Bisnis / Keuangan
Rabu, 17 Juni 2026 | 07:45 WIB
Pengunjung meramaikan acara "Vape Fair" di JCC, Jakarta, Sabtu (7/9). (Suara.com/Angga Budhiyanto)
Baca 10 detik
  • Vape dipakai 40% perokok dewasa Inggris sebagai alat bantu beralih merokok.
  • Studi JAMA: peluang sukses beralih dengan vape lebih tinggi dibanding metode lain.
  • Akademisi dorong edukasi dan regulasi berbasis bukti ilmiah serta harm reduction.
     

Suara.com - Rokok elektrik atau vape kini menjadi alat bantu beralih dari kebiasaan merokok yang paling banyak digunakan oleh perokok dewasa di Inggris. Temuan tersebut terungkap dalam jurnal ilmiah JAMA Network berjudul Prevalence of Popular Smoking Cessation Aids in England and Associations With Quit Success yang dipublikasikan pada 2025.

Penelitian itu menunjukkan sekitar 40% perokok dewasa di Inggris pada periode 2023-2024 memilih vape sebagai sarana untuk mengurangi atau meninggalkan kebiasaan merokok. Angka tersebut menjadikan vape sebagai metode yang paling populer dibandingkan berbagai alternatif lainnya.

Principal Research Fellow in the UCL Alcohol and Tobacco Research Group, Sarah E. Jackson, menjelaskan bahwa pemilihan metode yang lebih efektif berperan penting dalam meningkatkan peluang seseorang untuk berhasil beralih dari rokok konvensional.

"Upaya beralih dari kebiasaan merokok dengan bantuan vape memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain," kata Sarah dalam hasil penelitian tersebut.

Temuan ini menarik perhatian kalangan akademisi di Indonesia. Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. drg. Amaliya, M.Sc., Ph.D, menilai pengalaman Inggris menjadi salah satu contoh penerapan strategi pengurangan bahaya atau harm reduction yang paling menonjol di dunia.

Menurutnya, pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu perokok dewasa yang mengalami kesulitan berhenti merokok sepenuhnya agar beralih ke produk dengan profil risiko yang lebih rendah.

"Perkembangan penggunaan rokok elektrik sebagai alat bantu beralih dari kebiasaan merokok di Inggris menjadi salah satu studi kasus paling menonjol secara global dalam menggunakan inovasi untuk mengurangi bahaya tembakau," ujar Amaliya.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang membuat vape dinilai lebih efektif bagi sebagian pengguna dibanding terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy/NRT) adalah kemampuannya meniru kebiasaan merokok. Mulai dari gerakan tangan ke mulut hingga sensasi penggunaan yang menyerupai rokok konvensional.

Selain itu, pengguna juga dapat mengatur kadar nikotin secara bertahap sehingga dinilai membantu mengurangi keinginan untuk kembali merokok. Variasi perangkat yang tersedia juga disebut mampu meningkatkan kepatuhan pengguna dalam proses transisi, terutama bagi perokok dewasa dengan tingkat ketergantungan tinggi.

Baca Juga: Trevoh Chalobah Dipanggil Timnas Inggris Gantikan Tino Livramento di Piala Dunia 2026

Meski demikian, Amaliya mengingatkan bahwa produk tembakau alternatif bukan berarti bebas risiko kesehatan. Perbedaan mendasar antara vape dan rokok konvensional terletak pada tidak adanya proses pembakaran pada vape.

Rokok konvensional menghasilkan asap yang mengandung TAR dan karbon monoksida, dua zat berbahaya yang selama ini dikaitkan dengan berbagai penyakit akibat merokok. Sementara itu, vape bekerja melalui sistem pemanasan yang menghasilkan aerosol.

Dalam penelitian yang dilakukannya terkait kesehatan mulut dan gingivitis, Amaliya menemukan adanya perbedaan kondisi rongga mulut antara perokok dan pengguna produk tembakau alternatif. Perokok diketahui lebih rentan mengalami gangguan gusi, perubahan warna gigi, hingga penumpukan plak akibat paparan asap hasil pembakaran.

"Perokok dewasa yang beralih ke produk alternatif menunjukkan kecenderungan kesehatan gusi yang lebih baik dibandingkan perokok. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa produk alternatif bukan bebas risiko dan penggunaannya harus disertai edukasi yang benar," jelasnya.

Menurut Amaliya, edukasi menjadi faktor penting apabila pendekatan pengurangan bahaya ingin diterapkan lebih luas. Ia menegaskan produk alternatif hanya diperuntukkan bagi perokok dewasa yang ingin beralih, bukan untuk non-perokok, remaja maupun ibu hamil.

Di sisi lain, ia menilai pengembangan kebijakan terkait produk tembakau alternatif harus didasarkan pada bukti ilmiah yang objektif dan transparan. Hal itu mencakup penelitian klinis jangka panjang, keterlibatan akademisi independen, serta regulasi yang mempertimbangkan profil risiko masing-masing produk.

Meski demikian, Amaliya menegaskan bahwa pilihan terbaik bagi kesehatan tetap berhenti sepenuhnya dari penggunaan produk tembakau maupun nikotin.

"Pendekatan riset dan kebijakan mengenai produk tembakau alternatif perlu berbasis bukti ilmiah yang objektif dan transparan agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh dan tidak menyesatkan," tutupnya.Akademisi dorong edukasi dan regulasi berbasis bukti ilmiah serta harm reduction.

Load More