- Dosen UGM Jayan Sentanuhady menyatakan Indonesia memiliki kemampuan teknis dan sumber daya manusia untuk memproduksi mobil nasional.
- Tantangan utama industri otomotif nasional adalah kurangnya keberpihakan pemerintah dalam membangun pasar dan ekosistem industri yang kompetitif.
- Pemerintah perlu memberikan proteksi, insentif, serta menjadi pembeli pertama untuk menumbuhkan budaya mencintai produk otomotif dalam negeri.
Suara.com - Pertanyaan Presiden Prabowo Subianto soal mengapa Indonesia belum mampu memiliki mobil buatan sendiri hingga puluhan tahun merdeka dinilai bukan lagi persoalan kemampuan teknis.
Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menilai tantangan terbesar justru terletak pada keberpihakan pemerintah dalam membangun pasar dan ekosistem industri otomotif nasional.
Menurut Jayan, Indonesia sebenarnya telah memiliki sumber daya manusia yang mampu merancang dan memproduksi kendaraan. Namun, tanpa perlindungan pasar dan dukungan pemerintah, industri nasional akan sulit bersaing dengan produk impor maupun pemain otomotif global.
"Secara teknik membuat mobil/motor itu bisa, hanya perlu modal dan skill engineering, orang indonesia udah mampulah. Dari semua itu ada yang lebih penting, market," kata Jayan kepada Suara.com, Sabtu (27/6/2026).
Ia mengatakan pemerintah perlu menunjukkan keberpihakan yang nyata, mulai dari memberikan proteksi terhadap industri dalam negeri, insentif, hingga menumbuhkan budaya mencintai produk nasional.
Jika melihat negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan yang berhasil membangun industri otomotif, kata Jayan, hal itu tak bisa dilepaskan dari masyarakatnya yang turut didorong untuk menggunakan produk buatan negaranya sendiri.
"Jadi ada dua kesimpulan, kemauan pemerintah memberikan proteksi, kemauan pemerintah menumbuhkan budaya cinta produksi dalam negeri. Awalnya mungkin memberikan insentif," ujarnya.
Jayan mencontohkan, apabila pemerintah ingin mendorong perusahaan seperti Pindad memproduksi mobil nasional, maka instansi pemerintah, baik militer maupun sipil, harus berani menjadi pembeli pertama untuk kendaraan dinas.
Meski langkah tersebut memang belum cukup untuk langsung membangun industri otomotif yang besar, setidaknya hal itu dapat menjadi awal terbentuknya ekosistem manufaktur nasional.
Baca Juga: Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!
"Itulah pentingnya pemerintah hadir. Sekarang bisnis otomotif sebenarnya sudah berdarah-darah, jadi kalo mau masuk di industri itu dukungan pemerintah harus kuat, proteksi harus di lakukan. Proteksi dan insentif itu biasanya dalam satu kesatuan," tandasnya.
Lebih lanjut, ia menilai kegagalan berbagai proyek mobil nasional pada masa lalu tidak lepas dari lemahnya fondasi industri yang dibangun. Menurutnya, proyek-proyek tersebut lahir bukan karena kebutuhan industri yang berkembang secara alami.
"Kalau saya lihat dulu itu lahirnya enggak natural, tapi karena unsur kedekatan. Sehingga ketika pemerintah enggak mampu support karena pemerintah ambruk dengan cepat industrinya bubar. Intinya pemerintah harus jadi costomer pertama dan diikuti oleh masyarakat," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!
-
Honda, Nissan dan Mitsubishi Jalin Kerja Sama, Ada Udang di Balik Batu
-
Strategi Motul Dekati Konsumen Melalui Jaringan Bengkel Modern B-Quik
-
Suzuki Ignis Kena Recall, Apa Bagian yang Rusak?
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar