News / Internasional
Senin, 29 Juni 2026 | 08:21 WIB
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat setelah negosiasi tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Iran mendesak negara regional menutup fasilitas wilayah dari serangan asing guna meredam ketegangan Iran AS.

  • Baku tembak rudal merusak kepatuhan gencatan senjata sementara dan mengancam keamanan kapal pelayaran komersial.

  • Teheran menuntut penarikan total pasukan Israel dari Lebanon sebagai syarat mutlak perjanjian damai akhir.

Suara.com - Iran secara agresif mendesak negara-negara Timur Tengah untuk memblokir seluruh akses militer asing guna meredam eskalasi konflik udara di kawasan tersebut. Langkah protektif ini diambil demi memutus rantai serangan udara yang difasilitasi oleh pangkalan-pangkalan strategis di sekitar Teluk.

Ketegangan kawasan kini memasuki babak baru yang memaksa negara-negara tetangga memilih posisi diplomatik yang sangat krusial. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan komitmen kolektif ini secara langsung saat mengadakan pertemuan diplomatik tingkat tinggi di Baghdad.

Pihaknya menemui Perdana Menteri Irak Ali Faleh al-Zaidi untuk menggalang kekuatan regional dalam membendung intervensi militer Barat. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi panggung bagi Teheran untuk merumuskan langkah taktis dalam meredam apa yang mereka sebut sebagai perang paksaan.

Profil jet tempur f-47, pesawat canggih milik Amerika Serikat. [Wikipedia]

Iran memandang pembiaran fasilitas lokal sebagai bentuk keterlibatan tidak langsung dalam agresi yang merugikan stabilitas regional. Araghchi menyerukan agar negara-negara sekitar tidak mengizinkan wilayah atau fasilitas mereka dimanfaatkan sebagai batu loncatan serangan.

"Khususnya dengan mencegah pihak-pihak agresor menggunakan wilayah dan fasilitas mereka untuk melakukan serangan yang melanggar hukum terhadap Iran,” kata Abbas Araghchi dikutip dari situs Resmi Pemerintah Tasnimnews, Senin (29/6/2026).

Pernyataan keras ini muncul setelah rentetan drone dan rudal Teheran menyasar target militer strategis sekutu di kawasan Teluk.

Serangan balasan tersebut diklaim sebagai respons langsung atas gempuran udara yang sebelumnya menghantam fasilitas militer internal Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran meluas akan terjadinya serangan balasan susulan yang jauh lebih destruktif.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat menyatakan bahwa gelombang serangan udara dari Teheran gagal mengenai sasaran utama mereka. Kendati demikian, baku tembak ini menjadi ujian berat bagi kesepakatan awal penangguhan permusuhan selama 60 hari.

Proses negosiasi teknis yang sedang berjalan terancam bubar di tengah saling klaim superioritas militer kedua belah pihak. Sikap keras kepala dari masing-masing poros membuat stabilitas gencatan senjata sementara berada di titik nadir.

Baca Juga: Amerika: Perdamaian AS - Iran Tidak Batal, Meski Ada Baku Tembak

Ketidakpastian ini langsung berdampak buruk pada koridor laut internasional yang menjadi urat nadi perdagangan dunia. Para operator kapal komersial beserta awak mereka kini menghadapi kebingungan dan bahaya besar saat melintasi jalur perairan tersebut.

Krisis ini berakar dari rentetan ketegangan bersenjata jangka panjang yang terus melibatkan proksi regional dan kekuatan global di Timur Tengah. Upaya diplomatik untuk mengakhiri apa yang digambarkan Iran sebagai perang bentukan Amerika Serikat dan Israel terus mengalami kebuntuan yang rumit.

Meskipun situasi di lapangan memanas, pejabat senior pemerintahan Trump menyatakan bahwa pembicaraan lanjutan masih berada di jalur yang tepat. Konsensus awal yang dibentuk diharapkan mampu meredam benturan langsung antar-militer dalam beberapa hari ke depan.

Sebagai syarat mutlak, Iran menegaskan bahwa penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon harus menjadi bagian dari kesepakatan akhir dengan AS. Tuntutan tersebut kian mempersulit ruang negosiasi damai seiring pertempuran dengan Hizbullah yang terus menguras energi diplomatik kawasan.

Load More