Suara.com - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, mendesak Presiden Joko Widodo atau Jokowi segera mengevaluasi persentase bagi hasil untuk daerah penghasil migas. Hal itu disampaikan Mulyanto menanggapi aksi protes Bupati Kepulauan Meranti, Riau. Muhammad Adil.
Sebelumnya, beredar video debat antara Bupati Adil, dengan Dirjen Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan, Luky Alfirman gegara memprotes soal Dana Bagi Hasil (DBH) Migas.
Terkait masalah itu, Mulyanto mengatakan Jokowi harus memperhatikan aspirasi yang disuarakan oleh Adil terkait DBH.
Aspirasi itu perlu ditangani secara serius, mengingat isu terkait bagi hasil migas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat sensitif. Ia berujar apabila tidak dikelola dengan baik bisa berdampak luas hingga ke masalah kedaulatan negara.
"Sudah saatnya presiden memperhatikan kembali aturan dana bagi hasil migas ini. Buatlah besaran persentase bagi hasil yang adil dan masuk akal. Jangan sampai daerah penghasil migas kecewa lantaran tidak dapat menikmati hasil eksploitasi SDA mereka secara wajar," kata Mulyanto dalam keterangannya, Senin (12/12/2022).
Mulyanto meminta pemerintah, khususnya Jokowi untuk meninjau ulang semua aturan terkait dana bagi hasil migas. Termasuk meninjau ulang besaran bagi hasil dan komponen perhitungannya.
Ia menyarankan agar Jokowi melibatkan semua pemangku kepentingan. Hal itu untuk menghindari kesan adanya daerah penghasil migas yang merasa dieksploitasu, namun tidak dapat menikmati hasilnya.
"Pemerintah harus adil terhadap daerah penghasil migas yang miskin. Jangan hanya menyedot SDA dari tanah leluhur mereka lalu setelah itu meninggalkan penderitaan bagi masyarakat," kata Wakil Ketua Fraksi PKS DPR ini.
Baca Juga: Ekspresi Jokowi Tertatih-tatih Gendong Putranya saat Prosesi Siraman, Kaesang: Udah Kasihan Bapak
Presiden Jokowi, kata Mulyanto, harus belajar dari sejarah yang ada. Di mana hampir semua gejolak atau perlawanan di daerah kepada pemerintah pusat dipicu oleh urusan bagi hasil serupa yang dipermasalahkan Bupati Meranti.
Mulyanto menambahkan aturan terkait dana bagi hasil ini sudah lama berlaku sehingga beberapa poin dalam aturan tersebut sudah tidak relevan. Terutama kalau dikaitkan dengan semangat otonomi daerah dan upaya percepatan peningkatan kesejahteraan daerah-daerah terpencil.
Karena itu Mulyanto menilai apa yang disampaikan Adil merupakan permintaan yang wajar. Mulyanto berkeyakinan, banyak pejabat daerah lain yang mungkin memiliki aspirasi sama dengan yang disampaikan Adil terkait DBH Migas.
"Presiden harus berani membuat terobosan yang menguntungkan masyarakat daerah penghasil migas dan minerba. Jangan sampai mereka terus dieksploitasi tapi tidak sejahtera. Ini kan tidak adil dan juga bertentangan dengan ruh konstitusi bahwa kekayaan alam dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya digunakan untuk kemakmuran rakyat," kata Mulyanto.
Diketahui, Bupati Kepulauan Meranti Muhammad Adil jadi sorotan usai meluapkan amarahnya kepada Kementerian Keuangan terkait pembagian dana bagi hasil (DBH) minyak.
Hal itu ia sampaikan saat Rapat Koordinasi Nasional terkait Pengelolaan Pendapatan Belanja Daerah se-Indonesia di Pekanbaru.
Berita Terkait
-
Ekspresi Jokowi Tertatih-tatih Gendong Putranya saat Prosesi Siraman, Kaesang: Udah Kasihan Bapak
-
Kaesang Pangarep Ceritakan Malam Pertamanya di Twitter, Netizen: Jokowi Malu Lihat Ini
-
10 Potret Kocak Iriana Reuni Dadakan di Pelaminan: Kaesang Sampai Jinjit, Pak Jokowi Nyempil di Pojokan
-
Al Nahyan Berjalan Santai Sambil Bawa Pedang Mainan, Paspampres Disorot: Pasti Sebenarnya Geregetan
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan