- Preeklamsia yang tidak terdeteksi sejak dini meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan rendah penyebab utama stunting.
- Pemerintah dan swasta berkolaborasi meningkatkan skrining kesehatan ibu hamil melalui penyediaan perangkat teknologi medis yang memadai.
- BCA menyalurkan bantuan alat deteksi dini preeklamsia ke Puskesmas Cisompet guna memperkuat layanan kesehatan dan menekan stunting.
Suara.com - Upaya menekan angka stunting di Indonesia semakin diarahkan ke fase paling awal kehidupan: masa kehamilan. Salah satu faktor yang kini mendapat perhatian serius adalah preeklamsia, gangguan kehamilan yang kerap luput terdeteksi dini, tetapi berdampak besar pada kesehatan ibu dan bayi.
Preeklamsia diketahui dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Kedua kondisi ini merupakan pintu masuk utama terjadinya stunting—masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional.
Karena itu, deteksi dini menjadi krusial. Pemeriksaan sejak awal memungkinkan tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko lebih cepat, sehingga intervensi bisa dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi serius.
Dalam praktiknya, deteksi preeklamsia kini semakin terbantu oleh teknologi. Penggunaan perangkat seperti USG, patient monitor, serta aplikasi berbasis digital memungkinkan skrining dilakukan lebih akurat dan efisien, bahkan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
Pengadaan perangkat kesehatan di daerah, khususnya di Garut, Jawa barat, dipenuhi oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA yang turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi dan deteksi dini preeklamsia di Gedung Prof. Sujudi, Kementerian Kesehatan.
Satu paket alat deteksi dini preeklamsia disalurkan ke Puskesmas Cisompet, Garut, Jawa Barat, yang terdiri dari USG, patient monitor, tablet Android, serta aplikasi Cexup yang digunakan tenaga kesehatan untuk melakukan deteksi risiko secara lebih cepat dan akurat.
Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono menegaskan pentingnya langkah ini sebagai bagian dari upaya menekan risiko kehamilan sejak awal.
“Hari ini kami memberikan bantuan seperangkat alat deteksi dini preeklamsia, sebelumnya kami juga aktif dalam mendukung pencegahan stunting dalam beberapa tahun terakhir. Mudah-mudahan dengan apa yang kita lakukan bisa menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia,” ujarnya.
Selain penguatan fasilitas, edukasi kepada ibu hamil juga menjadi bagian penting. Tak hanya pengadaan perangkat, sosialisasi serta kesempatan melakukan skrining langsung, termasuk layanan Mini Medical Check-Up (MCU), juga diberikan kepada ibu-ibu hamil di sana.
Baca Juga: Kenapa Indonesia Butuh Susu Ibu Hamil, tapi Negara Lain Tidak?
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menambahkan bahwa pendekatan pencegahan harus dimulai dari hulu.
“Pencegahan stunting perlu dimulai dari hulu, mulai dari remaja dan kesiapan keluarga, kesehatan ibu selama kehamilan, hingga tumbuh kembang anak. Kami berharap inisiatif dari BCA dapat memperkuat upaya pencegahan sejak awal kehamilan sekaligus meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan respons yang lebih cepat dan tepat,” tutup Hera.
Pada akhirnya, fokus pada kesehatan ibu selama kehamilan menjadi fondasi penting. Sebab, pencegahan stunting tidak dimulai saat anak lahir, melainkan jauh sebelumnya—ketika kualitas kehamilan menentukan masa depan generasi berikutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi