- Pakar Nandang Sutisna menyoroti fenomena safari politik Joko Widodo pascapurna tugas sebagai bentuk kegagalan membedakan kekuatan personal dengan sistem.
- Keberhasilan masa jabatan Jokowi merupakan produk kolektif dari ekosistem politik, bukan semata kapasitas pribadi sebagaimana yang diasumsikan secara berlebihan.
- Upaya mempertahankan pengaruh keluarga setelah masa jabatan berakhir berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap prinsip meritokrasi dan nilai historis kepemimpinan.
Suara.com - Aktivitas safari politik yang intens dilakukan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), pascapurna tugas memancing diskusi hangat di kalangan pengamat tata kelola pemerintahan.
Pakar Manajemen Publik, Nandang Sutisna, menilai fenomena ini sebagai gambaran persoalan klasik dalam kepemimpinan publik nasional: kegagalan membedakan kekuatan personal dengan kekuatan sistem.
Nandang menyoroti adanya kecenderungan mantan pemimpin yang terjebak dalam apa yang disebutnya sebagai "Leadership Delusion".
Dalam perspektif ilmu manajemen publik, Leadership Delusion terjadi ketika seorang mantan pemimpin meyakini secara berlebihan bahwa seluruh keberhasilan yang diraih selama menjabat murni hasil kapasitas pribadinya.
Padahal, menurut Nandang, keberhasilan jabatan publik dalam skala negara merupakan produk kolektif dari ekosistem kekuasaan yang sangat kompleks.
“Kemenangan dan keberhasilan tersebut lahir dari kombinasi dukungan institusi, partai politik, kekuatan koalisi, mesin birokrasi, serta legitimasi publik yang melekat pada jabatan (posisional),” ujar Nandang dalam keterangannya, Minggu (28/6/2026).
Nandang memaparkan analisis historis untuk membuktikan bahwa figur individu tidak pernah berdiri sendiri dalam kontestasi politik:
- Era Solo: Jokowi menang dengan dukungan penuh PDI Perjuangan sebagai kekuatan dominan di Jawa Tengah.
- Era Jakarta: Kemenangan diraih berkat koalisi solid antara PDIP dan Gerindra.
- Pilpres 2014 & 2019: Kemenangan didorong oleh gerbong besar partai politik, akademisi, masyarakat sipil, hingga keuntungan institusional sebagai petahana.
“Hari ini konteks politik telah berubah secara fundamental. Jokowi tidak lagi memegang kekuasaan negara, tidak lagi mengendalikan birokrasi, dan tidak lagi didukung oleh mesin politik lama (PDIP),” tegas Nandang.
Nandang memperingatkan adanya risiko overestimating personal influence kecenderungan pemimpin melebih-lebihkan pengaruh dirinya setelah meninggalkan jabatan.
Baca Juga: Ditanya Bro Ron Masih Kuat atau Tidak di Lampung, Jawaban Singkat Jokowi Bikin Heran
Ia menilai asumsi bahwa pengaruh pribadi Jokowi cukup untuk membawa partai baru seperti PSI menjadi kekuatan nasional perlu diuji secara objektif terhadap realitas saat ini.
“Sejarah menunjukkan yang sering kali hilang pascajabatan bukan kapasitas pemimpinnya, melainkan ekosistem kekuasaan yang dahulu menopangnya,” tambahnya.
Satu poin kritis yang disampaikan Nandang adalah mengenai orientasi politik keluarga yang kian menguat.
Meskipun berpolitik adalah hak konstitusional, konsentrasi energi seorang mantan kepala negara untuk memperluas pengaruh keluarga dapat memicu persepsi negatif di masyarakat.
“Dari perspektif etika politik, hal tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa kepentingan keluarga lebih dominan daripada kepentingan pelembagaan demokrasi. Hal ini berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap prinsip meritokrasi,” jelas Nandang.
Nandang menekankan bahwa warisan seorang negarawan sejati tidak hanya diukur dari apa yang dibangun saat berkuasa, tetapi juga dari kemampuannya untuk melepaskan kekuasaan (the art of letting go).
“Negarawan tahu kapan harus memimpin dan kapan memberi ruang bagi generasi berikutnya. Pemimpin yang terus berusaha mempertahankan pengaruh setelah masa jabatannya berakhir justru berisiko mengurangi nilai historis dari keberhasilan yang pernah ia bangun,” tuturnya.
Berita Terkait
-
Ditanya Bro Ron Masih Kuat atau Tidak di Lampung, Jawaban Singkat Jokowi Bikin Heran
-
Jokowi: Saya Masih Orang Kampung, Masih Orang Desa
-
Blusukan Terakhir di Lampung, Jokowi Sempatkan Jajan Es Kopi dan Rujak Buah
-
Falsafah Siri dan Pidato Presiden: Menakar Keadaban Lisan Pemimpin Kita
-
Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi, Sebut Politik Uang Gerus Penegakan Hukum
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Seberapa Kuat Militer Iran di Bawah 'Dewa Perang' Baru Mohsen Rezaei?
-
Ha Young Minta Maaf Tertulis Usai Buat Kegaduhan Soal Keluaga Pro-Jepang
-
Apa Saja Tuntutan Iran dan Amerika Serikat untuk Akhiri Perang di Selat Hormuz?
-
Update Kebakaran KMP Putri Yasmin: Korban Selamat Terus Bertambah, 39 Penumpang Baru Tiba di Lembar
-
Lisa BLACKPINK Diisukan Pacari Aktor Blue Pongtiwat Usai Kedapatan Makan Bersama
-
Jalur Sepeda Jakarta Mau Dihapus: Benarkah Sepi, Bikin Macet, dan Tak Dibutuhkan?
-
KMP Putri Yasmin Terbakar, Tim SAR Temukan 5 Perahu Karet Tanpa Awak di Lokasi
-
Weton Jodoh Ketemu 27 Artinya Apa? Ini Hasilnya Berdasarkan Perhitungan Primbon Jawa Kuno
-
Dulu Naik Pohon Cari Sinyal, Kini Warga Flores Timur Bisa Internetan dari Desa
-
Ini Dia Sosok Petinggi Militer AS Diamuk Tentara di Kapal Perang USS Abraham Lincoln, 7 Tewas