- Siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) meninggal dunia di pohon cengkeh Dusun Sawasina, NTT pada 29 Januari 2026.
- Tragedi ini dipicu penolakan ibu korban membelikan buku tulis karena kesulitan ekonomi sehari sebelumnya.
- Rocky Gerung menilai peristiwa ini menunjukkan kegagalan negara dalam memenuhi hak dasar pendidikan rakyat.
Suara.com - Kabar duka yang menyayat hati datang dari Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10), ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya di sebuah pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026).
Tragedi ini memicu reaksi publik yang luas, termasuk dari pengamat politik sekaligus akademisi Rocky Gerung, yang menilai peristiwa ini sebagai bukti kegagalan negara dalam menyediakan hak dasar bagi rakyatnya.
Peristiwa memilukan ini bermula dari permintaan sederhana. Sehari sebelum kejadian, YBS yang menginap di rumah ibunya sempat meminta dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Namun, himpitan ekonomi membuat sang ibu terpaksa menolak permintaan tersebut karena tidak memiliki uang.
Dari kejadian ini Rocky Gerung menilai ada kontradiksi yang sangat menyakitkan antara ambisi besar pemerintah di tingkat makro dengan realitas kemiskinan di tingkat akar rumput.
"Siapapun yang membayangkan kejadian itu pasti menemukan ada yang salah di dalam syarat-syarat bangsa memelihara peradaban. Ada yang salah dengan kebijakan pemerintah di dalam memastikan keadilan sosial," ujar Rocky Gerung dalam kanal Youtube Rocky Gerung Official, pada Selasa (3/2/2026).
Rocky Gerung menyentil bagaimana pemerintah sering kali membanggakan pertumbuhan ekonomi di angka 6, 7, hingga 8 persen di forum internasional, namun gagal menyediakan satu buah buku tulis untuk anak di pelosok negeri.
“Buku tulis adalah hak dia yang seharusnya disediakan oleh negara. Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat untuk menjadi pemimpin di masa depan, menjadi berguna bagi bangsa, menjadi seseorang yang terdidik tanpa dia harus mengatakan bahwa dia ingin memperoleh bonus demografi,” tegasnya
Baca Juga: 3 Jenis Mobil Bekas yang Perlu Dihindari Meski Harganya Murah, Bukannya Untung Malah Rugi
Lebih lanjut, Rocky Gerung menyebut bahwa peristiwa YBS merupakan tamparan keras bagi "solidaritas kemanusiaan" bangsa Indonesia.
Di tengah perbincangan isu-isu besar seperti IHSG dan pertumbuhan ekonomi, publik diingatkan bahwa ada jurang pemisah yang berujung pada penderitaan nyata.
"Publik akhirnya disadarkan bahwa ada hal kecil yang membuat kita mengingat bahwa human solidarity tak lagi berkemah di dalam upaya kita menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera," lanjutnya.
Menurut Rocky Gerung, analisis makro ekonomi atau psikologi hanya bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi, namun gagal untuk mencegah niat seorang anak untuk menyerah pada hidupnya.
Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak dasar ini seharusnya menjadi tanggung jawab mutlak pemerintah daerah dan pusat untuk memastikan tidak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena keterbatasan alat tulis.
CATATAN REDAKSI: Hidup seringkali sangat sulit dan membuat stres, tetapi bunuh diri tidak pernah menjadi jawabannya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecenderungan bunuh diri, sila hubungi HOTLINE Telepon Darurat 119 ext. 8 atau WA +62 813-8007-3120 untuk konsultasi ringan dan curhat."
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Belum Bertemu Langsung Sampai Sekarang, Ressa Rizky Rossano Belum Puas Diakui Denada Lewat Sosmed
-
Janice Tjen Cetak Sejarah, Jadi Petenis Indonesia Kedua yang Tembus Top 50 Dunia
-
Jadwal Lengkap Proliga 2026 Seri Malang, Duel LavAni vs Bhayangkara Jadi Laga Pembuka
-
3 Jenis Mobil Bekas yang Perlu Dihindari Meski Harganya Murah, Bukannya Untung Malah Rugi
-
Begini Cara Mengakses Dokumen Epstein Resmi, Lengkap 3 Juta Halaman
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan