan Gugatan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme
-
Kiamat, Langit Siang Mendadak Gelap! Kesaksian Warga Saat Badai Pasir Raksasa Menerjang
-
Analis: Presiden Prabowo Kini Terhimpit di Antara PDIP dan Jokowi