Suara.com - "Kami pikir itu adalah menit-menit terakhir kami. Itu sangat menakutkan, tetapi kami beruntung."
Elena mengingat ketika pasukan Rusia mulai memuntahkan peluru, setelah dia dan sekelompok pelarian melewati salah satu pos pemeriksaan mereka.
Setelah dua bulan tinggal di ruang bawah tanah di sebuah taman kanak-kanak di kota Izyum yang diduduki pasukan Rusia , Elena, menghabiskan dua hari yang menegangkan dalam upayanya menyelamatkan diri.
Dia dan anak perempuannya termasuk di antara 20 orang dalam konvoi kendaraan yang berangkat dari wilayah yang dikuasai Rusia.
Mereka meninggalkan lokasi persembunyiannya pada Jumat lalu menggunakan rute yang diatur oleh para relawan.
"Sepanjang waktu kami berdoa," kata Elena, 52 tahun, mengisahkan bagaimana mereka melewati banyak pos pemeriksaan pasukan Rusia.
Ketika pasukan Rusia itu bertanya mereka akan pergi kemana, kelompok itu meyakinkan para prajurit itu bahwa mereka tengah menuju Rusia.
Di satu pos pemeriksaan, ungkap Elena, tentara-tentara Rusia itu memeriksa isi pesan dalam telepon genggam anaknya, dan menjadi marah ketika mereka melihat pesan tertulis kepada teman-temannya perihal situasi di Izyum.
Akhirnya mereka akhirnya tiba dengan selamat di Poltava di wilayah Ukraina tengah.
Baca Juga: Presiden Ukraina Tuduh Rusia Ulangi Kekejaman Nazi
Namun tidak bisa melupakan kengerian atas apa yang dia alami di kota asalnya setelah perang mulai berkecamuk.
Baca juga:
- 'Anak-anak saya minum air hujan dari kubangan untuk bertahan hidup'
- Rusia dituding akan segera serang Mariupol habis-habisan, Zelensky minta bantuan PBB
- Warga sipil Mariupol dievakuasi dari bunker pabrik baja Ukraina, 'Kami sudah tidak melihat matahari begitu lama'
Bersembunyi dari pasukan Rusia
"Mayat-mayat tergeletak selama berminggu-minggu di jalanan.
"Kami mencoba tidak melihatnya agar tidak terbayang terus di benak kami.
"Kami tidak bisa mengubur orang-orang yang sudah mati karena itu sama saja membuat kami terbunuh. Aksi penembakan itu tak pernah berhenti," ungkapnya.
Elena dan pengungsi lainnya di ruangan bawah tanah memasak makanan dengan menggunakan api dan bertahan hidup dengan mengonsumsi sayuran yang dikumpulkan dari kebun mereka.
"Setiap orang membawa semua yang mereka miliki. Kami semua berbagi makanan," katanya. "Itu membantu kami agar tidak kehilangan harapan."
Dia menambahkan bahwa pasukan Rusia menjarah segalanya, termasuk pakaian dalam milik warga.
Pasukan Rusia berkeliling kota dengan mobil-mobil curian dengan diberi tanda "Z", kenangnya.
"Mereka bersenjata dan seringkali mabuk berat.
"Sangat menakutkan ketika kendaraan lapis baja pengangkut pasukan hilir mudik di jalanan dan di atasnya ada pasukan tentara lengkap dengan senapan mesinnya. Kami mencoba bersembunyi."
Di mana letak kota Izyum?
Terletak di tenggara Kharkiv, kota Izyum dikenal sebagai pintu gerbang ke Donbas - wilayah penghasil batu bara dan baja bagi Ukraina, di mana lebih dari sepertiga kawasannya direbut oleh kelompok separatis yang didukung Moskow pada 2014.
Kota ini dikelilingi oleh hutan-hutan dan sungai-sungai, yang menjadikannya sebagai benteng alami.
Dan di dekat perbatasan kota itu berdiri gunung Kremenets, yang tingginya 218m di atas permukaan laut.
Baca juga:
- Pertempuran sengit di Mariupol, mengapa kota ini sangat penting bagi Rusia?
- Dikepung Rusia, pejuang dan warga sipil Mariupol 'terluka dan mati di dalam bunker'
- 'Cucu perempuan saya, kepalanya benar-benar hancur' - Anak-anak Ukraina turut jadi korban serangan Rusia di Mariupol
"Siapa pun yang menguasai gunung ini memiliki keuntungan militer secara signifikan," kata Maxym Strelnik, salah-seorang pejabat dewan kota Izyum.
Semua ini membuat kota itu menjadi hadiah penting dan tidak lama setelah invasi Kremlin, kota itu dibombardir.
Pada 1 April, Rusia merebut kendali dan menduduki kota itu semenjak saat itu.
Kini, Strelnik, yang diperintahkan oleh militer Ukraina agar meninggalkan kawasan itu, memperkirakan bahwa 80% kota itu telah hancur.
'Ada 10.000 dan 15.000 warga yang bertahan'
Dia meyakini ada sekitar 10.000 dan 15.000 warga sipil yang tetap bertahan di Izyum.
"Tidak ada air, listrik, gas, pemanas, dan sistem pembuangan limbah tidak berfungsi," katanya.
Pada Maret, selama tahap awal invasi, warga dipaksa tinggal di ruang bawah tanah mereka yang beku tanpa fasilitas pemanas.
Mereka yang jatuh sakit tidak bisa mendapatkan perawatan medis.
"Kami bahkan tidak dapat memperkirakan berapa banyak korban di kota ini. Tidak ada fasilitas medis atau layanan pemakaman.
"Orang-orang yang mati dimakamkan di dekat rumah dan di taman kota. Ini kenyataan yang mengerikan," katanya.
Di antara mereka yang masih terjebak di Izyum adalah ibu Katerina, yang melarikan diri bersama suami dan dua anaknya pada awal Maret.
Langit-langit ruang bawah tanah rontok
"Dia menelepon saya dari waktu ke waktu - kadang seminggu sekali," kata Katerina.
"Bahkan sekarang ketika saya aman, saya tidak bisa merasa 100% baik-baik saja karena ibu saya tinggal di kota yang tak berwujud."
Pada saat Katerina meninggalkan kota itu, sudah terlambat bagi ibunya, yang tinggal di bagian kota Izyum yang saat itu sudah diduduki oleh Rusia.
Dia dilarang meninggalkan rumahnya oleh tentara Rusia.
Pelarian Katerina sendiri merupakan pengalaman yang mengerikan.
Keluarga itu telah berlindung bersama di ruang bawah tanah selama tujuh hari ketika sebuah bom Rusia jatuh hanya 500 meter dari rumahnya.
"Serpihan-serpihan tanah mulai berjatuhan dari langit-langit," katanya kepada BBC.
"Saya mulai mengerti saat itu bahwa ruang bawah tanah kami tidak akan tahan terhadap bom."
Dia dan keluarganya hanya punya waktu 15 menit untuk bersiap pergi.
Mereka hanya membawa sedikit barang - hanya pakaian anak-anak. Bahkan hewan peliharaan keluarga pun harus ditinggalkan.
Strelnik tetap berada di dekat dengan Izyum, meskipun di zona yang masih di bawah kendali Ukraina.
Hal itu dia lakukan untuk memastikan bahwa dia dapat mencoba membantu para warga yang masih berada di kota itu. Namun komunikasi dengan mereka sangatlah sulit.
Selama tujuh hari terakhir, hubungan telepon antara kota Izyum dan dunia luar terputus.
Para keluarga yang masih berada di dalam kota merasa frustasi, ketika mereka ingin mendengar kabar keluarganya di luar Izyum, katanya.
Terbatasnya akses komunikasi ini menyulitkan Volodymyr Zelenskyy - bukan presiden Ukraina, tetapi warga biasa yang memiliki nama sama.
'Upaya evakuasi merupakan pekerjaan berbahaya'
Selama ini dia secara sukarela membantu warga guna meninggalkan kota itu .
Saat ada sinyal yang durasi waktunya amat pendek, keluarganya memberi tahu mengenai bus-bus evakuasi. Para relawan inilah yang membantu mengumpulkan warga dari desa-desa kecil di pinggiran kota.
"Kami mengevakuasi sekitar 200 orang," kata Zelenskyy.
"Para warga sangat emosional ketika mereka sampai di titik evakuasi.
"Mereka tidak memiliki harapan selama berminggu-minggu dan akhirnya ketika mereka melihat kami, mereka mengira kami adalah penyelamatnya."
Namun dia mengatakan upaya penyelamatan adalah pekerjaan berbahaya.
"Terakhir kali relawan kami mengeluarkan warga dari [desa terdekat] Spyvakiva, mereka ditembak oleh penembak jitu Rusia.
"Tiga orang tewas dan tiga orang terluka," katanya. BBC tidak dapat memverifikasi klaim ini secara independen.
Kenangan akan rumah terus menghantui
Baik Katerina dan Elena menganggap mereka beruntung, karena mereka dapat melarikan diri dari Izyum.
Tapi kenangan dua orang ini tentang rumah mereka di masa damai terus menghantui.
Katerina ingat akan tempat yang disebutnya memiliki semua yang dia butuhkan, termasuk taman untuk anak-anak.
"Itu sangat lucu, sangat nyaman, seperti bantal kecil berbulu, yang terasa seperti saat ibumu memelukmu," ujarnya.
Elena merindukan hari-hari ketika dia akan menanam bunga-bunga di taman bersama cucunya.
"Kami tidak menyadari betapa beruntungnya kami," katanya.
"Sekarang saya menyadari bahwa saya tinggal di surga."
Berita Terkait
-
Mobil Terlaris JanuariJuli 2026: BYD dan Jaecoo Mengudara, Merek Jepang Kian Waspada
-
Julukan Bapak Infrastruktur untuk Jokowi, Bustami Zainudin: Faktanya Dirasakan Daerah
-
Jangan Habiskan Long Weekend di Rumah Saja, 8 Film Indonesia Ini Siap Temani Liburanmu!
-
Update Gempa Flores, NTT: 1 Korban Meninggal Dunia di Pelabuhan Laurentius Say Maumere
-
Gubernur NTT: Saya Terima Laporan Korban Gempa Bumi 5 Orang Meninggal
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Ilusi Kenaikan Gaji: Kenapa Hidup Justru Terasa Makin Pas-pasan?
-
Keberhasilan Transformasi Desa Kemiren bersama Kang Edai dan Astra
-
Kondisi Darurat! Supermarket Diminta Bagikan Makan ke Korban Gempa NTT, Pemerintah Siap Ganti
-
Buka Pintu untuk Mees Hilgers, Eks Pelatih Manchester United: Tunjukkan Pesonamu
-
Kebiasaan Ngemil Keluarga Indonesia Berubah, Kini Buah Hadir dalam Bentuk Camilan Praktis
-
Sinopsis Coyote vs. Acme, Debut dengan Skor Tinggi dan Tuai Pujian Kritikus
-
Target PLTS 100 GW Prabowo, IESR Ingatkan Kesiapan Eksekusi di Lapangan
-
Kondisi Air Laut Aman, BMKG Ingatkan Warga NTT Hindari Bangunan Retak Usai Gempa
-
Prabowo Usul Kewarganegaraan Ganda untuk Pemain Timnas Indonesia, Skuad Garuda Bisa Terdampak
-
5 Rekomendasi Tinted Sunscreen yang Multifungsi untuk Kulit Wajah sesuai Review