- Studi PKJS Universitas Indonesia mengungkap 68 persen rumah tangga penerima program MBG memiliki anggota keluarga yang merokok.
- Kementerian Kesehatan khawatir paparan asap rokok di rumah akan menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
- Pemerintah perlu mengintegrasikan edukasi kesehatan dan pengendalian konsumsi rokok agar efektivitas program MBG dapat tercapai secara maksimal.
Suara.com - Temuan bahwa mayoritas keluarga penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih hidup dalam lingkungan perokok memicu kekhawatiran pemerintah. Kementerian Kesehatan menilai kondisi tersebut berpotensi menggerus manfaat program unggulan Presiden yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam diskusi hasil studi Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia di Oakwood Suites, Jakarta, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa sebanyak 68 persen rumah tangga penerima MBG memiliki anggota keluarga yang merokok.
"Sangat menyedihkan ya bahwa dari survei di 512 rumah tangga baik urban dan rural ini ternyata 68 persennya itu ada orang yang merokok di rumahnya," kata Nadia, Kamis (4/6/2026).
Menurut Nadia, tingginya angka perokok di lingkungan keluarga penerima MBG menunjukkan masih rendahnya kesadaran untuk melindungi anak dari paparan asap rokok.
"Tidak ada kesadaran di rumah tangga itu tentang pemahaman bagaimana melindungi anak ataupun enggak usah anak ya, enggak usah istri, anak aja enggak dijagain gitu ya."
Nadia menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius karena tujuan utama MBG bukan sekadar menyediakan makanan bagi anak-anak, melainkan menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
"Programnya Presiden itu adalah MBG. Jadi MBG itu harus sukses. Harus sukses at the end bukan hanya sampai makanannya tapi karena cita-citanya Pak Presiden itu adalah meningkatkan kualitas SDM," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa tingginya prevalensi perokok juga berpotensi menimbulkan beban kesehatan yang besar di masa depan. Menurutnya, peningkatan jumlah perokok usia muda menjadi alarm bagi pemerintah.
"Dulu 14 tahun sekarang 10 tahun. Kedua jumlah orang yang merokok itu juga masih terus bertambah," kata Nadia.
Ia bahkan mengkhawatirkan dampaknya terhadap pembiayaan kesehatan nasional dalam beberapa dekade mendatang.
Baca Juga: Tak Punya Dealer dan Bengkel Aktif, Pengadaan Motor Listrik BGN Tidak Penuhi Syarat
"Kita bisa bayangin nih Bapak Ibu sekalian ya gimana kualitas kita. Kedua apa yang akan kita panen dalam 30 tahun ke depan? Mungkin BPJS sudah pasti jebol karena faktor risiko merokok itu kan adalah faktor risiko untuk penyakit-penyakit jantung, stroke, ginjal, bahkan kanker," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pelayanan Dasar dan Rujukan Kemenko PMK, Nani Rohani, mengatakan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan keluarga.
"Sebagian besar anak penerima MBG tinggal dalam rumah tangga yang memiliki anggota perokok. Tujuh dari sepuluh rumah tangga," kata Nani.
Ia menilai program peningkatan gizi perlu dibarengi dengan edukasi kesehatan keluarga dan pengendalian konsumsi rokok.
"Investasi negara melalui program MBG ini akan memberikan hasil yang lebih optimal apabila didukung dengan lingkungan keluarga yang sehat."
Nani juga mendorong agar edukasi perilaku hidup sehat diintegrasikan ke dalam program MBG, termasuk kampanye rumah tangga bebas asap rokok.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan