-
Perebutan wilayah produksi kokain di Guaviare Kolombia memicu bentrokan yang menewaskan 52 milisi.
-
Konflik melibatkan dua faksi pecahan FARC yang menolak perjanjian damai tahun 2016.
-
Perang internal Kolombia selama enam dekade ditopang oleh bisnis narkoba dan tambang ilegal.
Suara.com - Pertempuran sengit antardua kelompok bersenjata yang berebut jalur perdagangan kokain di tenggara Kolombia menewaskan sedikitnya 52 milisi.
Insiden berdarah ini meletus di kawasan hutan pedalaman Departemen Guaviare, tepatnya di sekitar wilayah Barranco Colorado.
Dikutip dari Guardians, Jumat (29/5/2026) pagi, kawasan terisolasi tersebut dikenal sebagai pusat produksi narkotika strategis yang memicu konflik horizontal sesama faksi pembangkang.
Informasi mengenai puluhan korban jiwa ini dirilis langsung oleh salah satu faksi Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang terlibat bentrok.
Pemerintah setempat melalui Menteri Pertahanan Pedro Sánchez membenarkan adanya pertempuran brutal di wilayah tersebut.
Melalui media sosial, militer dan Menhan mengonfirmasi kejadian tersebut namun belum merinci total korban jiwa secara resmi.
Pasukan bersenjata pemerintah segera dikirim ke titik konflik demi mengamankan warga sipil yang terjebak di sekitar hutan.
Hingga saat ini, pihak Reuters menyatakan belum bisa memverifikasi jumlah 52 kematian tersebut secara independen.
Konflik bersenjata ini melibatkan kelompok pembangkang pimpinan Néstor Gregorio Vera alias Iván Mordisco melawan faksi Alexander Díaz Mendoza alias Calarcá Córdoba.
Baca Juga: Ngerinya Pilpres di Negara Ini! Dua Staf Kampanye Capres Tewas Ditembak
Kedua pemimpin tersebut merupakan loyalis masa lalu yang menolak perjanjian damai historis Kolombia pada tahun 2016.
Perjanjian satu dekade lalu itu sebenarnya telah berhasil membuat sekitar 13.000 anggota FARC meletakkan senjata mereka.
Saat ini, faksi pimpinan Díaz Mendoza sedang berada dalam penjajakan dialog damai dengan pemerintahan Presiden Gustavo Petro.
Sebaliknya, kelompok pimpinan Vera justru terlibat konfrontasi terbuka dengan otoritas negara setelah gencatan senjata bilateral dibatalkan pemerintah pada 2024.
Sebelumnya, Staf Umum Pusat selaku payung terbesar faksi pembangkang FARC sempat mengumumkan penghentian operasi militer nasional.
Moratorium serangan terhadap aparat keamanan negara tersebut dijadwalkan berlangsung dari tanggal 20 Mei hingga 10 June.
Berita Terkait
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Duka di Cikarang Utara: Ayah dan Anak Tewas Usai Ledakan Tabung Gas Hanguskan Rumah
-
Sapu Bersih 40 Suara! Emil Dardak Kembali Pimpin Demokrat Jatim Secara Aklamasi
-
Tembus Rp189 Miliar! Data PPATK Bongkar Transaksi Judi Daring Warga dan ASN di Lebak
-
Maba UII Langsung Juara Campus League, Alfira Deanika Tundukkan Unggulan UNESA
-
Menyambangi Tebuireng, Tradisi Ziarah dan Suka Cita Warga NU Jelang Muktamar Ke-35
-
Momentum HAPERNAS 2026, Perumnas Serahterimakan Hunian kepada Lebih dari 530 Konsumen
-
Bila Mufakat Buntu, Sidang Pleno III Muktamar Ke-35 NU Sepakati Opsi Voting
-
Bahtsul Masail di Muktamar NU Sepakat Kripto Boleh Ditransaksikan
-
Batas Aman BPA Diperketat! BPOM Resmikan Aturan Baru Kemasan Galon Guna Ulang
-
Pabrik Styrofoam di Cileungsi Ludes Terbakar, Percikan Las Hanguskan Bangunan Hingga 7 Mobil