- Tulus Abadi dari FKBI mengkritik usulan Andi Yuliani Paris terkait penyediaan rokok murah bagi masyarakat miskin.
- Usulan tersebut dianggap bertentangan dengan UU Cukai yang mewajibkan produk adiktif dijual dengan harga tinggi.
- Data BPS menunjukkan konsumsi rokok membebani ekonomi rumah tangga miskin lebih besar dibanding pengeluaran untuk pangan.
Suara.com - Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi mengritik pernyataan Anggota DPR Fraksi PAN Andi Yuliani Paris dalam rapat kerja dengan Kementerian Keuangan di DPR
Tulus menyoroti pernyataan Andi Yuliani yang meminta pemerintah memberikan kesempatan pada pabrik rokok untuk membuat produk rokok yang harganya lebih murah, khusus untuk masyarakat miskin, yang harganya terjangkau.
Menurut Tulus yang merupakan Pegiat Perlindungan Konsumen, pernyataan Andi Yuliani memalukan.
"Hanya sekelas dan selevel itu anggota DPR PAN, dalam memahami regulasi dan kebijakan. Sudah sangat gamblang bahwa rokok adalah produk adiktif yang dikenai cukai, yang memang harus dibatasi dan dikendalikan konsumsinya, apalagi untuk rumah tangga miskin," kata Tulus dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Berdasarkan data BPS, Tulus mengatakan justru rumah tangga miskin menggelontorkan pendapatannya lebih banyak untuk konsumsi rokok, yakni sebesar 10-11 persen. Sedangkan untuk lauk pauk justru hanya 3,5 persen.
Merujuk pada filosofi aspek normatif UU Cukai, Tulus mengingatkan bahwa produk yang dikenakan cukai justru harus dijual dengan bandrol harga yang lebih mahal.
Harga yang tinggi tersebut diterapkan semata untuk melindungi masyarakat.
"Bukan malah dijual dengan harga murah dengan pertimbangan daya beli, jelas ini usulan yang absurd," kata Tulus.
Tulus mengatakan pernyataan Andi Yuliani sebagai Anggota DPR sangat memalukan dan merendahkan derajat masyarakat menengah bawah.
Baca Juga: Bahan Pokok Naik tapi Rokok Dimurahkan, Koalisi Sipil Geruduk Kemenkeu Protes Kebijakan Purbaya
"Karena mentang-mentang masyarakat miskin lalu diberikan produk beracun, yang justru bisa menyakiti, memiskinkan bahkan membunuh mereka. Penyataan itu sama artinya mendorong agar kemiskinan akut tetap langgeng, dan akhirnya mereka gampang dibodohi dan ditipu para pemimpin dan para politisi kampungan," kata Tulus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Beli Mobil Mitsubishi di GIIAS 2026, Ada Promo Bunga 0 Persen dan DP Ringan
-
RTV Cari 'The Next Star' Lewat Rajawali Junior League 2026, Ada Ismed Sofyan Juga Lho!
-
Ramalan Keberuntungan Shio Babi Agustus 2026: Ada Peluang Cuan, Tapi Pantang Lakukan Hal Ini!
-
Jelang Muktamar ke-35, Gus Ipul Sebut 501 Cabang dan Wilayah NU Telah Masuk Daftar Peserta Sementara
-
AION UT Black Resmi Melantai di GIIAS 2026 Sebagai Pilihan Mobil Listrik Bergaya Elegan
-
4 Pameran di JIExpo Hadirkan Tren Beauty, Kesehatan, hingga Tekstil Terbaru
-
Sengketa HGB di STC, Dewan Cek Ruko yang Disegel Pemkot Pekanbaru
-
JKIND Rayakan Eksistensi 25 Tahun dalam Industri Kaca Film di Pameran GIIAS 2026
-
Andai Dapat Restu dari Presiden Prabowo dan FIFA, Erick Thohir Gas Maju Lagi Jadi Ketum PSSI
-
Jokowi Dinobatkan sebagai Sesepuh oleh 9 Raja Timor