News / Internasional
Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:15 WIB
Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, pada 21 Juni. [West Asia News Agency/via Reuters]
Baca 10 detik
  • Militer Amerika Serikat menyerang fasilitas militer Iran di Iran selatan pada Jumat (26/6/2026) sebagai balasan serangan terhadap kapal kargo.
  • Serangan tersebut menyasar lokasi penyimpanan rudal, fasilitas drone, dan instalasi radar pesisir sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata.
  • Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dengan kelompok Hizbullah guna meredam konflik di Timur Tengah.

Suara.com - Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer di Iran pada Jumat (26/6/2026) waktu setempat sebagai respons atas serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan kapal kargo di Selat Hormuz.

Kedua negara saling menyalahkan atas meningkatnya ketegangan dan menuding pihak lawan telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada pekan sebelumnya.

Melansir Asiaone, Sabtu (27/6/2026), Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut menyasar lokasi penyimpanan rudal, fasilitas penyimpanan drone, serta instalasi radar pesisir milik Iran.

Seorang pejabat AS mengatakan operasi militer itu telah selesai dilaksanakan.

Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan sebuah proyektil menghantam area di sekitar dermaga Sirik, Iran selatan.

ilustrasi Selat Hormuz (Google Gemini)

Teheran mengklaim angkatan lautnya kemudian merespons dengan menyerang sasaran militer AS di kawasan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, muncul perkembangan diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Israel dan Lebanon dilaporkan menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Kesepakatan tersebut dipandang sebagai langkah awal menuju penghentian konflik. Berdasarkan isi kesepakatan, Hizbullah diminta melucuti persenjataannya, sedangkan Israel akan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon.

Baca Juga: 4 Fakta Menarik Ketangguhan Turki Menjegal Dominasi Amerika Serikat di Piala Dunia 2026

Namun, mekanisme pelaksanaan kesepakatan itu masih belum jelas. Hizbullah juga menyatakan tidak akan bekerja sama dalam proses tersebut.

Sebelumnya, Teheran menyatakan akan memperketat pengawasan di Selat Hormuz dan memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak berpihak kepada Washington menyusul insiden serangan terhadap kapal kargo yang melintas di dekat pantai Oman pada Kamis (25/6/2026).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tersebut.

Menurut Trump, tindakan itu merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai sebelumnya.

Dalam pernyataannya, Komando Pusat AS menyebut serangan terhadap kapal komersial merupakan bentuk agresi yang tidak dapat diterima dan menjadi dasar dilakukannya operasi militer balasan.

Militer AS juga menegaskan akan terus berkoordinasi dengan mitra internasional untuk menjamin keamanan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia.

Load More