Suara.com - Paparan Bisphenol A (BPA) dari galon dan kemasan plastik makanan maupun minuman yang digunakan ulang perlu mendapat perhatian serius, karena bisa menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkaitan dengan pubertas dini pada anak. Hal ini disampaikan pakar obstetri dan ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG dalam “Podcast Raditya Dika” bertajuk “Akibat Puber Terlalu Cepat”.
Menurut Prof. Budi yang akrab disapa Prof. Iko, terdapat berbagai zat kimia di lingkungan sekitar yang dapat memengaruhi sistem hormon manusia.
“Zat-zat yang terdapat di lingkungan itu bisa mengganggu mekanisme kerja hormon,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pubertas dini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang diwariskan sejak lahir tidak dapat diubah, sementara faktor lingkungan masih bisa dikendalikan. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah keberadaan zat pengganggu hormon yang dapat ditemukan dalam kemasan makanan, kemasan minuman, maupun polutan di lingkungan.
Dalam penjelasannya, Prof. Iko menyoroti BPA sebagai salah satu zat yang memiliki karakteristik menyerupai hormon estrogen.
“Dia bisa menyerupai hormon estrogen. Dia bisa bekerja di tempat kerjanya estrogen,” katanya.
Karena sifat itu, BPA berpotensi memengaruhi organ-organ yang menjadi target hormon estrogen, seperti rahim dan payudara. Menurut Prof. Iko, paparan BPA pada usia dini dapat berdampak pada percepatan perkembangan organ reproduksi.
“Sehingga kalau ada perempuan terekspos dengan Bisphenol pada usia dini, memungkinkan payudaranya tumbuh lebih cepat, rahimnya tumbuh lebih cepat, sehingga terjadilah pubertas dini tadi,” jelas Prof. Iko.
Dampak pubertas dini tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik yang muncul lebih cepat dibandingkan anak seusianya. Anak juga dapat menghadapi tantangan psikologis karena perkembangan tubuh yang tidak sejalan dengan teman-teman sebayanya. Sejumlah pakar dari Endocrine Society juga mengaitkan pubertas dini dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan psikososial, obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker payudara.
Baca Juga: BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China, Permudah Transaksi Nasabah di Luar Negeri
Prof. Iko menambahkan bahwa sumber paparan BPA kerap ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
“BPA paling banyak terjadi di kemasan makanan, kemasan minuman,” tandasnya.
Salah satu contoh yang disebutnya adalah galon air minum. Karena itu, menurut Prof. Iko, produk kemasan seperti galon perlu mendapat perhatian dari masyarakat. Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa BPOM RI telah menetapkan batas migrasi BPA maksimum sebesar 0,6 bagian per juta dalam kemasan pangan.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa isu BPA tidak hanya berkaitan dengan pubertas dini, tetapi juga kesehatan reproduksi secara umum. Menurutnya, berbagai penyakit yang menyerang organ reproduksi bisa dipengaruhi oleh paparan zat pengganggu hormon, termasuk Bisphenol dan Dioksin. Paparan ini disebutkan bisa berkaitan dengan kista endometriosis, gangguan pematangan sel telur, gangguan ovulasi, kesulitan hamil, miom, hingga kanker.
Khusus bagi ibu hamil, Prof. Iko menekankan pentingnya menghindari paparan zat tadi sejak awal masa kehamilan.
“Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu,” jelas Prof. Iko.
Berita Terkait
-
BRI Dorong Inklusi Keuangan dan UMKM Lewat Teras Kapal di 4 Wilayah Kepulauan
-
BTN JAKIM 2026 Buka Race Expo, Dorong Perputaran Ekonomi dan UMKM Jakarta
-
Sambut Idul Adha, PNM Salurkan Daging Kurban kepada Masyarakat dan Pelaku UMKM
-
BRI Salurkan KUR Perumahan Rp9,2 Triliun, Menteri PKP Maruarar Sirait Ungkap Manfaat untuk UMKM
-
Tak Hanya Kelola Dana Pensiun, Asabri Kini Garap UMKM hingga Ekonomi Hijau
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Pesta Gol Garuda! Hattrick Mitchell Lee Baker Warnai Kemenangan 5-1 atas Kamboja
-
Perusahaan Alat Berat China XCMG Resmikan Pabrik Pertama di Indonesia
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa