Suara.com - Selama ini, gas rumah kaca sering diaanggap sebagai musuh yang menetap di atas langit. Namun, pemanasan global ternyata mengubah cara atmosfer “membuang sampah” gasnya sendiri. Hal ini terungkap dari temuan terbaru para ilmuwan di University of California, Irvine (UCI).
Seperti dikutip dari phys.org, fokus utama penelitian ini adalah Dinitrogen Oksida (N2O), yakni gas rumah kaca terpenting ketiga setelah karbon dioksida (CO2) dan metana, sekaligus musuh utama lapisan ozon saat ini.
Berdasarkan data dari satelit NASA tahun 2004-2024 (dua dekade) terungkap bahwa masa hidup N2O di atmosfer ternyata menyusut sebanyak 1,4% setiap dekadenya.
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Ironisnya, emisi CO2 yang seharusnya memanaskan permukaan bumi, justru mendinginkan lapisan stratosfer di ketinggian 10-50 km. Pendinginan ini dikombinasikan dengan perubahan pola sirkulasi udara global, sehingga mempercepat perjalanan molekul N2O menuju zona eksekusi di stratosfer atas. Di sana, gas ini kemudian dihancurkan oleh sinar ultraviolet dan reaksi kimia.
N2O biasanya dapat bertahan pada rata-rata 117 tahun, tetapi kini usianya berkurang 1,5 tahun setiap sepuluh tahunnya.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Bukan sekadar statistik kimia, temuan ini merupakan potongan teka-teki yang selama ini hilang. Dalam artikel phys.org dituliskan bahwa Profesor Michael Prather dari UCI menjelaskan bahwa efek “pembersihan otomatis” ini sangat signifikan.
Karena begitu kuat efek ini, dampak dari penurunan masa hidup N2O bisa setara dengan perubahan skenario kebijakan iklim besar-besaran. Konsentrasi gas yang ada dalam atmosfer bisa berkurang sangat banyak hanya karena perubahan sirkulasi ini, bahkan belum termasuk kita mengubah emisi di daratan.
Baca Juga: Dampak Pemanasan Global terhadap Ekosistem Pesisir Indonesia
Ada Sisi Gelapnya?
Nah meski terdengar seperti kabar baik, fenomena ini ternyata seperti pedang bermata dua. Saat N2O terurai lebih cepat, ia melepaskan oksida nitrogen yang justru bisa memakan lapisan ozon pelindung Bumi.
Itu berarti, ketika kita mencoba mendinginkan planet, mekanisme ini malah memberikan tambahan tekanan melalui Protokol Montreal pada pemulihan lubang ozon yang selama ini kita perjuangkan.
Penelitian terbitan PNAS ini menegaskan bahwa model iklim masa depan bukan hanya dengan menghitung seberapa banyak emisi yang kita buang dari lahan pertanian atau knalpot kendaraan bermotor. Namun, kita juga harus memperhitungkan bagaimana atmosfer akan “merespons” panas tersebut.
Jika variabel ini tidak dimasukkan ke dalam kesepakatan dunia, sama saja seperti kita membuat rencana perjalanan menggunakan peta lama. Prediksi iklim untuk tahun 2100 bisa jadi tidak akurat dan meleset sangat jauh.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Kanker Ginjal Tak Selalu Harus Dioperasi, Penanganannya Kini Lebih Personal
-
Lewat Sentuhan Korporasi, UMKM Desa Les Naik Kelas
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
BRI Hadirkan Promo Cicilan 0 Persen Motor Yamaha Hingga 24 Bulan
-
Ombudsman RI Ingatkan Pejabat DKI: Sekarang Warga Bisa Lebih Dulu Tahu Masalah Lewat HP
-
Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula, Misteri Hilangnya Keturunan Terakhir
-
Bisakah "Apartemen Ayam-Maggot" Menjadi Solusi Sampah Organik di Kota?
-
Temukan Kejanggalan Kematian Eks Istri Polisi, Keluarga Laporkan Dugaan Pembunuhan ke Polda Sumut
-
Bergenre Hip Hop, NCT 127 Siapkan Penampilan Powerful di Lagu Baru 'BLINGY'
-
Purbaya Bakal Salurkan Rp 20,5 Triliun Buntut Pemda Kesulitan Bayar Gaji Pegawai