- Donald Trump dituntut memenuhi janji menurunkan harga minyak setelah kesepakatan damai perang Iran.
- Pemulihan distribusi minyak terhambat oleh ancaman ranjau laut yang ditanam Iran di Selat Hormuz.
- Pelaku industri pelayaran global masih ragu mengirim kapal karena lonjakan biaya premi asuransi.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini dituntut membuktikan janjinya kepada publik global. Kesepakatan damai perang Iran yang segera diteken akhir pekan ini menjadi pertaruhan atas stabilitas ekonomi dunia.
Selama ini, Trump berulang kali menegaskan bahwa harga energi akan segera merosot tajam begitu konflik selesai. Faktanya, memulihkan jalur pasokan komoditas hitam tersebut ke posisi normal tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Harga minyak mentah Brent memang sempat melandai ke bawah angka 85 dolar AS per barel. Namun, situasi di pasar berjangka menunjukkan kecemasan mendalam bahwa pemulihan total baru terjadi tahun 2031.
Kondisi psikologis pasar dipengaruhi oleh realitas hancurnya infrastruktur logistik pasca-perang di Timur Tengah. Harapan kembalinya harga bahan bakar murah bentrok dengan fakta lapangan yang rumit.
"Kita akan melihat seperti apa kondisi normal yang baru nanti," ujar Dan Pickering, pendiri sekaligus kepala investasi di Pickering Energy Partners dikutip dari CNN.
"Namun, kondisinya tidak akan menghasilkan bensin seharga 2,85 dolar AS lagi."
Ketika pemblokiran jalur laut dibuka resmi hari Jumat, ratusan juta barel minyak terjebak di kapal tanker. Distribusi tersebut tersendat karena Iran menanam banyak ranjau laut di sepanjang kawasan Selat Hormuz.
Kondisi tersebut memaksa kapal-kapal tanker raksasa hanya bisa melewati dua jalur navigasi yang sangat sempit. Akibatnya, terjadi penumpukan armada yang memperlambat arus keluar masuk pasokan energi secara drastis.
Nakhoda kapal harus ekstra waspada memandu jalannya armada agar tidak saling bertabrakan atau kandas. Proses pembersihan ranjau berisiko tinggi oleh Angkatan Laut AS diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu.
Baca Juga: Tiba di AS, Timnas Iran Lansung Disambut Aksi Demonstrasi, Ini Biang Keroknya
Aspek lain yang memperlambat normalisasi pasokan adalah ketersediaan armada tanker yang siap muat di sekitar selat. Jumlah kapal yang bersiap di lokasi saat ini jauh lebih sedikit dari kondisi normal.
Dunia internasional juga masih mengkhawatirkan stabilitas keamanan regional jika kesepakatan damai tersebut dilanggar sepihak. Premi asuransi kapal otomatis melonjak drastis, membuat banyak perusahaan logistik enggan berspekulasi mengirim armada mereka.
"Pemilik kapal tidak akan bergerak dalam jumlah besar tanpa gencatan senjata yang kredibel dan stabil dari kedua belah pihak yang berkonflik," kata Jakob Larsen, petugas keselamatan & keamanan di BIMCO.
Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah melumpuhkan aktivitas ekonomi di Selat Hormuz sejak Februari lalu. Jalur strategis ini merupakan urat nadi utama yang mendistribusikan seperlima pasokan minyak dunia.
Sektor industri memproyeksikan proses pemulihan operasional pelayaran membutuhkan waktu minimal 2 hingga 6 bulan. Selama masalah mendasar di jalur distribusi ini belum selesai, harga energi global dipastikan tetap tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular