- Peneliti CELIOS mengungkapkan Presiden Prabowo menghabiskan Rp1,1 triliun untuk 56 kunjungan luar negeri selama 1,5 tahun terakhir.
- Besaran anggaran tersebut dinilai kontras dengan defisit fiskal daerah yang menyebabkan pemerintah gagal membayarkan gaji guru honorer.
- Dana perjalanan dinas luar negeri itu dianggap jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk pembangunan rumah sakit daerah nasional.
Suara.com - Peneliti Hukum Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Muhammad Saleh, mengungkap estimasi fantastis biaya kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang mencapai Rp1,1 triliun dalam kurun waktu 1,5 tahun.
Anggaran tersebut disoroti karena dianggap jomplang dengan kondisi fiskal daerah yang kini tengah tercekik hingga tak mampu membayar gaji guru.
Berdasarkan data CELIOS, Presiden telah melakukan setidaknya 56 kali kunjungan internasional. Saleh merinci, rata-rata satu kali perjalanan menghabiskan Rp22,5 miliar, dengan estimasi biaya per wilayah, yakni Asia Rp5-10 miliar, Timur Tengah Rp10-20 miliar, Eropa Rp25 miliar, dan Amerika Rp30 miliar.
“Kita rata-ratakan ada 22,5 miliar per satu kali jalan, dikali 49 kali misalkan kunjungan itu sudah habis 1,1 triliun. Dan itu lebih tinggi dari budget daerah di Kabupaten, di Dompu itu cuman 900 miliar karena sudah kena efisiensi,” ujar Saleh saat podcast Deeptalk di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip Senin (15/6/2026).
Saleh menilai penggunaan anggaran yang masif untuk perjalanan dinas luar negeri ini merupakan bentuk ketidakpekaan terhadap prioritas nasional. Ia membandingkan dana Rp1,1 triliun tersebut dengan kondisi para guru honorer di daerah.
"Beberapa minggu lalu, teman-teman dari pemerintah Provinsi Maluku Utara dan kemudian di Riau menyatakan mereka mengalami defisit fiskal, kemudian tidak bisa membayar gaji guru. Nah kenapa kemudian pemerintah luput bahwa sebenarnya kita punya prioritas-prioritas substantif yang harusnya dilakukan?" tegasnya.
Padahal, menurut perhitungan CELIOS, anggaran Rp1,1 triliun tersebut sangat signifikan jika dialokasikan untuk infrastruktur kesehatan.
"Kita bisa membangun RSUD, tipe D itu 20-30 RSUD kalau kita pakai dana itu," tambah Saleh.
Sepuluh Kali Lipat Anggaran Komnas HAM
Ketimpangan juga terlihat saat membandingkan biaya kenegaraan tersebut dengan anggaran lembaga negara penting lainnya. Dana Rp1,1 triliun tersebut setara dengan 10 kali lipat anggaran tahunan Komnas HAM yang hanya sebesar Rp112 miliar, atau anggaran Komnas Perempuan yang berada di kisaran Rp100 miliar.
Baca Juga: 'Jaga Wibawa dan Jangan Ngeledek', Pengamat Bandingkan Gaya Pidato Prabowo dengan Putin
Saleh membantah klaim pemerintah bahwa kunjungan tersebut efektif mendorong investasi asing. Ia menyebut, dari klaim investasi Rp2.000 triliun pada 2025, kontribusi asing sebenarnya hanya 49 persen.
“Kalau kita lihat angka belakangan ini, realisasi investasi asing di Indonesia itu kan justru tidak jauh lebih baik. Misalkan Teddy klaim bahwa ada 2.000 triliun investasi di tahun 2025 itu kan angka gabungan dari penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri. Dan kontribusi asing atau penanaman modal asing itu kan cuman 49% dari keseluruhan itu. Artinya proporsinya itu tidak begitu besar,” ujarnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
'Jaga Wibawa dan Jangan Ngeledek', Pengamat Bandingkan Gaya Pidato Prabowo dengan Putin
-
Pangi Syarwi: Kalau Prabowo Berhenti Pidato Dua Minggu, Jangan-jangan Tenang Negara Ini
-
Prabowo Bukan Negarawan, Tapi Wisatawan!
-
Tiba di Istana Merdeka, Dua Kali Mata Presiden Jerman Frank-Walter Terpukau Tarian Tradisional
-
Kenapa Dana Pribadi Presiden Prabowo Langgar UU? Ini Penjelasan Peneliti CELIOS
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga