Suara.com - Isu pemanasan global sudah lama jadi bahan diskusi dan penelitian para ilmuwan di seluruh dunia—tapi belakangan, kekhawatirannya terasa makin nyata karena dampaknya mulai terlihat lebih cepat dari perkiraan.
Dikutip dari Grist.org, komunitas ilmiah saat ini sedang menelaah temuan baru yang menunjukkan kemungkinan adanya percepatan dalam pemanasan global. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters mengklaim bahwa suhu bumi meningkat jauh lebih cepat dalam satu dekade terakhir dibandingkan periode-periode sebelumnya antara tahun 1970 dan 2015.
Namun, data ini memicu diskusi hangat di kalangan ahli iklim mengenai apakah lonjakan tersebut merupakan tren permanen atau sekadar fluktuasi jangka pendek.
Ancaman Runtuhnya Sistem Arus Samudra
Fokus utama dari kekhawatiran para ilmuwan adalah The Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) yang telah melemah beberapa tahun terakhir seiring dengan pemanasan bumi. Sistem arus raksasa ini berfungsi membawa air dan nutrisi dari Greenland menuju Antartika, serta berperan vital dalam menstabilkan iklim global.
Jika sistem ini runtuh, kekeringan akan menyebar di seluruh belahan Bumi Selatan, sementara Pesisir Timur Amerika Serikat dapat menghadapi kenaikan permukaan laut yang signifikan. Hal ini juga dikhawatirkan dapat memicu rangkaian titik kritis lain yang bersifat permanen dan kemungkinan besar akan sulit dipulihkan oleh bumi.
Ambang Batas 1,5 Derajat
Untuk menghindari risiko tersebut, Perjanjian Paris 2015 yang ditandatangani oleh 195 negara menetapkan target dalam menjaga kenaikan suhu global tetap di bawah 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika melampaui ambang batas ini, dapat membawa iklim ke wilayah yang tidak dapat diprediksi.
Meskipun beberapa tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terpanas dengan fenomena gelombang panas dan kebakaran hutan yang meningkat, studi terbaru memberikan peringatan yang lebih mendesak. Penelitian tersebut menyatakan bahwa suhu naik hampir dua kali lebih cepat dalam satu dekade terakhir dibandingkan rata-rata kenaikan antara tahun 1970 hingga 2015. Jika lintasan ini terus berlanjut, bumi diprediksi bisa melewati ambang batas 1,5 derajat Celsius sebelum tahun 2030.
Baca Juga: Udah Rajin Nge-gym tapi Hasilnya Zonk? Jangan-jangan 7 'Blunder' Ini Biang Keroknya!
Analisis Data dan Perbandingan Metodologi
Para penulis dalam studi ini menyampaikan hasil analisis mereka yang menunjukkan bahwa jika pada periode 1970-2015 bumi menghangat 0,2 derajat Celsius per dekade, maka dalam sepuluh tahun terakhir angkanya melonjak menjadi 0,35 derajat Celsius per dekade. Terdapat kenaikan sebesar 75 persen. Temuan ini diperoleh setelah tim peneliti mengisolasi variabel "gangguan" cuaca seperti pola El Niño, letusan gunung berapi, dan aktivitas matahari.
Salah satu penulis studi tersebut, Stefan Rahmstorf dari Potsdam Institute for Climate Impact Research menekankan pentingnya durasi periode overshoot (saat suhu melebihi target). Menurutnya jika emisi dapat ditekan dengan cepat, kerusakan seperti pelelehan lapisan es di Greenland mungkin masih bisa dihambat. Namun, jika titik kritis terlampaui, kenaikan permukaan laut global hingga 24 kaki bisa menjadi ancaman yang nyata.
Muncul Skeptisisme Ilmiah
Di sisi lain, tidak semua pakar sepakat dengan klaim akselerasi tersebut. Peneliti dari Princeton University sekaligus penulis utama dalam jurnal Nature Climate Change musim panas lalu, Sofia Menemenlis, mengingatkan adanya ketidakpastian struktural dalam rekonstruksi suhu permukaan laut global. Ia berpendapat bahwa skala waktu satu dekade terlalu singkat untuk menentukan tren iklim jangka panjang secara pasti.
“Mereka tidak mempertimbangkan ketidakpastian mendasar yang dapat Anda sebut sebagai ketidakpastian struktural dalam rekonstruksi suhu global,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, professor Daniel Schrag dari Universitas Harvard menyoroti sulitnya mengoreksi data dari pengaruh El Niño secara akurat karena setiap kejadiannya memiliki karakteristik unik. “Mereka telah mengoreksi El Niño, tetapi itu hampir mustahil dilakukan, karena setiap El Niño berbeda,” jelasnya.
Ia juga mencatat bahwa model iklim jarang menangkap Osilasi Dekadal Pasifik, yaitu pergeseran suhu laut dalam siklus 20 hingga 30 tahun. Tanpa memperhitungkan faktor-faktor ini, sulit untuk memastikan apakah sinyal pemanasan yang terlihat benar-benar merupakan percepatan atau hanya variabilitas alami yang tumpang tindih.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah
-
Dampak Mengerikan Gempa Venezuela, Korban Tewas Bertambah Jadi 589 Orang
-
Bocoran Jokowi untuk Pemilu 2029: Ungkap Alasan PSI Layak Lolos ke Parlemen
-
Dittipideksus Bareskrim dan Kortastipidkor Sinkronkan Penyidikan Kasus PT TSL