Suara.com - Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko menyatakan dukungannya terhadap Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres). Meski begitu, ia juga menyebut bahwa di masa lalu, dirinya kerap bertolak belakang dengan Ketua Umum Gerindra itu.
Budiman dulunya merupakan aktivis yang turut menentang pemerintahan Presiden Soeharto. Sementara itu, Prabowo adalah tokoh militer yang menjadi bagian dari Orde Baru. Lantas, apa yang sebetulnya dilakukan Prabowo pada zaman tersebut?
Prabowo di Era Orde Baru
Sebagai pengingat, pada zaman Orde Baru, Prabowo menjabat sebagai Pangkostrad. Ia juga masih menjadi menantu dari Presiden Soeharto usai menikahi Titiek Soeharto. Dalam kerusuhan 1998, ia turut terlibat sehingga dimusuhi oleh Budiman.
Adapun sejumlah kerusuhan yang melibatkan massa dan aparat keamanan terjadi sepanjang Mei 1998. Saat itu, tokoh politik Amien Rais sempat merencanakan aksi besar-besaran di kawasan Monas pada 20 Mei 1998, namun batal.
Diketahui, aksi unjuk rasa itu batal karena lobi dari Prabowo. Padahal, rakyat sudah sangat kesal dengan pemerintahan Soeharto dan bermaksud melengserkannya. Meski demonstrasi dibatalkan, namun Soeharto tetap mundur pada 21 Mei.
Menyikapi situasi nasional saat itu, sebuah rapat tertutup di Gedung Departemen Pertahanan pun digelar. Dalam kesempatan ini, Panglima ABRI Jenderal Wiranto dan Kepala Staf Teritorial Letjen Susilo Bambang Yudhoyono juga turut hadir.
Wiranto menyatakan bakal tetap mempertahankan pemerintahan yang sah karena tidak ingin mengorbankan rakyat. Meski pemerintah goyah, katanya ABRI akan tetap bertahan. Adapun posisi Soeharto saat itu digantikan oleh B.J. Habibie.
Selang satu hari, sekitar pukul 06.10 WIB, Habibie menunjuk Wiranto sebagai Menhankam/Pangab. Sementara itu, ia menganggap Prabowo selaku Pangkostrad, berupaya melancarkan rencananya sendiri untuk menggerakkan pasukan.
Baca Juga: Gerindra Jawab Tuduhan Soal Food Estate, Singgung Pengkritik Para Pengurus Parpol
Dalam buku Detik-Detik Yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi karya Habibie, Wiranto meminta petunjuk soal rencana Prabowo. Atas dasar itu, Habibie menyebut Prabowo bertindak tanpa sepengetahuan Pangab.
Habibie pun setuju mencabut jabatan Prabowo sebagai Pangkostrad. Setelahnya, Prabowo diminta menghadap Habibie untuk melepaskan jabatannya pada 23 Mei 1998. Namun, Prabowo sempat berdebat terkait pencopotan itu.
Ia juga menyebut pencopotan itu merupakan bentuk penghinaan kepada dirinya sebagai menantu Soeharto. Prabowo pun menilai Habibie sudah salah paham dengan pergerakan pasukan Kostrad yang sebelumnya dilaporkan Wiranto.
Prabowo menjelaskan langkah itu dilakukan untuk mengamankan presiden karena jumlah massa sangat besar. Ia pun menambahkan bahwa Habibie adalah kepala negara yang naif. Kemudian, dirinya pun resmi dibebaskan dari dinas kemiliteran.
Kata Prabowo
Prabowo Subianto mengakui bahwa dirinya dulu memang bagian dari rezim Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Meski begitu, ia mengaku mendukung gerakan Reformasi pada 1998, yang mana berhasil memaksa Soeharto mundur.
Ia menyebut Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra merupakan salah satu saksi kunci terkait dirinya yang mendukung Reformasi. Prabowo mengatakan adaa banyak cerita dirinya dan Yusril sepanjang zaman tersebut yang tak terungkap ke publik.
Berita Terkait
-
Gerindra Jawab Tuduhan Soal Food Estate, Singgung Pengkritik Para Pengurus Parpol
-
Partai Golkar dan PAN Merapat ke Prabowo Subianto, Sekjen PDIP: Kami Tak Pernah Ikut Campur
-
Terancam Dipecat PDIP, Budiman Sudjatmiko Angkat Bicara: Saya Menunggu Saja
-
Membaca Peluang Besar Erick Thohir Dipinang Prabowo di Pilpres 2024
-
Sedih Jika Dipecat PDIP, Ini Rekam Jejak Politik Budiman Sudjatmiko
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kepala Daerah dan PPPK Tak Perlu Khawatir, Pelaksanaan Pasal 146 UU HKPD Akan Diatur Melalui UU APBN
-
Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Sedang Genting, BIMP-EAGA Harus Lebih Adaptif dan Berdampak
-
Dari Jombang hingga Pati: Mengapa Ponpes Terus Menjadi Titik Merah Predator Seks?
-
Sesumbar Donald Trump Usai 3 Kapal Perang AS Dibombardir Iran di Selat Hormuz
-
Skenario Jahat Zionis Israel Terkuak! Ciptakan Krisis Malnutrisi di Gaza
-
Viral Tampilan Sederhana Sultan Brunei Saat Wisuda Anak, Netizen: Tapi Jamnya Rp2,3 Miliar
-
Era Baru Dimulai, Robot Rp234 Juta Disumpah Jadi Biksu Buddha
-
Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Bakal Jadi Pandemi? Ini Penjelasan Resmi WHO
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi