News / Nasional
Selasa, 10 Februari 2026 | 08:04 WIB
Green Media Network Dideklarasikan. (Dok. Green Media Network)
Baca 10 detik
  • Green Media Network (GMN) dideklarasikan Sabtu, 7 Februari 2026, sebagai respons krisis iklim dan fragmentasi informasi lingkungan.
  • GMN berfokus pada integrasi kolaborasi konten, akses teknologi, dan model bisnis kolektif untuk jurnalisme lingkungan berdampak.
  • Jaringan ini bertujuan menyatukan media independen untuk mengatasi kesenjangan isu lokal, menjadikannya perhatian arus utama nasional.

Suara.com - Sejumlah media yang fokus pada isu lingkungan resmi mendeklarasikan Green Media Network (GMN) pada Sabtu, 7 Februari 2026. Inisiatif ini hadir sebagai jawaban atas tantangan krisis iklim, yang menuntut pengawalan informasi kuat namun kerap terhambat oleh fragmentasi isu dan keterbatasan sumber daya media.

GMN dirancang sebagai hub penghubung yang mengintegrasikan tiga pilar utama: kolaborasi konten, akses teknologi, dan model bisnis kolektif. Tujuannya adalah membangun ekosistem jurnalisme yang independen dan berdampak, sekaligus memastikan isu lingkungan tidak lagi dianggap “sepi” pembaca.

Asep Saefullah, CEO Ekuatorial sekaligus salah satu inisiator, menegaskan bahwa GMN merupakan langkah strategis untuk memperkuat infrastruktur media.

"Dari pengalaman kolaborasi Ekuatorial dengan beberapa media, perlu ditingkatkan bukan hanya kontennya, tapi juga aspek teknologi dan bisnis. Tak kalah penting adalah memahami serta mengembangkan audiens bersama yang peduli isu lingkungan," jelas Asep.

Pentingnya jaringan ini bagi media di daerah juga ditegaskan oleh Findamorina Muhtar dari VivaSulut. Ia menilai GMN sebagai jembatan krusial untuk mengatasi kesenjangan akses dan perhatian publik terhadap isu lingkungan di wilayah terluar.

"Bagi kami di daerah, Green Media Network sangat penting. Dengan ini, kami yang jauh dari Jakarta bisa belajar dan memperoleh akses untuk mengembangkan jaringan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini mencegah isu-isu krusial di daerah tenggelam begitu saja.

"Banyak kasus lingkungan lokal yang tidak menjadi perhatian nasional karena hanya dipublikasikan oleh media lokal dengan audiens terbatas. Dengan GMN, kasus lingkungan di Miangas misalnya, akan tersebar lebih luas dan menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pengambil kebijakan," imbuhnya.

Dedek Hendry dari LiveBengkulu menekankan keberhasilan kolaborasi sebelumnya dalam mengangkat isu lokal ke panggung yang lebih luas, terutama terkait kelompok rentan.

Baca Juga: Vietnam Klaim Punya Talenta Pemain Keturunan yang Langka, Disebut Muncul Seabad Sekali

"Konten tentang petani perempuan adat di Bengkulu dengan inisiatif kopi tangguh iklim bisa tersebar lebih luas. Bahkan dengan kemasan yang menarik bagi anak muda, kearifan lokal masyarakat adat dapat tersampaikan ke generasi milenial," katanya.

Green Media Network lahir dari semangat untuk mengakhiri kompetisi ego sektoral, menggantikannya dengan kolaborasi yang memartabatkan. Melalui sindikasi konten, berbagi infrastruktur teknologi, dan collective bargaining dalam bisnis, GMN bertekad menjadikan isu lingkungan sebagai arus utama.

Isi Naskah Deklarasi

Berikut adalah naskah deklarasi yang dibacakan dan disepakati oleh para inisiator:

DEKLARASI JURNALISME UNTUK BUMI

Bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini yang merenggut hak hidup, merusak keanekaragaman hayati, dan mengancam keberlanjutan peradaban di Nusantara.

Load More