- Ridho Al-Hamdi menyatakan potensi reformasi jilid dua belum cukup kuat terjadi karena lemahnya konsolidasi masyarakat sipil saat ini.
- Organisasi NU dan Muhammadiyah belum menunjukkan sikap oposisi yang solid terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.
- Tokoh kritis yang ada dinilai tidak memiliki basis massa kuat untuk menggerakkan perubahan politik secara akar rumput.
Suara.com - Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi, menilai potensi munculnya reformasi jilid dua belum cukup kuat terjadi dalam waktu dekat.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang membedakan situasi saat ini dengan Reformasi 1998 adalah belum solidnya konsolidasi civil society atau masyarakat sipil.
Ditegaskan Ridho, kekuatan civil society menjadi faktor paling penting dalam mendorong perubahan politik besar seperti yang terjadi pada 1998.
"Ya memang yang paling penting dalam reformasi jilid dua atau reformasi era baru, paling penting itu civil society itu solid," kata Ridho, kepada Suara.com, Senin (8/6/2026).
Namun, ia melihat kondisi saat ini cukup berbeda. Hal ini bisa dilihat dari organisasi masyarakat besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah belum menunjukkan sikap oposisi yang kuat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Ridho, pada masa Reformasi 1998, NU dan Muhammadiyah memiliki posisi politik yang relatif sejalan dalam menghadapi pemerintahan Presiden Soeharto.
Ada sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Amien Rais saat itu dinilai menjadi simbol kuat konsolidasi masyarakat sipil.
"Dulu 98 kan konteksnya civil society NU dan Muhammadiyah itu kan solid, ya Gus Dur dan Amien Rais itu dua-duanya anti-Soeharto," ujarnya.
Bahkan, kata dia, faksi-faksi di internal kedua organisasi tersebut juga belum sepenuhnya solid.
Baca Juga: Jawab Isu Penggulingan Prabowo, Golkar: Raison dEtre Gejolak Politik Masih Bisa Dicegah!
"Nah, sekarang kan Muhammadiyah dan NU tidak menunjukkan indikasi anti kepada Prabowo kan," imbuhnya.
Ia turut menyinggung sejumlah tokoh kritis seperti Rocky Gerung dan Saiful Mujani yang dinilai cukup vokal mengkritik pemerintah. Namun, Ridho menilai sosok tersebut belum memiliki basis massa yang kuat untuk membangun gerakan besar di tingkat akar rumput.
"Mereka tidak punya basis kekuatan massa, mereka hanya mengandalkan kekuatan intelektual yang cukup elit yang tidak punya akar di bawah," ucapnya.
Menurut Ridho, konsolidasi gerakan reformasi jilid dua membutuhkan fondasi yang jauh lebih kuat dibanding sekadar tekanan ekonomi atau krisis moneter.
Walaupun memang diakui kondisi ekonomi saat ini sedang menghadapi tekanan. Namun faktor eksternal dan dinamika politik juga perlu diperhatikan secara menyeluruh.
"Krisis moneter oke gitu ya, krisis moneter sedang dilanda tetapi aspek-aspek eksternal ya kan itu juga perlu dibaca juga," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda