News / Nasional
Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:16 WIB
Petugas dari Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Arisan Jaya, Pemulutan Barat, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Senin (3/8/2026).[ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj]
Baca 10 detik
  • Dosen UGM Fiqri Ardiansyah menyatakan pemulihan ekosistem gambut pascakebakaran membutuhkan waktu lebih dari puluhan tahun.
  • Penghijauan awal yang cepat didominasi semak belukar belum mengembalikan struktur vegetasi, biodiversitas, dan hidrologi asal.
  • Kerusakan lapisan gambut parah memicu perubahan pola genangan air serta proses suksesi vegetasi yang sangat lama.

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak serta-merta berakhir ketika api berhasil dipadamkan. Di kawasan gambut, kerusakan ekologis dapat berlangsung jauh lebih lama karena pemulihan fungsi hidrologis dan vegetasi membutuhkan waktu puluhan tahun.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, mengatakan lamanya pemulihan sangat bergantung pada kondisi ekosistem sebelum terbakar serta tingkat keparahan kebakaran. Semakin berat kerusakan yang terjadi, semakin panjang pula proses ekosistem untuk kembali mendekati kondisi awal.

"Yang bisa dikembalikan itu secara yang paling cepat itu adalah bagaimana mengembalikan penutupannya dulu," kata Fiqri kepada Suara.com, Selasa (11/8/2026).

Tutupan lahan memang dapat kembali menghijau dalam waktu relatif singkat setelah kebakaran. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa fungsi ekologis dan hidrologis kawasan gambut telah kembali seperti semula.

"Tapi kalau secara hijau lagi belum tentu itu strukturnya mendekati yang sebelumnya, biodiversitasnya mendekati yang sebelumnya," ucapnya.

Ia menjelaskan, kawasan yang kembali hijau pada tahun-tahun awal umumnya masih didominasi semak belukar dan tumbuhan pionir. Kondisi itu berbeda dengan hutan yang telah memiliki pepohonan dengan akar dalam serta struktur vegetasi yang beragam.

Sebab, keduanya memiliki fungsi ekologis dan hidrologis yang berbeda. Ia mengatakan pemulihan struktur ekosistem membutuhkan proses suksesi yang panjang.

Setelah terjadi gangguan besar seperti kebakaran, vegetasi akan kembali melalui tahapan awal, mulai dari rumput dan tumbuhan rendah hingga akhirnya muncul jenis-jenis pohon berkayu.

"Jadi ada fase suksesinya dan itu sangat lama kalau kemudian kembali mendekati kondisi sebelumnya," ungkapnya.

Baca Juga: 10 Hari Bromo Membara, BNPB Ungkap 3 Biang Kerok Api Sulit Jinak: Medan Curam 80 Derajat

Pada kawasan gambut, persoalan pemulihan menjadi lebih kompleks mengingat fungsi hidrologis sangat berkaitan dengan struktur ekosistem dan kondisi lapisan gambut itu sendiri.

Jika lapisan gambut terbakar hingga habis, kawasan tersebut dapat mengalami perubahan kondisi yang membuatnya lebih sulit dikembalikan seperti sebelum kebakaran.

"Untuk gambut itu perlu waktu yang betul-betul sangat lama karena pembentukan gambut itu dengan ketebalan tertentu pun juga ratusan bahkan mungkin ribuan tahun itu untuk pembentukannya," tandasnya.

Kerusakan lapisan gambut dapat memunculkan persoalan baru berupa perubahan pola genangan. Area yang kehilangan lapisan gambut dapat menjadi kawasan yang mudah tergenang ketika air tinggi dan kering ketika kemarau.

Penghijauan pascakebakaran tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pemulihan. Tutupan vegetasi yang terlihat hijau belum tentu menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati, struktur hutan, maupun fungsi hidrologis telah kembali.

Menurut dia, pemulihan mendekati kondisi sebelum kebakaran dapat membutuhkan waktu lebih dari puluhan tahun. Bahkan untuk aspek hidrologis, proses pemulihan sulit dipastikan secara sederhana karena berkaitan dengan perubahan jangka panjang pada ekosistem gambut.

"Di studi itu bisa sampai lebih dari puluhan tahun itu terus kemudian untuk bisa kembali fungsinya mendekati yang sebelumnya," pungkasnya.

Load More