- Pemerintah dan pelaku industri membahas rencana kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis pada diskusi.
- Kebijakan ini bertujuan meningkatkan tata kelola perdagangan, daya saing nasional, serta memperkuat posisi tawar harga komoditas global.
- Keberhasilan kebijakan bergantung pada sinergi pemerintah, pelaku usaha, serta regulasi yang mendukung hilirisasi dan iklim investasi sehat.
Suara.com - Wacana penerapan kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti kelapa sawit dan hasil tambang mendapat beragam respons dari pemerintah, pelaku industri, hingga kalangan ekonom. Selain dinilai berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global, kebijakan tersebut juga perlu dirancang secara matang agar tidak mengganggu kepastian usaha dan iklim investasi.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengingatkan bahwa setiap kebijakan yang menyangkut tata kelola perdagangan komoditas harus mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin muncul.
"Setiap kebijakan perlu dirancang secara hati-hati agar mampu menjaga keseimbangan antara peningkatan daya saing nasional, kepastian usaha, dan iklim investasi yang sehat," kata Huda dalam diskusi bertajuk "Ekspor Satu Pintu dan Masa Depan Industri Sawit dan Tambang Nasional" yang ditayangkan TV Tempo, Rabu (24/6/2026).
Menurut Huda, Indonesia memang memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya dalam perdagangan komoditas dunia. Namun, ia menilai keberhasilan kebijakan akan sangat bergantung pada kesiapan regulasi serta koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, industri, dan lembaga kajian, yakni Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah, serta Nailul Huda dari CELIOS.
Dalam kesempatan itu, Ferry Irawan menjelaskan bahwa penguatan tata kelola ekspor merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun sistem perdagangan yang lebih baik dan memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional.
"Penguatan tata kelola ekspor merupakan bagian dari upaya menciptakan sistem perdagangan yang lebih efisien, transparan, dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Ferry.
Menurutnya, reformasi tata kelola ekspor menjadi penting mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil berbagai komoditas strategis dunia, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, hingga produk logam.
Sementara itu, Direktur Eksekutif PASPI Tungkot Sipayung menyoroti posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia yang dinilai belum memiliki pengaruh sebanding dalam pembentukan harga komoditas global.
Baca Juga: DSI Diam-diam Bertemu ke Sekuritas, Ini Dampaknya ke Saham Komoditas
Ia menyebut harga sawit internasional hingga kini masih banyak dipengaruhi oleh pusat perdagangan dan bursa komoditas yang berada di luar negeri. Karena itu, model ekspor yang lebih terintegrasi dinilai berpotensi memperkuat posisi tawar Indonesia.
"Dengan konsolidasi ekspor yang lebih baik, Indonesia tidak hanya menjadi produsen terbesar, tetapi juga berpeluang meningkatkan pengaruh terhadap mekanisme pembentukan harga komoditas global," kata Tungkot.
Menurut dia, penguatan posisi Indonesia dalam rantai perdagangan internasional dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari sektor sawit yang selama ini menjadi andalan ekspor nasional.
Pandangan lain disampaikan Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah. Ia menekankan bahwa setiap kebijakan ekspor harus tetap mendukung agenda hilirisasi yang tengah dijalankan pemerintah.
"Penguatan kendali terhadap rantai pasok dan perdagangan komoditas strategis akan meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global," ujar Arif.
Ia menilai pengelolaan perdagangan komoditas yang lebih terintegrasi dapat membantu memperkuat industri dalam negeri sekaligus mendukung upaya peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi.
Meski memiliki sudut pandang yang berbeda, para narasumber sepakat bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan posisi strategisnya dalam perdagangan komoditas dunia. Namun, mereka menilai keberhasilan kebijakan ekspor satu pintu akan bergantung pada sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan dukungan regulasi yang jelas.
Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, Indonesia dinilai tidak hanya berpotensi menjadi produsen utama komoditas strategis dunia, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat pengaruh dalam perdagangan global dan meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar