-
Penjajah Israel membakar rumah di Jalud dan merampas 17.000 dunam lahan untuk pemukiman.
-
Serangan di Nablus mengakibatkan 15 warga luka-luka termasuk anak-anak dan perempuan.
-
Di Hebron, pasukan penjajah menangkap pasangan suami istri dan mengancam menghancurkan lima rumah.
Aktivitas ini terus berjalan meski mendapatkan kecaman internasional atas pelanggaran hak asasi manusia di Tepi Barat.
Bashar al-Qaryouti selaku petugas medis melaporkan adanya 15 korban luka akibat serangan tongkat dan lemparan batu.
Para korban terdiri dari berbagai kalangan termasuk perempuan dan anak-anak yang mengalami luka serius.
Tim medis menemukan kasus memar, patah tulang, hingga sesak napas akut akibat asap dari pembakaran rumah.
Teror ini tidak berhenti di Nablus, karena di Hebron pasukan penjajah juga melakukan penangkapan terhadap pasangan suami istri.
Shadi Khalil Gheith dan istrinya, Doaa Khader Nassar, dibawa paksa dari kediaman mereka di wilayah Yatta.
Pemerintah penjajah Israel mengeluarkan perintah pembongkaran terhadap lima rumah dan satu lumbung domba di Desa Birin.
Farid Barqan selaku kepala desa mengonfirmasi bahwa pasukan penjajah telah membagikan surat perintah penghancuran tersebut.
Alasan ketiadaan izin bangunan sering kali menjadi dalih hukum untuk meratakan bangunan milik warga Palestina.
Baca Juga: Hizbollah Kecam Diplomasi Lemah Lebanon dengan Israel, Tuntut Pelucutan Senjata
Serangan harian ini menciptakan atmosfer ketakutan yang merata bagi seluruh penduduk di Tepi Barat yang diduduki.
Lebih dari 1.150 warga Palestina telah gugur sejak Oktober 2023 akibat agresi militer dan serangan penjajah.
Aksi pembakaran dan pengusiran di Jalud merupakan kelanjutan dari pola pendudukan jangka panjang di Tepi Barat.
Sejak tahun 1967, pembangunan pemukiman ilegal terus meningkat dan mengisolasi kota-kota utama Palestina.
Berdasarkan data resmi, ribuan warga mengalami luka-luka dalam rentetan serangan yang terus meningkat setahun terakhir.
Konflik ini berakar pada sengketa lahan di mana izin bangunan hampir mustahil didapatkan oleh warga asli Palestina.
Situasi di Nablus dan Hebron mencerminkan kondisi krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian mendesak dari komunitas global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Gak Pakai Ribet! Di Jakarta Fair 2026 Bisa Belanja Sambil Bayar Pajak Kendaraan
-
Viral TNI Ikut Hadang Massa Mahasiswa saat Demo di Bundaran HI, Kapuspen: Atas Permintaan Polri
-
Bukan untuk Perang, Kenapa Komcad-TNI Dikerahkan Saat Demo Mahasiswa? Ini Kritik Tajam Koalisi Sipil
-
Hari Pertama BTN JAKIM 2026 Meriah, Ribuan Pelari Padati Kawasan GBK
-
Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?
-
Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama
-
Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian
-
'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran
-
Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI
-
Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'