Suara.com - Perkembangan kecerdasan buatan artificial intelligence (AI) semakin pesat dan mulai dimanfaatkan untuk mendukung berbagai upaya mitigasi perubahan iklim. AI mampu menganalisis data dalam jumlah besar untuk meningkatkan efisiensi energi, mengoptimalkan sistem transportasi, hingga memantau kondisi lingkungan secara real time. Bahkan, karena kemampuannya tersebut, banyak pihak meyakini bahwa AI dapat membantu mengurangi emisi karbon di masa depan.
Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sesederhana itu. Di balik potensi manfaatnya, AI juga membutuhkan energi yang sangat besar untuk menjalankan pusat data (data center) yang menjadi infrastruktur utamanya. Konsumsi energi yang tinggi ini justru berpotensi meningkatkan emisi karbon apabila sumber listrik yang digunakan masih bergantung pada bahan bakar fosil.
AI dan "Lembah Karbon"
Dalam studi berjudul "Rapid Artificial Intelligence Deployment Increases Near-Term Pressure on Global Carbon Budgets", peneliti dari Kuwait University, Yassine Charabi, mengembangkan model untuk menghitung kebutuhan listrik dan emisi karbon yang dihasilkan dari perkembangan AI di masa depan.
Model tersebut memasukkan berbagai variabel, seperti siklus penggantian perangkat keras (hardware), proyeksi kebutuhan komputasi AI, serta perkembangan sistem energi global. Setelah melakukan sekitar 10.000 simulasi, Yassine menemukan fenomena yang ia sebut sebagai lembah karbon.
Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika emisi karbon yang dihasilkan dari pembangunan dan pengoperasian infrastruktur AI lebih besar dibandingkan pengurangan emisi yang dapat dicapai melalui penerapan AI itu sendiri. Dengan kata lain, pada tahap awal pengembangannya, AI justru berpotensi menambah emisi karbon ke atmosfer sebelum manfaat lingkungannya benar-benar terasa.
Perlu Trasisisi dari Penggunaan AI
Temuan tersebut menjadi perhatian penting bagi Indonesia yang tengah mempercepat transformasi digital di berbagai sektor. Pemanfaatan AI mulai didorong untuk mendukung reformasi birokrasi, pendidikan, pembangunan kota cerdas, ketahanan pangan, hingga layanan kesehatan, sebagaimana dilaporkan oleh Indonesia.go.id (18/7/2026).
Di sisi lain, peningkatan penggunaan AI juga akan mendorong pembangunan pusat data yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Padahal, bauran energi nasional Indonesia masih didominasi oleh pembangkit listrik berbasis batu bara. Jika kebutuhan listrik AI terus meningkat tanpa diimbangi percepatan penggunaan energi terbarukan, maka emisi karbon dari sektor digital berpotensi ikut meningkat.
Baca Juga: Tim Cook Bongkar Alasan Kenaikan Harga iPhone, Produk Ini Paling Berdampak
Menurut Yassine, salah satu cara untuk memperkecil fenomena lembah karbon adalah dengan mempercepat pemanfaatan AI pada sektor-sektor yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Jika adopsi tersebut terus tertunda, akumulasi emisi tambahan dapat mencapai sekitar 0,45 gigaton CO2 setiap tahun.
"Dalam skenario percepatan penyebaran pusat data AI yang dianalisis, pengurangan emisi tahunan memang dapat mengubah lintasan emisi di masa depan, tetapi tidak mampu menghapus tambahan emisi CO kumulatif yang telah terjadi sebelumnya," ujar Yassine
Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan AI perlu diiringi dengan transisi energi bersih agar manfaatnya terhadap iklim benar-benar dapat diwujudkan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Kekalahan dari Persib Jadi Sinyal Keras, Shin Tae-yong Beberkan Masalah Utama Persija
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?
-
Klub Mees Hilgers Punya Masalah Besar, Eks Pelatih MU Dituding Jadi Biang Kerok
-
9 Sunscreen untuk Memudarkan Flek Hitam dan Bekas Jerawat, Mudah Dibeli Online
-
Gus Ipul Tekankan Tiga Prioritas Pengelolaan Sekolah Rakyat
-
Malaysia Perketat Keamanan Bandara Usai Pilot Malaysia Airlines Selundupkan Ekstasi ke Jakarta
-
Tito Minta 16 Kementerian/Lembaga Percepat Eksekusi Program Rehab-Rekon Pascabencana di Sumatera
-
Rilis Surfin' Boy, Red Velvet Warnai Musim Panas dengan Suasana Romantis
-
Gus Ipul Bantah Isu Rebutan Tambang Jelang Muktamar NU: Itu Fitnah dan Jauh dari Fakta
-
Diberhentikan Sementara sebagai Jaksa, Febrie Adriansyah Masih Terima 50 Persen Gaji Pokok